DEPOKPOS – Blockbuster didirikan pada tahun 1985 dan menjadi raksasa dalam industri penyewaan kaset video, DVD, dan game. Pada masa kejayaannya, Blockbuster memiliki lebih dari 9.000 toko di seluruh dunia.
Pada tahun 2000, Netflix yang saat itu masih merupakan bisnis kecil sempat menawarkan kepada Blockbuster bisnis mereka seharga 50 juta dolar. CEO Blockbuster, John Antioco menolak penawaran tersebut dengan alasan target audiens yang dimiliki Netflix terlalu kecil. Ditambah arus keuangan Netflix sedang minus saat itu.
Puncaknya, di tahun 2004 Blockbuster memiliki 84.300 karyawan di seluruh dunia dengan 9.094 cabang. Disaat yang bersamaan pula, Netflix mulai bertumbuh dengan pace yang lebih cepat.
Hal ini karena Netflix memilki business model yang berbeda dengan Blockbuster. Netflix saat itu berupa penyewaan DVD berdasarkan subscription, dimana DVD akan dikirimkan ke alamat penyewa.
Hingga, pada tahun 2014, Blockbuster menutup sebagian besar tokonya yang pada akhirnya tutup total, menyisakan satu toko yang masih beroperasi sebagai kenangan di Bend, Oregon, Australia.
Kesalahan dalam Manajemen Risko Blockbuster
Dari penggalan kisah Blockbuster di atas, penting sekali bagi pelaku usaha agar lebih cermat dalam mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan risiko yang akan terjadi.
Ada beberapa poin kesalahan yang di lakukan oleh Blockbuster, yaitu:
1. Mengabaikan Inovasi Teknologi dan Perbaikan Model Bisnis
Blockbuster terlalu mengandalkan pada cara tradisional (rental fisik di toko) dan gagal beradaptasi dengan tren digital, seperti layanan streaming yang dipelopori Netflix. Dan juga Blockbuster terlalu mengandalkan model bisnis lama untuk menambah market share mereka, dimana tidak sedikit dana yang dikeluarkan setiap kali mereka membuka outlet baru.
2. Menolak Kerja Sama dengan Netflix
Pada tahun 2000, Netflix menawarkan kemitraan kepada Blockbuster. Netflix ingin bekerja sama untuk mengintegrasikan layanan rental online dan streaming ke dalam sistem Blockbuster. Namun Blockbuster menolak penawaran tersebut dengan alasan target audiens yang dimiliki Netflix terlalu kecil. Disini Blockbuster gagal menilai ancaman dari pesaing baru dan mengabaikan potensi pertumbuhan model bisnis berbasis langganan serta streaming.
3. Gagal Merespons Tren Konsumen
Blockbuster gagal merespons perubahan tren pada konsumen yang menginginkan kenyamanan menonton dari rumah. Sehingga Blockbuster terlambat mengubah strategi bisnis untuk dunia digital, dan tidak berhasil mendirikan platform streaming yang mampu bersaing dengan Netflix yang semakin naik.
Dari beberapa poin kesalahan Blockbuster, dapat kita ambil pelajaran sebagai berikut:
1. Adaptasi Perkembangan Teknologi dan Evaluasi Model Bisnis
Setiap perusahaan harus siap dengan perubahan perkembangan teknologi yang muncul, serta selalu evaluasi dan mengupgrade model bisnisnya agar tetap berkembang dan tidak tertinggal dengan pesaing-pesaing.
2. Evaluasi terhadap Potensi Pasar Baru
Meskipun pasar baru terlihat kecil, jangan pernah sekalipun kita meremehkannya bisa saja pasar baru itu akan berkembang menjadi peluang besar. Kolaborasi yang strategis dapat membantu mempercepat adaptasi terhadap perubahan pasar.
3. Harus Peka Terhadap Tren Pasar
Jangan abaikan tren dan perilaku konsumen, meskipun bisnis saat ini terlihat baik-baik saja. Sebuah perusahaan harus selalu memperhatikan dan merespons dengan bijak apa yang pasar (konsumen) inginkan.
Dari kesalahan Blockbuster kita dapat mengambil pelajaran bahwa adaptasi, inovasi, dan kepekaan terhadap perubahan pasar adalah kunci keberlanjutan bisnis. Perusahaan yang sukses adalah mereka yang dapat membaca tren, memanfaatkan teknologi, dan selalu mencari cara baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dan juga betapa pentingnya manajemen risiko untuk kita ketahui.
Zaid Abdulhafidz
