Oleh Nur Nabila, mahasiswa D4 Fisioterapi Mahasiswa Universitas Binawan
DEPOKPOS – Penggunaan gadget yang semakin intensif dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk keperluan pekerjaan, pendidikan, maupun hiburan, berpotensi menimbulkan masalah kesehatan
muskuloskeletal, salah satunya nyeri leher (neck pain). Salah satu faktor risiko utama yang sering diabaikan adalah postur duduk yang tidak ergonomis saat menggunakan gadget.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara postur duduk dengan kejadian nyeri leher pada pengguna gadget. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pengguna gadget yang memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.
Data postur duduk dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi ergonomi, sedangkan kejadian nyeri leher diukur menggunakan kuesioner Neck Disability Index (NDI) atau skala nyeri. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik yang sesuai, seperti uji chi-square atau uji korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara postur duduk tidak ergonomis dengan meningkatnya kejadian nyeri leher pada pengguna gadget. Semakin buruk postur duduk, semakin tinggi risiko terjadinya nyeri leher. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa postur duduk memiliki peran penting terhadap kejadian nyeri leher pada pengguna gadget. Oleh karena itu, diperlukan edukasi mengenai postur duduk ergonomis dan pengaturan waktu penggunaan gadget untuk mencegah terjadinya gangguan muskuloskeletal, khususnya nyeri leher.
Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan peningkatan penggunaan gadget seperti smartphone, tablet, dan laptop dalam kehidupan sehari-hari. Gadget digunakan secara luas untuk aktivitas akademik, pekerjaan, komunikasi, dan hiburan, sehingga durasi penggunaannya semakin panjang dan sering dilakukan dalam posisi duduk statis. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan, khususnya gangguan muskuloskeletal pada leher dan punggung bagian atas (Putra & Pristianto, 2023).
Salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling sering dilaporkan akibat penggunaan gadget adalah nyeri leher (neck pain). Nyeri leher didefinisikan sebagai rasa nyeri, kaku, atau ketidaknyamanan pada area tulang belakang servikal yang dapat mengganggu aktivitas fungsional dan menurunkan kualitas hidup. Studi terbaru menunjukkan bahwa prevalensi nyeri leher meningkat secara signifikan pada individu yang menggunakan gadget dalam durasi lama setiap harinya (Susilawati et al., 2024).
Postur duduk yang tidak ergonomis merupakan faktor risiko utama terjadinya nyeri leher pada pengguna gadget. Kebiasaan menundukkan kepala saat menatap layar, bahu membungkuk, serta posisi punggung yang tidak tersangga dengan baik dapat menyebabkan peningkatan beban biomekanik pada otot dan struktur leher. Posisi ini dikenal sebagai forward head posture atau text neck, yang telah terbukti berhubungan dengan meningkatnya ketegangan otot leher dan kejadian nyeri leher kronis (Rahayu & Trisnowati, 2023).
Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa dan pengguna smartphone aktif menunjukkan bahwa semakin buruk postur duduk saat menggunakan gadget, maka semakin tinggi risiko terjadinya nyeri leher. Studi internasional oleh Elvan et al. (2024) menemukan bahwa durasi penggunaan smartphone yang panjang disertai postur leher fleksi berkaitan signifikan dengan menurunnya daya tahan otot leher dan meningkatnya intensitas nyeri leher.
Hasil serupa juga dilaporkan dalam penelitian pada remaja dan pekerja kantoran, yang menunjukkan adanya hubungan antara posisi duduk tidak ergonomis dan kejadian neck pain (Putra & Pristianto, 2023).
Meskipun nyeri leher sering dianggap sebagai keluhan ringan, kondisi ini dapat berdampak pada penurunan produktivitas, konsentrasi, dan kualitas hidup apabila terjadi secara berulang atau kronis. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji hubungan antara postur duduk dengan kejadian nyeri leher pada pengguna gadget sebagai dasar dalam upaya pencegahan dan edukasi ergonomi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara postur duduk dengan kejadian nyeri leher (neck pain) pada pengguna gadget.
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan naratif sistematis yang bertujuan untuk mengkaji hubungan antara postur duduk dengan kejadian nyeri leher (neck pain) pada pengguna gadget. Sumber data diperoleh dari artikel ilmiah nasional dan internasional yang dipublikasikan pada rentang tahun 2021–2025 melalui basis data Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Garuda. Pencarian literatur dilakukan menggunakan kata kunci postur duduk, ergonomi, neck pain, nyeri leher, gadget, dan forward head posture dengan kombinasi operator Boolean. Artikel yang dipilih merupakan penelitian asli dengan teks lengkap yang relevan dengan topik, sedangkan artikel berupa opini, editorial, dan publikasi ganda dikecualikan. Literatur yang terpilih dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan cara membandingkan dan mensintesis temuan penelitian untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai hubungan postur duduk dengan kejadian nyeri leher pada pengguna gadget.
