Oase  

Pernikahan Beda Agama, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

DEPOKPOS – Pernikahan merupakan bersatunya dua insan manusia yang saling mencintai dan menyayangi melalui ikatan resmi dan sakral dihadapan saksi dan keluarga dari pihak laki-laki dan perempuan. Pernikahan dilakukan oleh sepasang kekasih karena memiliki visi dan misi yang ingin diraih bersama-sama. Oleh karena itu, kedua belah pihak harus saling berkomitmen dan berjanji untuk bersungguh-sungguh menjalani kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan sebelumnya.

Didalam agama Islam sendiri, tujuan dari pernikahan diantaranya ialah sebagai bentuk taat kepada Allah SWT. Menikah adalah salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Maka dari itu, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menikah ketika sudah merasa siap secara lahir dan batin. Selain itu, menikah adalah bentuk sunnah Rasul yang agung dan juga dengan menikah artinya kita telah menyempurnakan separuh agama. Namun apa jadinya jika sebuah pernikahan dilangsungkan oleh pasangan yang berbeda agama?

BACA JUGA:  Ibadah dan Keajaibannya

Dalam pandangan Islam, kehidupan keluarga yang menikah beda agama tidak akan terwujud secara sempurna kecuali salah satu dari pasangan memutuskan untuk berpegang pada agama yang sama. Di dalam hukum Islam sendiri terdapat dua kategori diantaranya;

Hukum Pernikahan Beda Agama ada 2 kategori:

Wanita muslimah dilarang menikahi laki-laki non-Islam, hal tersebut Allah tegaskan dalam surat Al-baqarah : 221

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
Artinya:
“Dan janganlah kamu nikahi Perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya Perempuan beriman lebih baik daripada Perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu, dan janganlah kamu nikahkan (laki-laki) musyrik dengan (Perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman.”

Dengan adanya larangan pernikahan orang-orang musyrik dengan wanita Muslimah. Allah ingin menjaga fitrah seorang wanita yang menjaga kehormatannya menikah juga dengan laki-laki yang baik agamanya, tentunya sebaliknya dengan laki-laki. Lebih baik menikahi budak daripada menikah dengan laki-laki yang musyrik karena itu akan mempengaruhi agama wanita itu dengan mengajak masuk ke agamanya lalu melakukuan perbuatan yang dibenci Allah sehingga menjadi murtad.

BACA JUGA:  Ibadah dan Keajaibannya

Kemudian bagi wanita non-Islam jika dia masuk Islam tidak halal bagi suaminya yang kafir kecuali, suami tersebut menjadi mualaf. Kemudian Allah tegaskan kembali dalam surart Al-mumtahanah:10;

لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ وَاٰتُوْهُمْ مَّآ اَنْفَقُوْاۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۗ وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقُوْاۗ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِۗ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۝١٠
Artinya:
“ Tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap bersama atau berpegang tali (pernikahan)dengan Perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir ) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar(kepada mantan istrinya yang telah beriman).”

Maksud dari ayat diatas adalah ayat ini menekankan bahwa seorang muslim tidak boleh mempertahan pernikahan mereka jika suami atupun istri tetap pada keyakinan kafirnya. Karena, dalam Islam pernikahan yang sempurna adalah didasarkan pada kesamaan keyakinan, nilai dan pandangan. Jika pasangan tidak memiliki kesamaan tersebut maka dianjurkan untuk tidak melanjutkannya.

BACA JUGA:  Ibadah dan Keajaibannya

Kemudian, hendaklah kamu minta kembali mahar hal ini menjelaskan bahwa jika pernikahan dengan perempuan yang kafir tidak bisa dipertahankan muslim diperintahkan untuk mengembalikan mahar yang telah mereka berikan kepada perempuan. Ini menunjukan eksistensi keadilan dalam sebuah pernikahan. Begitu juga bagi wanita muslim berhak membiarkan suaminya kafir meminta kembali maharnya.