DEPOKPOS – Tidak sedikit mahasiswa yang mencoba mencari penghasilan tambahan di sela-sela kesibukan kuliah. Ada yang membuka usaha kecil-kecilan, menjadi freelancer, berjualan secara online, hingga membuat konten di media sosial. Selain ingin memiliki uang sendiri, sebagian mahasiswa juga ingin memanfaatkan waktu luang untuk mencoba hal baru. Kegiatan ini dikenal dengan istilah side hustle, yaitu pekerjaan atau usaha sampingan yang dilakukan di luar kegiatan utama. Namun, apakah kegiatan ini benar-benar menguntungkan, atau justru menambah beban bagi mahasiswa?
Salah satu alasan mahasiswa memilih side hustle adalah keinginan untuk lebih mandiri. Dengan penghasilan sendiri, mereka bisa memenuhi kebutuhan pribadi tanpa selalu bergantung pada orang tua, dan proses ini ikut membentuk kedewasaan (Putri & Wahyudi, 2026). Pekerjaan sampingan juga dapat menjadi ruang belajar menghadapi dunia kerja. Mahasiswa yang berjualan, misalnya, bisa belajar melayani pelanggan, memasarkan produk, dan mengatur waktu, sedangkan mahasiswa yang menjadi freelancer dapat mengembangkan keterampilan sesuai bidangnya. Pengalaman seperti ini bisa menjadi bekal yang berguna setelah lulus.
Meski begitu, menjalankan side hustle tidak selalu mudah. Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab utama, seperti menghadiri kelas, mengerjakan tugas, dan mempersiapkan ujian. Penelitian Mardelina dan Muhson (2017) di Jurnal Economia menemukan bahwa mahasiswa yang bekerja memiliki waktu belajar lebih sedikit dan prestasi akademik lebih rendah daripada mahasiswa yang tidak bekerja dalam sampel penelitian mereka. Beban ganda ini juga dapat menimbulkan kelelahan fisik dan emosional (Putri & Wahyudi, 2026). Namun, dampaknya tidak sama bagi semua mahasiswa, termasuk antara mahasiswa penuh waktu dan paruh waktu (Darolia, 2014). Artinya, tidak semua pekerjaan sampingan berdampak buruk, tetapi mahasiswa perlu mempertimbangkan beban kegiatan yang mereka jalani.
Karena itu, menjalankan side hustle membutuhkan kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas. Manajemen waktu yang baik berkaitan dengan prestasi akademik yang lebih baik pada mahasiswa yang bekerja (Inayah dkk., 2023), dan setiap mahasiswa umumnya punya strategi sendiri untuk menjaga keseimbangan antara kuliah dan pekerjaan (Hamra & Widiasih, 2024). Pekerjaan yang dipilih idealnya sesuai dengan jadwal kuliah, dan mahasiswa tidak memaksakan diri mengambil terlalu banyak pekerjaan sekaligus. Misalnya, mahasiswa bisa memulai usaha kecil dengan sistem pre-order atau mengambil pekerjaan freelance sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia. Penghasilan tambahan memang menyenangkan, tetapi kesehatan, waktu istirahat, dan tanggung jawab akademik tetap perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, side hustle bisa menjadi peluang yang bermanfaat bagi mahasiswa selama prioritas akademik tetap terjaga dan dijalankan dengan perencanaan yang matang. Tanpa perencanaan, kegiatan ini justru bisa menjadi beban. Kuncinya bukan sekadar seberapa banyak uang yang diperoleh, melainkan bagaimana mahasiswa mampu menyeimbangkan pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan pribadi. Sebab, pengalaman dan penghasilan memang penting, tetapi menjaga keseimbangan juga merupakan bagian dari proses belajar menjadi lebih mandiri.
Maytsa Aqeela Sagitra
Mahasiswi Universitas Tazkia
