Efektivitas Peran Audit Internal Syariah

DEPOKPOS – Lembaga Keuangan Syariah (LKS) memiliki karakteristik yang berbeda dengan Lembaga Keuangan Konvensional (LKK). Lembaga keuangan syariah harus memenuhi segala ketentuan yang berkaitan dengan syariah (sharia compliance) untuk menjalankan kegiatan usaha yang ada dalam LKS tersebut (Baehaqi & Suyanto, 2018).

Saat ini lembaga Keuangan Syariah (LKS) mengalami perkembangan yang pesat. Sehingga dibutuhkannya struktur tata kelola yang baik di LKS. Struktur tata kelola dalam perbankan syariah memerlukan Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan audit internal guna mendukung kegiatan DPS.

Audit internal dapat melakukan fungsi audit syariah dengan baik berdasarkan pengetahuan dan keterampilan syariah yang memadai. Sehingga keberadaan audit syariah yaitu untuk memastikan bahwa sistem pengendalian internal telah mematuhi ketentuan syariah dengan baik dan efektif (Hakim, 2021).

Audit internal syariah dibentuk di lembaga keuangan syariah karena adanya disparitas antara tata kelola syariah dan tata kelola perusahaan. Hal ini menyebabkan perbedaan dalam fitur audit internal yang diperlukan seperti orientasi, tujuan, ruang lingkup, pengungkapan dan laporan, keterampilan dan kualifikasi auditor yang diperlukan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Latifah Algabry and Syed Musa Alhabshi, Younes Soualhi, Anwar Hasan Abdullah Othman dalam penelitian yang berjudul Assessing the effectiveness of internal Shar_ıʿah audit structure and its practices in Islamic financial institutions: a case study of Islamic banks in Yemen mengatakan bahwa dalam LKS minimnya standar terkait praktik audit syariah seperti tidak adanya pedoman syariat dan kerangka pengawasan sehingga dapat menurunkan tata kelola syariah. Oleh karena minimnya standar tersebut mengakibatkan setiap perusahaan akan memiliki cara yang berbeda dalam menilai risiko yang ada dalam perusahaan tersebut.

Audit internal syariah dapat ditujukan untuk menilai risiko dan melindungi aset perusahaan. sehingga dinilai bahwa audit internal syariah memiliki dampak signifikan pada praktik dan struktur perusahaan. Aspek yang dianggap penting yaitu tekanan koersif, tekanan mimesis dan tekanan normatif.

Tekanan koersif terjadi karena tekanan formal maupun informal yang diterima dalam suatu perusahaan. Sehingga perusahaan tersebut diharuskan untuk patuh pada aturan dalam mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Sementara tekanan mimesis adalah tekanan yang terjadi karena suatu perusahaan meniru perusahaan lain yang dianggap telah berhasil.

Hal ini mengakibatkan muncul respon ketidakpastian pada aturan tertentu. Yang terakhir adalah tekanan normatif, tekanan ini terjadi karena adanya tuntutan bagi orang yang bekerja dalam perusahaan tersebut untuk bersikap secara profesional guna meningkatkan pelayanan publik (Anggraeni, 2021).

Untuk melakukan audit internal syariah yang efektif dan efisien maka tata kelola audit syariah harus bersifat jelas dan komprehensif. Salah satu faktor kunci dari tata kelola audit syariah meliputi:

Sharia audit references profile yaitu ketersediaan dalam penerapkan prinsip-prinsip syariah terkait referensi syariah yang digunakan sebagai peninjau saat melakukan auditor. Profil referensi audit syariah antara lain seperti hukum bank syariah, struktur bank syariah, rencana strategis tahunan, kebijakan syariah dalam bank syariah, manual audit syariah dan lain-lain.

Sharia auditor charter, dalam shariah auditor charter harus menunjukkan peran dan tanggung jawab auditor internal syariah, ruang lingkup audit, serta komposisi departemen.

Sharia auditor plan atau rencana auditor syariah. Rencana auditor syariah harus dirancang oleh manajer, rencana yang harus ada yaitu seperti pengenalan umum, ruang lingkup audit dan tujuan audit. Rencana audit terbagi menjadi tiga bagian yaitu:

  1. Rencana audit syariah strategis: rencana ini biasanya mencakup periode dua hingga lima tahun dan mengutamakan risiko utama yang tinggi.
  2. Rencana tahunan: rencana ini berkaitan dengan audit internal syariah namun hanya untuk satu tahun.
  3. Rencana taktis: rencana ini menjelaskan prosedur kunjungan yang diajukan untuk internal.

Audit manual adalah seperangkat prosedur tertulis yang menjelaskan bagaimana mempersiapkan dan melakukan audit syariah. Manual audit juga mencakup definisi produk atau syarat transaksi, kontrol, dan standar yang terkait dengannya serta kontrak yang diperlukan sebagai rujukan auditor syariah dan membentuk formulir audit yang tepat selama proses audit.

Peningkatan faktor internal tatakelola shariah dapat dicapai dengan meningkatkan kesadaran perbaikan struktur internal audit syariah. Dalam penelitian ini ditemukan juga bahwa ada kebingungan dan kesalahpahaman mengenai peran internal audit syariah dan mencampurnya dengan peran internal pengawas syariah atau DPS. Oleh karena itu, jika konsep fungsi ini tidak disadari dengan baik oleh regulator atau praktisi, maka tidak akan berdampak pada efektivitas internal audit syariah tidak peduli seberapa baik tekanan ditetapkan.

Firliyanih Hidayah
Mahasiswi semester 7 STEI SEBI

Pos terkait