Opini  

Seruan Boikot oleh Umat, Negara Kok Diam Saja?

Oleh: Fatmah Ummu Aru, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Media sosial saat ini didominasi perbincangan terkait tragedi genosida di Gaza Palestina. Bahkan perbincangan di medsos memanas ke arah seruan boikot produk terafiliasi Zionis Yahudi. Seruan menentang penggunaan produk buatan Zionis Yahudi ini makin menggema pada ajakan untuk menggantinya dengan produk buatan dalam negeri.

Tujuan pemboikotan produk tidak lain agar mengurangi pendapatan perusahaan-perusahaan besar tersebut sehingga dukungan mereka terhadap Zionis Yahudi dapat melemah, seiring dengan melemahnya finansial perusahaan akibat pemboikotan. Hal ini bila dilakukan masyarakat Indonesia secara masif dinilai efektif untuk membantu Palestina.

Ditambah aksi boikot ini dapat menjadi peluang bagi UMKM dalam negeri untuk menawarkan produk pengganti terafiliasi Zionis Yahudi. Bila momen ini diambil pelaku UMKM sebagai strategi marketing saja, mereka dapat merebut pasar secara otomatis.

BACA JUGA:  Invasi ke Gaza, Ekonomi Israel Mulai Ambruk

Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Jumat lalu (10/11) mengeluarkan fatwa terbaru Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh mengatakan adalah wajib hukumnya untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Zionis Yahudi. Berlaku pula hukum sebaliknya, haram untuk mendukung agresi Zionis Yahudi.

Pro kontra pun mencuat. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan ada dua faktor yang mempengaruhi efektivitas kampanye pemboikotan produk yang berafiliasi Zionis Yahudi. Pertama, tingkat ketaatan masyarakat Muslim pada fatwa MUI. Ia menilai meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, belum tentu semua taat pada fatwa MUI.

Kedua, pengetahuan terhadap produk-produk yang dianggap berafiliasi dengan Zionis Yahudi atau yang mendukung agresinya. Faisal menilai yang sebenarnya efektif adalah kerja sama dengan negara-negara yang menentang agresi Zionis Yahudi ke Gaza, untuk melakukan embargo secara serempak.

BACA JUGA:  Korban Genosida Israel di Gaza Dekati Angka 30 Ribu

Seruan boikot produk terafiliasi Zionis Yahudi ini adalah wujud kesadaran individu masyarakat untuk membela Palestina. Umat melakukan apa yang mereka bisa untuk menolong saudara-saudara Muslim di sana. Terlebih ketika negara kita dan negara-negara Muslim yang lain tidak melakukan pembelaan nyata penyelamatan nasib saudara-saudara Muslim Palestina. Hati nurani umat tergerak untuk membantu.

Seruan boikot dari umat ini bahkan mampu mendorong lahirnya fatwa haram dari MUI atas penggunaan produk ‘Yahudi’. Namun, seruan boikot oleh umat, negara ‘kok’ diam saja. Padahal, perlu kita sadari, seruan boikot akan jauh efektif ketika negara yang menyerukan. Sebab negara lah pemilik kuasa yang memiliki pengaruh kuat. Sangat berbeda dengan kekuatan, kekuasaan, dan pengaruh yang dimiliki individu.

BACA JUGA:  Serangan Pemukim Ilegal Israel di Tepi Barat Terus Meningkat

Dan tidak cukup sampai di sini, negara juga harus mengirimkan bantuan pasukan militer untuk memberikan pembelaan secara nyata. Sebab bahasa yang dimengerti oleh Zionis Yahudi laknatullah hanyalah bahasa perang, bukan bahasa diplomasi apalagi perjanjian damai.

Inilah wujud pembelaan hakiki yang harus kita upayakan untuk mengakhiri penderitaan saudara-saudara kita di Gaza Palestina. Tentunya pembelaan hakiki dari negara yang memboikot semua produk Zionis Yahudi, membuang sistem hidup Yahudi, dan mengirimkan pasukan militer ke Gaza hanya dapat terwujud dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. []