DEPOKPOS – Setiap menjelang pekan Paskah, Larantuka tidak hanya menjadi kota devosi – ia berubah menjadi ruang perjumpaan antara waktu, iman, dan sejarah. D
alam keheningan yang seakan menahan napas, ribuan peziarah dari berbagai penjuru Nusantara melangkah perlahan mengikuti prosesi Semana Santa.
Tak ada suara bising, tak ada sorakan. Hanya detak langkah manusia yang membawa beban doa, harapan, dan penyesalan masing-masing.
Larantuka menjadi satu dari sedikit tempat di Indonesia di mana kesunyian justru menjadi bahasa yang paling fasih.
Semana Santa telah hidup selama lebih dari empat abad, diwarisi dari tradisi Portugis yang berbaur harmonis dengan budaya Lamaholot.
Namun, ia bukan sekadar peninggalan kolonial yang dipertahankan demi romantisme masa lalu. Semana Santa adalah identitas.
Dalam setiap turo (rumah adat ritual), setiap lilin yang menyala, dan setiap lantunan doa bahasa Latin yang terdengar kuno tetapi menyentuh hati, masyarakat Flores Timur sedang menegaskan siapa diri mereka: sebuah komunitas yang menjaga iman dengan kesungguhan, bukan seremonial
Prosesi laut pada Sesta Vera menjadi puncak simbolik tradisi ini.
Patung Tuan Menino dibawa mengelilingi teluk kecil Larantuka, diiringi perahu yang bergerak perlahan, seolah seluruh laut pun ikut bersujud.
Di daratan, para konfreria (saudara-saudara jaga prosesi), berpakaian hitam dalam keheningan yang nyaris mistis, mengawal perjalanan arca Tuan Ma dan Tuan Ana.
Semua bergerak dengan ritme yang sama: lambat, tertib, dan penuh hormat. Keindahan Semana Santa bukan pada dramanya, tetapi pada disiplin batin yang langka di zaman serba tergesa ini.
Namun, di tengah kesakralan yang bertahan ratusan tahun, modernisasi datang membawa tantangannya sendiri. Larantuka yang dulu sunyi kini menjadi magnet wisata rohani.
Sebagian peziarah datang dengan hati siap berdoa, tetapi sebagian lainnya hanya ingin mengabadikan momen. Kamera, gawai, dan drone mulai “mengambil alih” ruang suci yang seharusnya menjadi ruang intim antara manusia dan Tuhannya.
Keheningan yang dulu mencekam, kini sesekali tercabik oleh kilatan flash dan bisik-bisik pengunjung yang lupa bahwa mereka sedang berada dalam ritual suci.
Komersialisasi muncul perlahan namun pasti. Penginapan penuh dengan harga melambung, suvenir bertema Semana Santa dijual di sudut-sudut kota, hingga munculnya jasa transportasi dadakan.
Semua ini tidak salah, tetapi rentan mengikis makna. Jika Semana Santa berubah menjadi atraksi budaya, bukan devosi hidup, maka ia kehilangan jantungnya.
Yang paling dikhawatirkan adalah generasi muda. Di tengah arus digital, apakah mereka akan memahami mengapa harus berjalan kaki puluhan kilometer dalam diam? Mengapa harus melepaskan hiburan sementara untuk memurnikan hati dalam prosesi? Tanpa pendidikan budaya yang konsisten, generasi berikutnya mungkin hanya mewarisi ritual tanpa memahami ruhnya.
Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan memiliki peran.
Gereja harus menjadi penjaga utama kesakralan.
Pemda perlu mengatur batas pariwisata agar tidak mengganggu ruang doa.
Komunitas adat Lamaholot perlu terus menanamkan nilai-nilai tutur, hormat, dan kesunyian kepada anak-anak.
Dan kita semua, baik peziarah maupun wisatawan, harus belajar membedakan mana yang boleh direkam dengan kamera, dan mana yang hanya boleh direkam dengan hati.
Semana Santa adalah warisan tak ternilai—bukan hanya bagi Flores Timur, tetapi bagi Indonesia. Ia adalah bukti bahwa tradisi bukan sesuatu yang usang, tetapi sesuatu yang tetap hidup selama masih dijaga dengan kerendahan hati.
Pada akhirnya, keindahan Semana Santa bukan pada jumlah peziarah atau sorotan media, tetapi pada ketulusan masyarakat kecil yang menjaga tradisi besar dengan keheningan yang suci. Jika kesunyian itu hilang, maka hilanglah jantung Semana Santa. Tetapi selama masyarakat Larantuka masih berjalan dalam iman, tradisi ini akan terus bernapas, apa pun tantangannya.
Penulis : Agnes Benedikta Dae Apenobe
Mahasiswa S1 universitas Pamulang
