Mengenal Akad Ariyah

Menurut bahasa (etimologi) ariyah berasal dari bahasa Arab (العارية) diambil dari kata (عار) ” ‘Araa” yang berarti datang atau pergi dan dapat diartikan pinjaman. Menurut beberapa pandangan, ariyah berasal dari kata (التعاور) artinya saling meminjamkan, yakni dalam tradisi pinjam-meminjam. Sementara itu, menurut istilah (terminologi) ariyah dapat dikatakan suatu kegiatan muamalah yang memberikan manfaat sesuatu yang halal kepada orang lain untuk diambil manfaatnya, dengan tidak merusak zatnya, sehingga zatnya tetap bisa dikembalikan kepada pemiliknya. Akad ariyah masuk ke dalam akad yang bersifat tabarru’ (akad sosial) karena dalam akad ini pemilik barang yang dipinjamkan tidak mendapat imbalan apapun atas keuntungan yang diterima peminjam dari barang yang dipinjamkan.

Sementara itu para ulama telah mendefinisikannya sebagai berikut: Menurut Syarkhasyi dan ulama Malikiyah, ariyah adalah kepemilikan atas manfaat (suatu benda) tanpa pengganti, menurut ulama Syafi’iyah dan Hambaliyah, ariyah adalah pembolehan (untuk mengambil) manfaat tanpa mengganti.

BACA JUGA:  Mengatasi Rasa Malas, Gampang Koq!

Perbedaan pemahaman tersebut menimbulkan perbedaan dalam akibat hukum. Selanjutnya, pendapat pertama memberikan arti kepemilikan kepada peminjam, sehingga boleh meminjamkan lagi kepada orang lain atau pihak ketiga tanpa melalui pemilik benda, sedangkan pendapat kedua menunjukkan pengertian kebolehan untuk mengambil manfaat saja, sehingga peminjam dilarang meminjamkan kepada orang lain. Akad dalam ariyah berbeda dengan hibah, karena dalam ariyah hanya mengambil manfaatnya tanpa mengambil zatnya. Namun dalam hibah dapat diambil keduanya, baik dari zat maupun manfaatnya.

Dasar Hukum Ariyah

Al-Qur’an
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5]: 2).

Hadis
“Pinjaman itu wajib dikembalikan dan orang-orang yang menanggung sesuatu harus membayar dan hutang harus ditunaikan.” (HR. At-Tirmizi).

BACA JUGA:  Merasa Kurang Pede? Lakukan 7 Hal Ini!

Hukum Ariyah

Hukum pinjam meminjam dalam syariat Islam terbagi menjadi empat yaitu:

Mubah, artinya adalah hukum asal dari pinjam meminjam.
Sunnah, artinya pinjam meminjam yang dilakukan untuk memenuhi suatu kebutuhan yang cukup penting.
Wajib, artinya pinjam meminjam yang merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dan jika tidak meminjam akan menemukan sesuatu.
Haram, artinya pinjam meminjam yang dipergunakan untuk kemaksiatan.

Rukun dan Syarat Ariyah

Menurut ulama Hanafiyyah, rukun ariyah terdiri dari ijab dan qabul. Ijab qabul tidak wajib diucapkan, tetapi cukup dengan menyerahkan pemilik kepada peminjam barang yang dipinjam. Namun menurut sebagian besar ulama berendapat bahwa ada beberapa rukun ariyah, yaitu:

1) Mu’ir (orang yang memberikan pinjaman)
2) Mutsa’ir (orang yang mendapat pinjaman)
3) Mu’ar (barang yang dipinjamkan)
4) Sighat (lafal yang jelas dalm pinjam meminjam)

BACA JUGA:  5 Tips untuk Menenangkan Pikiran

Macam – Macam Ariyah

Ariyah Mutlaqah

Yaitu pinjam meminjam barang yang syarat pemakaiannya tidak dijelaskan dalam akad atau penggunaannya tidak dijelaskan. Misalnya peminjaman sepeda motor yang kontraknya tidak menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan sepeda motor tersebut. Meski begitu, penggunaan barang pinjaman harus disesuaikan dengan kebiasaan dan tidak boleh berlebihan.

Ariyah Muqayyadah

Ariyah muqayyadah adalah meminjamkan suatu barang yang dibatasi waktu dan manfaatnya, baik yang dibutuhkan oleh kedua orang yang terikat akad atau salah satunya. Oleh karena itu, peminjam harus merawat barangnya dengan baik, memeliharanya, dan mengembalikannya sesuai dengan kesepakatan.

Hikmah akad ariyah ini dapat ditujukan kepada peminjam seperti dapat memenuhi kebutuhan seseorang atas manfaat sesuatu yang tidak dimilikinya dan bagi yang memberikan pinjaman seperti membantu orang yang membutuhkan.

Hesti Ismawarsih dan Siti Khairunnisa
Mahasiswi STEI SEBI