DEPOKPOS – Ngopi sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia terutama di Tulungagung. Tetapi ngopi di Tulungagung memiliki cerita yang berbeda yang dimana kini semakin banyak coffeshop di Tulungagung dengan menu ekspresso, latte, dan cappuccino dengan desain yang estetik, masih ada budaya ngopi dengan penuh cerita dan makna yaitu kopi cethe.
Namun di era modern yang instagramable ini tradisi nyethe (mengoles/membatik ampas kopi ke batang rokok) apakah masih dikenal di kalangan anak muda?
Kopi cethe diracik dengan sedemikian rupa menggunakan bubuk kopi yang sangat halus sehingga dapat menghasilkan ampas kopi yang kental sehingga identik untuk dioleskan ke batang rokok.
Tradisi nyethe berawal dari kebiasaan para petani di Tulungagung pada tahun 1980-an. Setelah seharian bekerja, mereka mampir ke warung kopi. Untuk menambah rasa kenikmatan merokok, mereka menambahkan cethe untuk dioleskan ke batang rokok.
Kebiasaan ini menjadi seni visual yang rumit, di mana ampas kopi diukir membentuk batik ataupun tulisan dengan menggunakan alat sederhana seperti tusuk gigi. Maka dari itu nyethe disebut sebagai “batik rokok”.
Bagi masyarakat Tulungagung, kopi cethe bukan hanya sekedar ngopi biasa tetapi sebagai tradisi, ruang perkumpulan dan simbol persahabatan.
Kopi diseduh dengan air panas, disajikan di cangkir kecil dan dinikmati sambal merokok, itu merupakan ciri khas masyarakat Tulungagung.
Ampas kopi yang sangat kental dan lembut kemudian digunakan untuk melukis di permukaan batang rokok dengan sentuhan ujung jari sehingga menciptakan gambar yang unik dan kreatif sebagai simbol kekreatifan masyarakat.
Oleh karena itu Tulungagung mendapat julukan kutho cethe kaena masyarakat tulungagung masih melestarikan kebiasaan tersebut manjadikan warisan budaya.
Kehadiran warung kopi modern atau caffe membawa perubahan yang signifikan bagi anak muda Indonesia terutama perubahan cara mengkonsumsi kopi. Banyak anak muda yang tertarik dengan menu menu berbahasa asing dan tempat nongkrong yang aesthetic dengan nuansa caffe, music yang soft, Wi-Fi, dan interior aesthetic.
Tempat tersebut banyak diminati anak muda di zaman sekarang sehingga kopi tradisional kini perlahan mulai ditinggalkan.
Kopi cethe, yang disajikan beserta ampas yang kental, secara visual kurang menarik perhatian anak muda daripada Latte art ataupun sejenisnya. Menurut hasil survey kalangan anak muda Tulungagung lebih tertarik dengan coffeshop modern.
Padahal kopi cethe tidak ada nilai yang tergantikan. Di warung kopi yang sederhana, tidak ada sekat antara pedagang, petani, sopir, dan mahasiswa. Disana mereka duduk bersama, bercerita, tertawa bersama dan tidak membeda bedakan antara yang muda dan yang tua.
Tradisi mengajarkan artinya kehangatan dan kesetaraan di tengah hiruk pikuk di era modernitas.
Meskipun diera modern, kini kopi cethe tetap bertahan hingga saat ini. Beberapa anak muda mulai melirik kembali kopi cethe sebagai identitas lokal budaya.
Ada beberapa caffe yang mencoba menggabungkan nuansa modern dengan kopi cethe sebagai bentuk pelestarian budaya.
Warung kopi cethe memiliki nilai harga yang terjangkau sehingga menjadikan pusat interaksi merangkul semua kalangan, berbeda dengan coffeshop yang kadang seseorang memiliki perspektif yang eksklusif ketika mendengar kata coffeshop.
Pada akhirnya, kisah Kopi Cethe di Tulungagung adalah cerminan dari pergulatan budaya lokal dalam menghadapi arus modernisasi.
Kehadiran coffeeshop dengan estetika, menu global, dan fasilitas modern memang telah mengubah cara anak muda mengonsumsi kopi.
Fenomena ini sah-sah saja, sebab setiap era memiliki seleranya sendiri. Namun, nilai sejati
Kopi Cethe tidak terletak pada visualisasinya yang instagramable, melainkan pada filosofi yang terkandung di dalam cangkir kecilnya dan ampas kental yang menjadi “batik rokok.”
Kopi Cethe adalah pengingat akan kehangatan dan kesetaraan sosial, sebuah ruang di mana identitas hilang, dan yang tersisa hanyalah manusia yang berbagi cerita, dari petani hingga akademisi, dengan harga yang terjangkau bagi semua.
Julukan “Kutho Cethe” bukanlah sekadar nama, melainkan tanggung jawab budaya.
Walaupun tantangan modernitas tak terelakkan, munculnya inisiatif anak muda untuk merangkul kembali tradisi ini dan upaya beberapa kafe modern yang mengintegrasikan Cethe membuktikan satu hal: warisan budaya yang memiliki makna mendalam akan selalu menemukan cara untuk bertahan.
Kopi Cethe akan terus menyajikan bukan hanya kenikmatan pahit yang kental, tetapi juga pelajaran berharga tentang akar, komunitas, dan identitas sejati di tengah hiruk pikuk dunia digital.
Ditulis oleh Achmad Alvyn Aldiansyah dan Galang Andika Putra, mahasiswa UIN SATU Tulungagung