Berdasarkan hasil penelusuran dan seleksi literatur dari berbagai basis data ilmiah, diperoleh sejumlah artikel yang membahas hubungan antara postur duduk, penggunaan gadget, dan kejadian nyeri leher. Secara umum, hasil studi menunjukkan bahwa mayoritas penelitian melaporkan adanya hubungan yang signifikan antara postur duduk yang tidak ergonomis dengan meningkatnya kejadian nyeri leher pada pengguna gadget. Postur duduk yang paling sering dikaitkan dengan nyeri leher adalah posisi kepala menunduk ke depan (forward head posture), bahu membungkuk, serta punggung yang tidak tersangga dengan baik saat menggunakan gadget dalam waktu lama (Putra & Pristianto, 2023).
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa durasi penggunaan gadget menjadi faktor pendukung yang memperkuat hubungan antara postur duduk dan nyeri leher. Studi pada remaja dan dewasa muda menemukan bahwa penggunaan gadget lebih dari 4–6 jam per hari dengan postur duduk yang buruk meningkatkan risiko terjadinya nyeri leher secara signifikan (Susilawati et al., 2024). Hasil serupa dilaporkan oleh (Rahayu dan Trisnowati, 2023) yang menyatakan bahwa posisi penggunaan smartphone yang tidak ergonomis berhubungan dengan peningkatan keluhan nyeri leher pada kelompok usia produktif. Selain itu, penelitian internasional menunjukkan bahwa pengguna smartphone dengan kebiasaan menundukkan leher dalam waktu lama mengalami penurunan daya tahan otot leher dan peningkatan intensitas nyeri. (Elvan et al., 2024) melaporkan bahwa sudut fleksi leher yang besar saat penggunaan gadget berkaitan dengan meningkatnya tekanan biomekanik pada struktur servikal, sehingga memicu nyeri leher dan kelelahan otot.
Hasil studi literatur menunjukkan bahwa selain postur duduk dan durasi penggunaan gadget, faktor kurangnya variasi posisi tubuh juga berkontribusi terhadap kejadian nyeri leher pada pengguna gadget. Beberapa penelitian melaporkan bahwa pengguna gadget cenderung mempertahankan posisi duduk dan leher yang sama dalam waktu lama tanpa diselingi perubahan posisi atau peregangan, sehingga meningkatkan ketegangan otot leher secara statis dan berkelanjutan (Elvan et al., 2024). Selain itu, tingkat pengetahuan ergonomi pengguna gadget juga berpengaruh terhadap kejadian nyeri leher. Studi pada mahasiswa dan remaja menunjukkan bahwa responden dengan pemahaman ergonomi yang rendah cenderung memiliki postur duduk yang tidak ergonomis dan melaporkan keluhan nyeri leher lebih sering dibandingkan responden yang memiliki pengetahuan ergonomi yang baik (Rahayu & Trisnowati, 2023).
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa intensitas penggunaan gadget berhubungan dengan tingkat keparahan nyeri leher. Pengguna dengan intensitas penggunaan tinggi tidak hanya mengalami nyeri leher ringan, tetapi juga keluhan tambahan seperti kekakuan leher, nyeri menjalar ke bahu, serta keterbatasan rentang gerak leher. Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dengan postur duduk yang buruk dapat memperparah gangguan muskuloskeletal pada leher (Susilawati et al., 2024).
Hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa postur duduk memiliki peran penting terhadap kejadian nyeri leher pada pengguna gadget. Postur duduk yang tidak ergonomis menyebabkan distribusi beban yang tidak seimbang pada otot dan tulang belakang servikal. Posisi kepala yang condong ke depan meningkatkan beban pada leher secara signifikan, sehingga otot harus bekerja lebih keras untuk menopang kepala, yang pada akhirnya memicu ketegangan otot dan nyeri leher (Putra & Pristianto, 2023).
