Oleh: Hikmah Zulfa Mutmainah
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Di tengah kehidupan yang terus berjalan, banyak orang yang terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya nya mereka menyimpan kegelisahan di dalam dirinya. Mulai dari tugas dan pekerjaan yang menumpuk, tuntutan hidup untuk selalu menjadi pribadi yang produktif, perbandingan sosial yang merajalela, sampai ketidakpastian masa depan yang seringkali membuat hati dan pikiran terasa penuh dan lelah. Sehingga, tak heran jika isu kesehatan mental bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan tapi juga ada hal penting yang terkadang luput dari perhatian, yaitu kebutuhan spiritual manusia.
Psikologi dapat membantu kita untuk memahami emosi, pikiran dan perilaku akan tetapi kita juga membutuhkan akidah dan ibadah yang kuat untuk mencari makna hidup, pedoman atau pegangan hidup, dan juga rasa aman. Akidah dan ibadah hadir bukan hanya sebagai pengganti psikologi tapi juga sebagai pelengkap yang dapat menguatkan iman serta ketenangan hidup.
GELISAH DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI
Dalam psikologi, gelisah dan cemas muncul ketika seseorang merasa hilang kendali, pikiran kalut, dikelilingi oleh ketidakpastian hidup bahkan terbebani ekspektasi diri sendiri ataupun lingkungan yang terlalu tinggi. Pikiran yang terus berputar dan bekerja tanpa henti sehingga menimbulkan pikiran yang berlebihan atau yang biasa dikenal dengan istilah overthinking. Hal ini dapat memberikan dampak yang kurang baik pada tubuh kita sehingga tubuh mudah lelah, emosi yang tidak stabil, dan sulit tidur.
Kegelisahan bisa membuat seseorang merasa kosong dan kehilangan arah jika terus dibiarkan. Hal ini terjadi bukan karena seseorang itu tidak kuat akan tetapi manusia merupakan makhluk sosial yang memang diciptakan untuk tidak menanggung segalanya sendirian.
AKIDAH SEBAGAI PEGANGAN BATIN YANG MENGUATKAN
Akidah sebagai keyakinan dasar dalam Islam memberikan manusia cara pandang yang membuat tenang. Iman mengajarkan bahwa hidup tidak berjalan tanpa arah dan semua yang terjadi di kehidupan kita sudah dirancang dan direncanakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dengan sebegitu indahnya. Semua yang terjadi di kehidupan kita mulai dari peristiwa yang menyenangkan sampai musibah yang terjadi merupakan rencana Allah yang pastinya dibalik semua itu ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Keyakinan ini menumbuhkan rasa aman, bahkan saat keadaan tidak sesuai dengan harapan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan ketenangan dalam Al-Qur’an dengan sangat indah. Dalam QS. Ar-Ra’d: 28 Allah berfirman:
اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْب اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ketenangan yang sejati tidak hanya datang dari kehidupan yang sempurna, tapi ketenangan yang sejati datang dari hati yang selalu mengingat Allah dan percaya dengan segala rencananya. Ketenangan datang dari ibadah sebagai bentuk syukur kita kepada Allah atas apa yang telah diberikan. Akidah dapat menolong seseorang untuk menerima segala hal yang berada di luar kendali manusia tanpa harus menyerah atau putus asa. Kita mempunyai ruang untuk berharap dan berserah diri kepada Allah.
IBADAH SEBAGAI RUANG YANG AMAN BAGI JIWA
Akidah adalah pondasi dan ibadah adalah suatu proses untuk merawatnya. Ibadah bukan hanya sekedar kewajiban yang wajib dijalani tapi ibadah juga merupakan ruang untuk menumpahkan segala keluh kesah dan ruang yang tenang untuk istirahat dari rumitnya dunia.
Salat memberikan waktu khusus untuk berhenti dan istirahat sejenak serta menghadirkan kesadaran penuh. Doa menjadi wadah bagi kita untuk menumpahkan segala keluh kesah, mengungkapkan rasa takut, lelah, dan segala harapan tanpa harus berpura-pura kuat. Dzikir membantu pikiran yang kacau untuk kembali tenang karena dengan berdizikir hati terasa tentram dan damai. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 45:
وَا سْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ وَاِ نَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah bukan suatu kelemahan, tapi ibadah merupakan cara sehat untuk terus bertahan. Dalam psikologi modern, praktik yang bisa membantu menurunkan tingkat stress dan kecemasan adalah mindfulness dan refleksi diri.
KETIKA IMAN DAN PSIKOLOGI BERJALAN BERSAMA
Iman memiliki peranan penting dalam membentuk kekuatan mental seseorang. Dalam psikologi Islam, iman bukan hanya dipahami sebagai keyakinan akan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi juga sebagai sumber energi dan kekuatan spiritual yang dapat menumbuhkan ketenangan batin dan juga kesabaran. Menurut Fatimah dan Nasution (2025) dalam sebuah kajian psikologi Islam, psikologi islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keseimbangan antara aspek spiritual dan material serta menekankan peran agama dalam menjaga kesehatan mental. Islam menegaskan bahwa kesehatan mental bukan hanya ditentukan oleh faktor biologis ataupun faktor sosial melainkan kesehatan mental juga ditentukan oleh seberapa kuat iman seseorang melalui penempatan stres sebagai sarana pembentukan kesabaran, keikhlasan dan kedekatan kepada Allah.
Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan bantuan professional, karena iman dan psikologi dapat berjalan berdampingan. Akidah membentuk cara berpikir seseorang yang lebih lapang, ibadah berperan dalam kontrol dan kelola emosi, dan psikologi yang memberi alat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 286 :
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya diluar batas kemampuan seorang hamba. Setiap cobaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya sudah disesuaikan dengan kapasitas seorang hamba baik dari segi spiritual, mental dan fisiknya. Hal ini menunjukan bahwa lelah bukanlah kegagalan tapi lelah merupakan suatu proses penguatan diri dan peningkatan keimanan karena setiap orang memiliki batas dan membutuhkan bantuan baik dari segi spiritual maupun psikologis.
MENUJU KETENANGAN YANG LEBIH MANUSIAWI
Ketenangan bukan berarti hidup tanpa adanya masalah. Rasa tenang hadir ketika seseorang mampu menghadapi segala cobaan dan masalah hidup dengan hati yang lapang dan lebih kokoh. Akidah membantu kita untuk terus memahami hidup dan ibadah membantu kita untuk terus menjalani hidup.
Saat dunia terasa rumit dan tuntutan dunia semakin berat, iman bisa menjadi tempat pulang bagi jiwa yang lelah. Bukan untuk lari dari kenyataan, akan tetapi untuk menghadapi dengan lebih tenang dan penuh harapan. Karena pada akhirnya, tenang bukan tentang menghilangkan gelisah sepenuhnya, tapi ketenangan adalah tentang menemukan Allah di tengah kegelisahan yang kita alami.

