Scroll untuk baca artikel
Dunia Kampus

Pancasila yang Hidup di Sekitar Kita: Refleksi dari Hasil Wawancara

×

Pancasila yang Hidup di Sekitar Kita: Refleksi dari Hasil Wawancara

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Sebagai kelompok, kami melakukan wawancara dengan Kak Moza, seorang mahasiswi Jurnalistik semester 3, untuk memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kehidupan sehari-hari. Awalnya, kami mengira wawancara ini akan berlangsung biasa saja untuk kepentingan tugas, tetapi ternyata banyak hal yang membuka cara pandang kami tentang bagaimana Pancasila hadir dalam tindakan nyata di masyarakat.

Wawancara ini membuat kami sadar bahwa Pancasila bukan hanya teori yang diajarkan di ruang kelas, tetapi sesuatu yang benar-benar dipraktikkan tanpa kita sadari.

Ketika Tina bertanya tentang contoh kearifan lokal yang mencerminkan nilai Pancasila, jawaban Kak Moza langsung membuat kami berpikir ulang tentang kehidupan masyarakat Indonesia.

Ia mengatakan bahwa gotong royong di tempat tinggalnya masih menjadi budaya yang kuat. Bukan hanya untuk kegiatan besar, tetapi juga dalam hal-hal sederhana seperti membersihkan lingkungan atau membantu acara desa. Menurutnya:

“Gotong royong tuh sudah kayak tradisi turun-temurun. Semua orang turun tangan tanpa lihat suku atau agama.”

Dari cerita ini, kami melihat bagaimana sila Persatuan Indonesia tidak hanya menjadi teori abstrak, tetapi benar-benar hadir dan menjadi bagian dari kebiasaan warga.

Kami juga mendapatkan contoh toleransi antar keyakinan yang sangat menghangatkan hati. Kak Moza bercerita:

“Kalau Lebaran, umat Kristen bantu parkiran di masjid. Pas Natal, anak muda Muslim bantu pasang dekor di gereja.”

Sebagai kelompok, kami merasa inilah wujud paling nyata dari keberagaman yang saling menghormati sesuatu yang sering kita lihat sehari-hari, tetapi jarang kita renungkan.

Kami juga menanyakan contoh sikap ber-Pancasila yang terlihat di lingkungan kampus. Kak Moza menjawab dengan memberikan kisah-kisah sederhana namun penuh makna.

Ia menceritakan seorang temannya yang menemukan dompet dan langsung mengembalikannya, tanpa tergoda meskipun ada uang di dalamnya. Bagi kami, ini adalah gambaran kejujuran dan keadilan yang sejalan dengan sila kedua dan kelima.

Ia juga menyinggung seorang kakak tingkat yang aktif mengajak mahasiswa untuk menjaga lingkungan. Hal ini menunjukkan kepedulian sosial yang mencerminkan rasa kemanusiaan.

Selain itu, ia juga menyoroti budaya sopan santun di ruang kelas, seperti meminta izin sebelum keluar, menghargai orang yang sedang berbicara, dan merespons dengan baik. Menurut kami, hal-hal kecil seperti inilah yang membuat karakter Pancasila terasa nyata.

Ketika ditanya tentang musyawarah, Kak Moza memberikan contoh yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Ia bercerita mengenai pemilihan ketua kelas yang dilakukan dengan diskusi terbuka, bukan dengan voting cepat.

“Semua pendapat didengar. Bahkan yang pemalu pun diberi ruang untuk menyuarakan pendapatnya.”

Menurut kami, inilah esensi demokrasi Pancasila. Bukan siapa yang paling populer, tetapi siapa yang paling siap, paling mampu, dan paling dipercaya oleh semua.

Bagian yang paling menarik bagi kelompok kami adalah ketika Kak Moza menjelaskan bagaimana ia memaknai Pancasila sebagai dasar filsafat bangsa.

Ia mengatakan: “Pancasila itu cara berpikir. Fondasi etika bagaimana cara kita memperlakukan manusia lain.”

Kami merasa pandangan ini sangat mendalam. Baginya, Pancasila bukan hanya asas negara, melainkan pedoman moral dalam bersikap mulai dari objektivitas dalam jurnalisme, menjaga keberimbangan informasi, hingga memperjuangkan keadilan sosial.

Sebagai kelompok, kami menyadari bahwa cara Kak Moza memandang Pancasila sangat relevan bagi generasi muda.

Terakhir, kami bertanya apakah Pancasila masih relevan di masa sekarang. Kak Moza menjawab dengan mantap bahwa Pancasila justru semakin penting, terutama ketika media sosial sering memicu konflik.

“Nilai Pancasila itu bagaikan lem yang menyatukan kita.”

Kami setuju. Dalam keluarga, kampus, maupun masyarakat, masih banyak contoh gotong royong dan toleransi yang menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila tetap hidup.

Dari wawancara ini, kami sebagai kelompok belajar bahwa Pancasila bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Ia hadir dalam tindakan kecil, kebiasaan turun-temurun, musyawarah, kejujuran, toleransi, dan cara kita memperlakukan sesama.

Pancasila tidak menuntut kita melakukan hal besar; ia hanya mengajak kita untuk terus menjadi manusia yang adil, beradab, dan saling menghargai.

Wawancara ini tidak hanya menambah pengetahuan kami, tetapi juga membuat kami melihat Indonesia dengan cara yang lebih hangat dan lebih optimis.

# Blog ini ditulis berdasarkan pengalaman dan hasil wawancara kelompok untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Pendidikan Pancasila. Mohon tidak menyalin atau menggunakan ulang isi tulisan tanpa izin

Anggota Kelompok 5:

1. Diva Jauza Az-Zahra
2. Aqilah Mutia Khansa
3. Trie Agusthin Ferdina
4. Anita Nurul Fajriyah
5. Ahmad Fachruddin
6. Fadel Sidie Sabri