Temuan ini sejalan dengan konsep text neck syndrome, yaitu kondisi akibat penggunaan gadget dengan posisi leher fleksi dalam waktu lama. Studi terbaru menyebutkan bahwa semakin lama durasi penggunaan gadget dengan postur leher menunduk, maka semakin besar risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal, termasuk nyeri leher kronis (Susilawati et al., 2024). Hal ini diperkuat oleh penelitian (Rahayu dan Trisnowati, 2023) yang menyatakan bahwa postur tubuh saat menggunakan smartphone lebih berpengaruh terhadap nyeri leher dibandingkan faktor usia atau jenis kelamin. Selain postur, durasi penggunaan gadget juga berperan sebagai faktor risiko tambahan. (Elvan et al., 2024) menjelaskan bahwa penggunaan smartphone dalam waktu lama tanpa diselingi istirahat menyebabkan kelelahan otot leher dan menurunnya daya tahan otot, sehingga meningkatkan persepsi nyeri. Oleh karena itu, kombinasi antara durasi penggunaan yang panjang dan postur duduk yang tidak ergonomis menjadi faktor utama terjadinya nyeri leher pada pengguna gadget.
Temuan lanjutan dari hasil studi literatur ini memperkuat bahwa nyeri leher pada
pengguna gadget merupakan kondisi multifaktorial yang tidak hanya dipengaruhi oleh postur
duduk dan durasi penggunaan, tetapi juga oleh kebiasaan statis dan rendahnya kesadaran
ergonomi. Kurangnya variasi gerak selama penggunaan gadget menyebabkan kontraksi otot
leher yang berkepanjangan, sehingga menghambat sirkulasi darah dan mempercepat kelelahan
otot, yang pada akhirnya memicu timbulnya nyeri leher (Elvan et al., 2024). Rendahnya
pengetahuan ergonomi juga menjadi faktor penting yang menjelaskan tingginya kejadian nyeri
leher pada pengguna gadget. Banyak individu belum menyadari bahwa posisi kepala yang
menunduk, penggunaan gadget di bawah garis pandang mata, serta duduk tanpa sandaran
punggung yang memadai dapat meningkatkan beban pada tulang belakang servikal. Temuan
ini sejalan dengan penelitian Rahayu dan Trisnowati (2023) yang menyatakan bahwa edukasi
ergonomi berperan penting dalam menurunkan risiko nyeri leher akibat penggunaan
gadget.Selain itu, peningkatan intensitas dan frekuensi penggunaan gadget turut memperburuk
kondisi nyeri leher. Penggunaan gadget dalam waktu lama tanpa jeda istirahat menyebabkan
akumulasi kelelahan otot dan menurunnya daya tahan otot leher. Penelitian oleh Susilawati et
al. (2024) menunjukkan bahwa nyeri leher yang awalnya bersifat ringan dapat berkembang
menjadi keluhan kronis apabila faktor risiko tersebut tidak dikendalikan.
Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa upaya pencegahan nyeri
leher pada pengguna gadget harus dilakukan secara komprehensif, meliputi perbaikan postur
duduk, pengaturan durasi penggunaan gadget, peningkatan variasi gerak, serta peningkatan
pengetahuan dan kesadaran ergonomi. Penerapan prinsip ergonomi yang baik diharapkan dapat
mengurangi beban biomekanik pada leher dan menurunkan kejadian nyeri leher di era digital.
Berdasarkan hasil studi literatur yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
postur duduk yang tidak ergonomis berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya
kejadian nyeri leher (neck pain) pada pengguna gadget. Kebiasaan menggunakan gadget
dengan posisi kepala menunduk ke depan (forward head posture), bahu membungkuk, serta
posisi duduk yang tidak didukung sandaran punggung yang baik menyebabkan peningkatan
beban biomekanik pada tulang belakang servikal dan otot leher, sehingga memicu ketegangan
otot dan keluhan nyeri leher. Selain faktor postur duduk, durasi dan intensitas penggunaan
gadget yang panjang, kurangnya variasi gerak selama penggunaan, serta rendahnya tingkat
pengetahuan dan kesadaran ergonomi turut memperbesar risiko terjadinya nyeri leher.
Studi literatur ini juga menunjukkan bahwa nyeri leher akibat penggunaan gadget
tidak hanya bersifat sementara, tetapi berpotensi berkembang menjadi gangguan
muskuloskeletal yang lebih serius apabila kebiasaan postur duduk yang buruk terus
dipertahankan. Oleh karena itu, penerapan prinsip ergonomi dalam penggunaan gadget, seperti
menjaga posisi kepala sejajar dengan tulang belakang, mengatur ketinggian layar sesuai garis
pandang mata, serta melakukan jeda istirahat dan peregangan secara berkala, sangat penting
untuk mengurangi risiko nyeri leher. Kesimpulan ini menegaskan perlunya upaya promotif dan
preventif melalui edukasi ergonomi guna meningkatkan kualitas kesehatan dan kenyamanan
pengguna gadget di era digital.

