DEPOKPOS – Mubalighah Kota Depok, Ari Herlina menyatakan bahwa tatkala membicarakan seorang pemimpin yang terbaik, pastilah dia lahir dari generasi terbaik. Hal tersebut disampaikannya dalam Forum Kajian Keluarga Sakinah: Generasi Pemenang Akhir Zaman, (25/02/2024) di Masjid Al-Huda, Depok.
Lanjutnya, kaum Muslim banyak berkontribusi dalam kemajuan dan peradaban dunia hingga melahirkan generasi terbaik dalam pembentukan Rasulullah SAW.
“Generasi terbaik di antaranya Iyash bin Muawiyah dan Muhammad bin Idris as syafii, yang mampu memberikan fatwa di usia kurang dari 15 tahun. Lalu ada Abdullah bin Zubair yang ikut berperang di usia 8 tahun, Imam Nawawi yang menelurkan berjilid-jilid kitab di usia 20 tahun, Imam ahmad dan Imam Bukhari mampu mengumpulkan dan hafal lebih dari 1 juta hadist, lalu ada Panglima perang penakluk konstantinopel Muhammad Al Fatih.” ungkapnya di hadapan puluhan peserta kajian.
“Pertanyaannya bagaimana hal itu bisa dilakukan?” tanyanya dengan penuh semangat.
Jelasnya, generasi-generasi pada masa itu adalah generasi terbaik yang memiliki keimanan, ilmu, keberanian dan kekuatan. Sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 139, “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
“Ada pula hadits yang mengatakan, ‘Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar’ karena dikatakan imannya Abu Bakar sebaik-baik iman menusia di dunia,” terangnya.
Dengan banyaknya fakta, menurut Mba Ari, sapaan akrabnya, tentang generasi terbaik yang telah ditelurkan kemudian dari ayat-ayat Allah yang mendorong kaum Muslim untuk menjadi pemimpin yang terbaik dan terhebat.
“Maka kita haruslah bercermin kepada para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in sebagai contoh generasi para pemimpin, mereka senantiasa melakukan ihsanul amal dalam setiap aktivitasnya, bertawakal kepada Allah, menyampaikan kebenaran dan menerapkan seluruh syari’at-Nya,” pungkasnya. [] Sari Liswantini
