oleh

Ajak Anak Mengenal Pendidikan Kesehatan Reproduksi Sejak Dini

Belakangan ini masih bermunculan berita-berita mengenai kekerasan seksual pada anak, salah satunya marak terjadi pada anak di usia sekolah dasar. Berdasarkan data dari KPAI, kekerasan seksual yang terjadi pada anak di tahun 2015 mencapai 218 kasus, kemudian terdapat 120 kasus terjadi pada tahun 2016, dan terdapat 116 kasus di tahun 2017. KPAI mencatat hingga Mei 2019, telah terjadi 3 kasus pelecehan seksual yang terjadi di sekolah dasar dan 3 kasus perundungan yang meliputi kekerasan seksual.

Menurut Finkelhor (2007) dalam (Pramono, 2014), kekerasan seksual terjadi salah satunya karena kurangnya pengetahuan mengenai kekerasan seksual itu sendiri. Anak-anak yang menjadi korban, kemungkinan akan diam dan tidak melawan saat terjadi kekerasan seksual pada dirinya. Hal ini dapat disebabkan karena anak tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada dirinya (Lazzarini, 2011).

Kekerasan seksual kemudian akan menimbulkan dampak buruk bagi korbannya dalam segi psikis, fisik, seksual ataupun kerugian lainnya (DPR RI, 2017). Kekerasan seksual yang diterima anak akan berpengaruh pada perilaku beresiko terhadap kesehatan, trauma, hingga keinginan bunuh diri di kemudian hari (Butchart, Garcia-Moreno, & Mikton, 2010).

BACA JUGA:  Kandungan Nikotin dalam Rokok Elektrik

Keresahan yang timbul dari masalah ini, mendesak pihak bewenang untuk menghadirkan solusi. Saat ini, lembaga-lembaga dengan fokus pada upaya perlindungan anak, seperti KPAI, Komnas PA, dan LPAI siap memberikan pengawasan penyelenggaraan pemenuhan Hak Anak. Pemerintah pun turut serta memberikan penanganan, salah satunya melalui pembentukan UU No. 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Namun, hadirnya UU tersebut belum dapat mencegah masalah terjadi, sehingga dibutuhkan komitmen dari lingkungan terdekat anak, terutama orang tua sebagai pelindung garda terdepan, dengan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada anak.

Di usia 3-5 tahun, anak akan merekam suatu informasi sampai ia dewasa, maka kesempatan ini harus dimanfaatkan orang tua untuk mulai memberikan pendidikan seksual yang tepat sejak dini (Suparti & Agustina, 2019). Tetapi saat ini banyak orang tua yang menolak pemberian pendidikan seks pada anak, karena menganggap pembicaraan mengenai seks sebagai topik yang vulgar dan tidak pantas untuk dibicarakan pada anak-anak (Amaliyah & Nuqul, 2017). Pemahaman tentang seks dinggap tidak perlu bagi anak dan akan dipahami dengan sendirinya seiiring pendewasaan diri (Fitriani, 2018).

BACA JUGA:  Kenali Gejala Virus Corona dan Upaya Pencegahannya

Padahal, pendidikan seks bermanfaat dan dibutuhkan oleh semua orang. Pendidikan kespro memberikan pemahaman mengenai seks, perilaku seks, penyakit seks, dan lebih dari itu, pendidikan kespro mengarahkan pembentukkan sikap dan kematangan emosional seseorang terhadap seks agar dapat menyesuaikan dirinya dengan masyarakat (Aziz, 2014) (Windijarti, 2011). Sehingga, pemahaman pada anak dari pendidikan seks bukan mengenai seks yang bisa dipahami setelah dewasa, tetapi terlebih untuk membentuk sikap yang tepat terhadap seks sampai ia dewasa.

Pendidikan seks yang dapat diberikan pada anak dapat berupa pemahaman mengenai fungsi-fungsi organ seksual, perilaku menjaga organ intim dan pergaulan yang sehat, serta resiko ataupun ancaman yang akan terjadi terkait masalah seksual mereka (Zubaedah, 2016). Bentuk edukasi dapat dimulai dengan menjelaskan anak seluruh organ tubuh dan fungsinya, termasuk penis dan vagina dengan istilah yang sesungguhnya. Jelaskan pula bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan maupun disentuh sembarangan, jika ada yang melanggar anak harus berteriak dan lapor kepada orang tuanya. Anak juga perlu dikenalkan bahwa ada perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki yang wajar dan perlu dihormati, sehingga dapat mencegah anak menjadi pelaku kekerasan seksual pada temannya.

BACA JUGA:  Kenali Gejala Virus Corona dan Upaya Pencegahannya

Orang tua harus menyampaikan pendidikan seks dengan percaya diri, bahasa yang sederhana, dan keterbukaan pada anak. Ada kemungkinan anak menanyakan pertanyaan umum, seperti bagaimana bayi terlahir, jawaban dapat diberikan dengan sederhana dan jujur, tanpa menghiraukan nilai, emosi dan jiwa anak (Safita, 2013). Seiring berkembangnya kemampuan anak, informasi yang diberikan pun akan berkembang, misalnya pengetahuan mengenai haid dan ejakulasi pertama, serta bahaya hubungan seks setelahnya, dapat mulai diberikan untuk mempersiapkan anak mendekati masa kematangan seksual mereka.

Dengan demikian, orang tua tidak perlu ragu untuk memberikan pendidikan seks pada anak-anak mereka. Informasi mengenai pendidikan seks sangat bermanfaat bagi anak. Bekal tentang pendidikan seks merupakan hak bagi seorang anak. Pendidikan seks ini diberikan semata untuk kesejahteraan anak, agar anak terlindungi dari kejadian yang tidak diharapkan karena ketidaktahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi.

Nur Aini
Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Komentar

Berita lainnya