Faktor Pengungkap CSR Perusahaan

Faktor Pengungkap Tanggung Jawab Perusahaan (CSR)

DEPOK POS – Pada zaman yang serba modern ini, bisnis dihadapkan pada tantangan baru yang tidak hanya berpacu pada ekonomi semata. Dunia bisnis saat ini sudah mulai menarik minat yang merajuk kepada kepedulian sistem sosial, diantaranya yaitu tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility). Susiloadi (2008), menyatakaan bahwa konsep CSR muncul sebagai akibat adanya kenyataan bahwa pada dasarnya karakter alami dari setiap perusahaan adalah mencari keuntungan semaksimal mungkin, tanpa mempedulikan kesejahteran karyawan, masyarakat dan lingkungan alam. Seiring dengan meningkatnya kepekaan dan kesadaran perusahaan, maka konsep CSR muncul dan menjadi bagian tidak terpisahkan dengan kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang.
Pelaporan tanggung jawab perusahaan merupakan salah satu tindakan pendekatan sosial mereka. Perusahaan perlu melaporkan kegiatan tahuanan nya kepada pihak yang berkepentingan (stakeholer). Tujuannya adalah agar tidak terjadi kesenjangan antara perusahaan dan stakeholer dengan meningkatkan tranfaransi dan keterbukaan untuk berbagi informasi. Salah satu perusahaan yang sudah melakukan CSR ini adalah Bank syariah, karena membawa identitas agama, Bank syariah diharapkan akan lebih membawa masyarakat kepada kesejahteraan masyarakat dalam sistem ekonom iyang berlangsung.
Pengungkapan adalah salah satu alat ideal bagi bank syariah untuk membawa manfaat sosial mereka pada pemangku kepentingan mereka. Dikemukakan oleh Farook bahwa pengungkapan memberikan bukti tentang kontribusi dalam kegiatan sosial bank syariah. (Farook et al., 2011). Mereka diantisipasi untuk mengungkapkan informasi terkait yang komprehensif kepada pelanggan mereka tentang bagaimana aktivitas mereka dan kepatuhan mereka terhadap Syariah (Hukum Islam) (Maali, et al., 2006); Bank syariah juga digambarkan memiliki “wajah sosial” yang mengedepankan keadilan sosial di masyarakat.
Banyak nya teori yang membantu menjelaskan dalam memahami praktik penerapan CSR dan dapat dianggap sebagai aspek pelengkap bagi sebuah perusahaan, salah satunya adalah teori agensi. Teori agensi ini mengacu pada hubungan prinsipal dan agen, sehingga menurut Jansen dan Meckling (Jansen, et al., 1976) mendefinisikan hubngan keagenan sebagai kontrak dimana prinsipal atau lebih melibatkan agen untuk melakukan layanan atas nama mereka.
Keagenan dibagi menjadi tiga jenis menurut Jansen dan Meckling. Yang pertama : memantau biaya yang dikeluarkan dengan memberikan intensif tertentu kepada agen, yang memotivasinya untuk bertindak demi kepentingan prinsipal. Kedua : biaya ikatan yang terjadi ketika agen menggunakan sumber daya tambahan untuk memastikan bahwa tindakannya tidak bertentangan dengan kepentingan prinsipal. Ketiga, residual loss: yang diakibatkan oleh berkurangnya kesejahteraan prinsipal.
Ukuran bank dan CSR meiliki hubungan litelatur yang sangat besar. Roberts menemukan bahwa ada hubungan posistif antara ukuran dan CSR, ia juga berpendapat bahwa semakin besar dan semakin tua perusahaan, semakin banyak keterlibatan dalam kegiatan CSR yang memberikan dampak positif pada reputasinya. (Hossain, 2008.). Bahkan peneliti sebelum ini mengungkapkan bahwa ada hubungan antara usia perusahaan dan praktik pengungkapan. (Haniffa, & Cooke, dkk, 2002). Mereka berpendapat bahwa usia perusahaan berpengaruh pada keterlibatan CSR perusahaan dan bahwa CSR yang sudah lama berdiri cenderung membuat pengungkapan sosial sukarela yang lebih besar.
Sementara, Pahuja (2009) menyatakan, ada beberapa alas an untuk mengharapkan hubungan positif antara hubungan perusahaan dan tingkat pengungkapan CSR. Yang pertama, pengumpulan dan penyebaran informasi memerlukan biaya tinggi. Sehingga perusahaan kecil mungkin tidak memiliki sumber daya yang diperlukan. Kedua, pada perusahaan besar, informasi tersebut biasanya dikumpulkan untuk pelaporan internal dan kemudian digunakan untuk pengambilan keputusan manajerial. Ketiga, yaitu perusahaan besar pada umumya memiliki kewajiban lebih kepada masyarakat dan diperhatikan oleh pemerintah.
Indeks pengungkapan CSR terbagi menjadi beberapa variabel, yaitu variabel terikat (skoer CSRD), variabel independen (mekanisme CG), dan variabel kontrol (karakteristik perusahaan).
*Muhammad Fidaaul Haq, STEI SEBI Depok

Pos terkait