oleh

Pengaruh Kebijakan Moneter bagi Perekonomian di Indonesia

Oleh: Sari Rahmawati Zebua

Apakah kita pernah bertanya-tanya mengapa harga bahan dipasaran naik seiring dengan naiknya nilai dolar? Misalkan saja jika nilai dolar naik maka akan berdampak pada harga minyak atau harga tempe ataupun bahan baku lainnya yang juga ikut naik. Kita lihat bahwa harga minyak yang bahan bakunya dihasilkan dari Indonesia sendiri saja tetap terpengaruh dengan niali dolar. Begitu pula dengan kedelai sebagai bahan baku yang kita impor dari negara lain. Karena di impor, harganya tergantung pada berapa nilai kurs antara nilai rupiah dengan dolar. Berbicara mengenai kebijakan moneter tentu banyak dari kita yang bertanya apa itu kebijakan moneter dan apa pengaruhnya bagi perekonomian?

Moneter adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan uang. Sedangkan kebijakan adalah bijak untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara oleh otoritas moneter atau bank sentral untuk mencapai tujuan tertentu seperti inflasi atau pengangguran.

Menurut dosen mata kuliah Ekonomi Makro Islam STEI SEBI; Rachmat Rizky Kurniawan SEI, MM, inti dari kebijakan moneter adalah menjaga nilai dari mata uang. Dari pengertian yang diberikan tersebut maka dapat dijelaskan bahwa kebijakan ini dilakukan dengan cara mengendalikan jumlah uang yang beredar di masyarakat dan penetapan suku bunga guna mencegah terjadinya inflasi atau jumlah uang beredar. Suatu negara yang sedang melaksanakan pembangunan, terutama dalam hal ekonomi tentu membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Salah satu kebijakan yang dapat digunakan adalah kebijakan moneter.

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Kebijakan moneter sebagai salah satu dari kebijakan ekonomi makro pada umumnya diterapkan sejalan dengan siklus kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi dimana perekonomian sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat tentu berbeda dengan kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi dimana perekonomian sedang mengalami perkembangan yang melambat.

Dalam kajian literatur dikenal dua jenis kebijakan moneter, yaitu kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi, yang dilakukan melalui peningkatan jumlah uang beredar. Sebaliknya, kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk memperlambat kegiatan ekonomi, yang dilakukan melalui penurunan jumlah uang beredar.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Krisis yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah menimbulkan berbagai permasalahan yang demikian sulit dan kompleks di berbagai bidang. Krisis yang mulanya berasal dari Krisis moneter telah berubah cepat menjadi krisis ekonomi, krisis sosial budaya, krisis politik, sehingga menjadi krisis multi dimensi. Salah satu pemicu utama krisis tersebut adalah terjadinya kelangkaan dana perbankan sebagai akibat penarikan dana oleh masyarakat yang sangat besar. Ditambah dengan semakin melemahnya niai rupiah terhadap dolar AS, kepercayaan masyarakat terhadap rupiah semakin berkurang sehingga nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Untuk mencegah kehancuran sektor perbankan, Pemerintah (Bank Indonesia) menyuntik dana ke sektor perbankan dalam jumlah yang sangat besar, yang selanjutnya berakibat pada melonjaknya laju inflasi. Di sisi lain, Bank Indonesia harus menyerap kelebihan likuiditas di masyarakat melalui kebijakan moneter kontraktif, yang berakibat pada naiknya suku bunga dan persoalan lain di pasar keuangan secara keseluruhan.

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Berbagai permasalah tersebut melandasi dikeluarkannya UU No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagai pengganti UU No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral. Dalam landasan hukum yang baru ini Bank Indonesia mempunyai tujuan yang lebih fokus, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah merupakan persyaratan bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Reorientasi sasaran Bank Indonesia tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemulihan dan reformasi perekonomian untuk keluar dari krisis ekonomi yang tengah melanda Indonesia.

Hal ini sekaligus meletakkan landasan yang kokoh bagi pelaksanaan dan pengembangan perekonomian Indonesia di tengah-tengah peronomian dunia yang semakin kompetitif dan terintegrasi. Sebaliknnya kegagalan untuk memelihara kestabilan nilai rupiah seperti tercermin pada kenaikan harga-harga dapat merugikan karna dapat berakibat menurunkan pendapatan riil masyarakat dan melemahkan daya saing perekonomian nasional dalam perekonomian dunia.

Referensi
Rachmat Rizky Kurniawan SEI, MM Dosen Mata Kuliah Ekonomi Makro Islam STEI SEBI
Warjiyo, Perry Kebijakan Moneter di Indonesia (Seri Kebanksentralan)

Komentar

Berita lainnya