oleh

Siapkah 2021 Mahasiswa Kuliah Tatap Muka?

Pandemi COVID- 19 sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah untuk bangsa Indonesia, terhitung sejak Maret 2019 sampai saat ini banyak sektor yang terdampak dengan adanya pandemi kali ini, tidak terkecuali dengan sektor pendidikan di Perguruan Tinggi.

Hampir sama dengan jenjang pendidikan yang lain, di Perguruan Tinggi sekarang masih menerapkan sistem PJJ atau Pembelajaran jarak jauh, melalui platform seperti zoom meeting, google meet sampai pembelajaran lewat youtube. Civitas academika kampus terutama para mahasiswa dituntut untuk disiplin dalam mengatur waktu saat perkuliahan berlangsung, karena semua sekarang tergantung mahasiswa itu sendiri, hanya titip absen ataupun mereka benar benar niat untuk mencari ilmu.

Resiko pembelajaran online pun juga menjadi keresahan para mahasiswa, mulai dari gangguan signal, kuota yang minim sampai resiko gangguan kesehatan mata karena terlalu sering menatap layar untuk mengejar deadline tugas yang diberikan oleh dosen.

Meskipun demikian, Pembelajaran jarak jauh masih menjadi keputusan yang paling realistis di masa sekarang, PJJ kali ini memang di beberapa sisi tidak terlalu efektif dalam mencegah resiko atau memecahkan masalah di kalangan mahasiswa, apalagi untuk para mahasiswa yang sedang menjalankan praktikum dan juga Kuliah Kerja Nyata atau KKN.

BACA JUGA:  Inilah Peran Muslimah dalam Dakwah

Seiring berjalanya waktu para mahasiswa mau tak mau harus menyesuaikan dengan kondisi sekarang, kuliah jarak jauh dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Tapi baru baru ini Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim mengatakan membolehkan perkuliahan tatap muka pada 2021 dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang ketat dan dengan seizin Pemerintah Daerah.

Dengan diperbolehkanya kuliah tatap muka pada 2021 menimbulkan resiko yang harus dihadapi oleh para mahasiswa, mengingat COVID-19 sudah mencapai 678 ribu kasus dan yang meninggal sudah mencapai 20 ribu orang membuat saya selaku mahasiswa merasa cemas dengan resiko yang di ambil pemerintah terkhususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan masih mempertanyakan lebih lanjut mengenai keputusan tersebut yang membolehkan mahasiswa kuliah tatap muka pada Januari 2021.

BACA JUGA:  Haruskah Perempuan Berperan?

Dalam teori Manajemen Resiko ada dua istilah yang sangat penting, yaitu avoidance dan mitigation, maksud dari avoidance sendiri adalah dicegah supaya tidak terjadi atau ambil tindakan lain yang berbeda, sedangkan mitigation adalah dikuranginya kemungkinan terjadi serta dampak apabila terjadi.

Dalam penerapannya Pemerintah Republik Indonesia yang di wakili oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan bersama para stakeholder bisa mencegah supaya kuliah jarak jauh tidak di laksanakan pada waktu dekat ini, dan bisa mengambil tindakan yang lain seperti menerapkan kembali Pembelajaran jarak jauh yang minim resiko penyebaran COVID-19 ataupun bisa juga di campur antara kuliah jarak jauh dengan kuliah tatap muka bagi yang sedang praktikum atau sedang pengabdian kepada masyarakat.

Apabila kuliah tatap muka tetap di adakan pada waktu dekat ini tepatnya di tahun 2021 kita juga harus tau dampak dan resiko apabila benar benar terjadi , dampak sosial ataupun teknis. Dampak sosial meliputi masyarakat di sekitar kampus karena dengan datangnya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bisa jadi menimbulkan klaster penyebaran COVID-19 baru di sekitar kampus.

BACA JUGA:  Kisah Seorang Raja yang Sholeh

Dampak teknis sendiri meliputi apakah pihak universitas sudah siap untuk menyusun dan juga menerapkan standar ketat prosedur protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh satuan tugas penanganan COVID-19.

Untuk para mahasiswa sendiri kalau ditanya sudah siapkah 2021 kuliah tatap muka maka jawaban kami pasti terjadi pro dan kontra antara satu sama lain, dan masing masing pasti mempunyai alasan yang kuat kenapa mau tetap kuliah jarak jauh atau kuliah tatap muka, disini pemerintah sangat berperan penting dalam menentukan kebijakan dan juga sikap dengan mengedepankan kesehatan dan juga resiko yang akan terjadi jika kuliah tatap muka tetap diadakan pada tahun 2021.

Oleh : Muhammad Syah Alam, Mahasiswa STEI SEBI Depok

Komentar

Berita lainnya