oleh

Kualifikasi Apa yang Diperlukan Auditor pada Lembaga Keuangan Syariah?

Audit islam memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran pada semua lembaga islam yang dituntut harus terus berkontribusi terhadap kemaslahatan manusia.

Dilihat dari perkembangannya lembaga keuangan islam menunjukan trend yang baik dikalangan masyarakat, sehingga terdapat permintaan produk yang terus meningkat dan terciptalah peluang yang luas untuk lembaga keuangan islam atau IFI

Apa itu IFI?. IFI (Islamic Financial Institution) adalah istilah untuk semua lembaga keuangan yang beroperasi dalam lingkup syariah termasuk Islamic banking, Islamic insurance, dan lainnya.

Industri keuangan islam diklaim berada diantara industri dengan pertumbuhan tercepat, dengan pertumbuhan anatara 15% sampai 20% selama decade terakhir ini.

Dengan banyaknya peminat produk dan layanan perbankan syariah diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai syariah dalam setiap aspek operasionalnya.

IFI juga menunjuk Sharia Commite (SC) sebagai pemberi nasihat terhadap laporan audit memberi resolusi tentang masalah-masalah syariah.

Menurut kerangka tata kelola syariah (SGF) audit syariah mengacu pada : penilaian berkala dilakukan dari waktu kewaktu, untuk memberi penilaian independen dan jaminan objektif yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan tingkat kepatuhan dalam segala hal tingkat kepatuhan dalam segala hal yang berkaitan dengan operasi bisnis Lembaga Keuangan Islam (LKI) dengan tujuan utama memastikan sistem kontol internal yang sehat dan efektif untuk kepatuhan syariah dan dilakukan oleh auditor internal.

BACA JUGA:  Perbandingan Model Pengawasan Syariah LKS di Negara-Negara Teluk dan Indonesia

Menurut studi khan pada tahun 1985 menyatakan bahwa praktek audit dalam pengaturan islam berbeda dengan dari audit konvensional. Audit dalam islam memang cakupannya lebih luas ruang lingkupnya, keduanya sama-sama bertanggung jawab terhaap klien yaitu pemilik usaha yang diaudit. Hanya saja dalam audit syariah dipandu oleh prinsip-prinsip agama, kualitas keputusan managerial. Islam betul-betul mengajarkan dengan jelas praktik atau kinerja audit,

Misalnya dalam kompetensi individu, dihasilkan dari kumpulan karyawan yang kompeten dan ahli syariah, yang terpenting bisa menjadi ujung tombak inovasi islam. Ditinjau dari kriteria seleksi seorang pekerja muslim, atribut utamanya adalah sholeh, memiliki nilai akhlak yang baik (H.R Tirmidzi) dan semangat kerja tim (Shaleh Abu Daud) kompeten dan ahli (Q.S Al-Qasas :26) dalam hal kualifikasi dan pengalaman.

BACA JUGA:  8 Hal Penting Mencapai Kepatuhan Syariah di Lembaga Keuangan Islam

Dalam konsep “kompetensi” yang dipopulerkan oleh Boyatzis, yang mengemukakan bahwa kompetensi merupakan komponen esensial dalam menjamin kinerja efektif seseorang dalam suatu pekerjaan. Menurut teori ini mengungkapkan bahwa selain penguasaan keterampilan dalam mengaudit, penguasaan pengetahuan tentang perbankan syariah dan fiqh muamalah juga sangat penting, selain itu juga auditor harus memiliki kemauan untuk belajar sikap sebagai karakteristik yang melengkapi elemen pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi merupakan konsep yang diperlukan melaksanakan pekerjaan secara efektif. Hal ini berkaitan dengan fungsi audit syariah, berikut unsur-unsur kompetensi yang dijelaskan dalam teori prestasi kerja yang efektif.

Pertama, pengetahuan. Pengetahuan bisa berupa pengetahuan umum atau khusus, pengetahuan umum didapat dari sekolah formal, sedangkan pengetahuan khusus didapat dari pelatihan-petihan. Unsur yang palin penting untuk menjadi audtor syariah adalah pengetahuan tentang syariah, diikuti dengan pengetahuan tentang Islamic bank dan fiqh muamalah.

Kedua, keterampilan. Skill atau terampilan mengacu pada kemampuan individu untuk menerpakan pengetahuan , menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah. Hal yang paling penting bagi seorang auditor untuk melakukan pekerjaan dengan sukses adalah pada keterampilan audit itu sendiri.

BACA JUGA:  KSOC; Model Kompetensi Auditor Syariah pada LKS

Ketiga, karakteristik lainnya. Seperti tanggung jawab etis, motivasi diri, harga diri, managemen diri dan lainnya.

Teori prestasi kerja yang efektif ini digunakan untuk memproyeksikan unsur-unsur “kompetensi” dari sudut pandang barat diterapkan dengan perspektif yang jauh lebih luas diperlukan agar teori tersebut dapat diterapkan dalam ranah Islam.

Dengan penjelasan diatas, seorang auditor syariah sangat penting menerapkan seperangkat kompetensi digunakan secara kolektif di IFI, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan kinerja dan produktivitas lembaga keuangan syariah. yang pada akhirnya, mengarah kepada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Dan harapannya seorang auditor syariah di lembaga keuangan syariah terus mengembangkan dan membina pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia sebagai wujud dari kebutuhan untuk memperoleh dan mengembangkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan kualifikasi kerja audit sehingga memberikan dampak positif bagi meningkatnya kualitas auditor.

*Susi Susilawati, Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI

Komentar

Berita lainnya