Mengenal Istilah Kafalah dalam Ekonomi Syariah

DEPOKPOSKafalah adalah jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga dalam rangka memenuhi kewajiban dari pihak kedua atau yang ditanggung (makful anhu) terkait tuntutan yang berhubungan dengan jiwa, hutang, barang, atau pekerjaan apabila pihak yang ditanggung cedera janji atau wanprestasi dimana pemberi jaminan bertanggung-jawab atas pembayaran kembali suatu hutang menjadi hak penerima jaminan.

Istilah Al-kafalah berasal dari bahasa Arab, yang berarti al-Dhaman (jaminan), hamalah (beban), dan za’amah (tanggungan). Secara terminologi muamalah, pengertian al-kafalah adalah mengumpulkan tanggung jawab penjamin dengan tanggung jawab yang dijamin dalam masalah hak atau hutang sehingga hak atau utang itu menjadi tanggung jawab penjamin. Sedangkan dalam teknis perbankan kafalah adalah pemberian jaminan kepada nasabah atas usahanya untuk melakukan kerja sama dengan pihak lain.

Kafalah memiliki landasan hukum dalam Al-Quran, Al-Hadist, dan ijma ulama. Dalam Al-Quran, penjelasan mengenai kafalah dapat ditemukan pada surat Yusuf ayat 72. Dalam hadist, transaksi kafalah telah terjadi sejak masa Rasulullah SAW. Adapun ijma ulama menyatakan bahwa kafalah diperbolehkan dalam Islam.

BACA JUGA:  DBS Foundation Hibahkan Rp8,2 Miliar bagi Empat Organisasi asal Indonesia

Terdapat beberapa jenis kafalah, antara lain:

1. Kafalah bin-Nafs: Jaminan atas diri sendiri.
2. Kafalah al-Mal: Jaminan atas harta atau barang.
3. Kafalah al-A’mal: Jaminan atas pekerjaan atau tugas.
4. Kafalah al-Dain: Jaminan atas hutang.
5. Kafalah al-Nafs: Jaminan atas jiwa.

Beberapa macam kafalah yang dapat ditemukan dalam konteks keuangan dan bisnis. Berikut ini adalah beberapa macam kafalah yang umumnya digunakan:

1. Kafalah al-Ujrah: Kafalah ini terkait dengan jaminan yang diberikan oleh seorang penjamin kepada pihak ketiga dengan imbalan atau biaya yang telah disepakati sebelumnya. Penjamin akan bertanggung jawab atas kewajiban yang ditanggung jika pihak yang ditanggung tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut.

2. Kafalah al-Mutlaqah: Kafalah ini merupakan jaminan yang diberikan tanpa adanya batasan waktu tertentu. Penjamin akan tetap bertanggung jawab sampai kewajiban yang ditanggung terpenuhi atau sampai ada kesepakatan untuk menghentikan kafalah.

BACA JUGA:  Suvarna Sutera Luncurkan Klaster Agra untuk Millenials

3. Kafalah al-Muqayyadah: Kafalah ini merupakan jaminan yang diberikan dengan batasan waktu tertentu. Penjamin hanya bertanggung jawab sampai batas waktu yang telah ditentukan. Setelah batas waktu tersebut berakhir, penjamin tidak lagi bertanggung jawab atas kewajiban yang ditanggung.

4. Kafalah al-Mudharabah: Kafalah ini terkait dengan jaminan yang diberikan oleh penjamin kepada pihak ketiga dalam sebuah perjanjian mudharabah. Penjamin akan bertanggung jawab atas kewajiban yang ditanggung jika pihak yang ditanggung tidak dapat memenuhi kewajiban dalam perjanjian mudharabah tersebut.

5. Kafalah al-Wujuh: Kafalah ini terkait dengan jaminan yang diberikan oleh penjamin kepada pihak ketiga terkait dengan transaksi jual beli. Penjamin akan bertanggung jawab atas kewajiban yang ditanggung jika pihak yang ditanggung tidak dapat memenuhi kewajiban dalam transaksi jual beli tersebut.

Kafalah memiliki beberapa manfaat yang dapat dirasakan oleh berbagai pihak. Berikut ini adalah beberapa manfaat kafalah:

1. Memberikan keamanan dan jaminan: Kafalah memberikan jaminan kepada pihak yang menerima kafalah bahwa kewajiban atau tanggung jawab yang dimiliki akan dipenuhi oleh penjamin. Hal ini memberikan rasa keamanan dan kepercayaan kepada pihak yang menerima kafalah.

BACA JUGA:  Suvarna Sutera Luncurkan Klaster Agra untuk Millenials

2. Memfasilitasi transaksi bisnis: Dalam dunia bisnis, kafalah dapat memfasilitasi terjadinya transaksi yang melibatkan pihak ketiga. Dengan adanya kafalah, pihak yang menerima kafalah dapat memperoleh kepercayaan dari pihak ketiga untuk melakukan transaksi bisnis.

3. Meningkatkan akses ke pembiayaan: Kafalah dapat membantu individu atau perusahaan untuk mendapatkan akses ke pembiayaan yang mungkin sulit untuk diperoleh tanpa adanya jaminan. Dalam hal ini, penjamin memberikan jaminan kepada pihak kreditur, sehingga memungkinkan peminjam untuk mendapatkan pinjaman atau kredit.