Oase  

Adanya Masalah Mempengaruhi Kesehatan Mental

DEPOKPOS – Kesehatan mental merupakan aspek utama dalam kehidupan sehari-hari. Kitab suci Al-Qur’an terdapat banyak nilai nilai dan tuntunan kehidupan kita, tetapi terkadang banyak orang sulit untuk memahami maknanya. Kesehatan mental dalam Al-Qur’an mengemukakan beberapa gangguan penyakit mental yang disebabkan karena jauhnya seorang hamba dari Tuhan-Nya.

Dalam teori evolusi psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Masalah dianggap sebagai pendorong untuk mengembangkan mekanisme adaptasi psikologis agar dapat bertahan dan berkembang.

Dalam salah satu ayat di dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”. (QS : Al baqarah ayat 155).

Dijelaskan dalam tafsir Kementrian Agama RI bahwa Qs. Al-Baqarah ayat 155 menyatakan bahwa kehidupan manusia memang penuh cobaan. Dan kami pasti akan menguji kamu untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Bersabarlah dalam menghadapi semua itu. Dan sampaikanlah kabar gembira, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup, yakni orang-orang yang apabila ditimpa musibah, apa pun bentuknya, besar maupun kecil, mereka berkata, inna’ lilla’hi wa inna’ ilaihi ra’ji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka berkata demikian untuk menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di dunia ini adalah milik Allah; pun menunjukkan keimanan mereka akan adanya hari akhir. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk sehingga mengetahui kebenaran.

BACA JUGA:  Tumbuh Bersama Al-Qur'an

Dari tafsir ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa semua manusia akan diuji oleh Allah sesuai batas kemampuannya. Dan sebaliknya, Allah tidak menguji melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Terkadang orang sering bertanya-tanya apa yang harus disyukuri ketika mereka hidup atau masih menderita. Manusia tidak menyadari bahwa saat itu kesabaran mereka diuji. Jika seseorang selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah, termasuk kesulitan sekalipun, maka Allah akan memberi kita banyak kebahagiaan.

BACA JUGA:  Tumbuh Bersama Al-Qur'an

Sebaliknya, kesabaran adalah hasil dari ketakwaan terhadap Allah. Sabar adalah sikap konsistensi seorang mukmin (umat beragama) dalam menjalani cobaan hidup dan ketentuan Allah. Sikap ini akan mendorong setiap mukmin untuk tetap berpegang teguh pada kitab Allah, bukan melepaskannya karena cobaan yang berat. Perilaku sabar ini akan membuat orang semakin dekat dengan Tuhan-Nya. Namun, jika seseorang diberi ujian kemudian dia mengeluh atau menangis dan melakukan hal-hal yang negatif, maka sikap menunjukkan belum ikhlas atau perilaku sabar. Padahal Allah sudah menjelaskan dalam surat Al-Insyirah bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan. Pada qur’an surah Al-Insyirah dinyatakan:

BACA JUGA:  Tumbuh Bersama Al-Qur'an


Artinya:
1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
2. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3. yang memberatkan punggungmu?
4. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu .
5. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”
8. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Kandungan surat diatas membangun pemikiran manusia untuk selalu optimis dalam menghadapi ujian dari Allah. Disebutkan juga dalam sumber yang sama, ayat ini merubah paradigma berfikir manusia yang meyakini bahwa “Dalam Satu Kesulitan Terdapat Satu Jalan Keluar” menjadi paradigma berfikir yang meyakini bahwa “Di Balik Satu Kesulitan Ada Banyak Jalan Keluar.” Itulah spirit inna ma’al ‘usri yusra (sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan) yang terdapat dalam surat Al Insyirah.