oleh

Catatan Kecil Tentang Evaluasi Kota Depok

-Feature-1.741 views

Depok adalah sebuah kota yang secara letak wilayah cukup luas dan strategis serta memiliki penduduk yang cukup banyak seiring bertambahnya usia. Dalam perjalananya, Depok telah beberapa kali dipimpin oleh tokoh-tokoh yang kompeten. Pada saat masih menjadi kota administratif, Depok di pimpin oleh birokrat aktifis, Badrul Kamal, yang ditunjuk langsung oleh bupati Kabupaten Bogor. Badrul Kamal dinilai cukup berhasil membangun kota ini. Terbukti dengan keberhasilanya menjadikan kota Depok yang awalnya kota administratif menjadi Kotamadya. Sehingga, ia dipercaya kembali oleh masyarakat untuk memimpin Kota pinggir Jakarta ini.

Sebagai kota yang baru lahir, BK (Badrul Kamal) mulai merawat dan membangun kota dengan melakukan pembangunan-pembangunan mulai dari sekolah, puskesmas, hingga perbaikan infrastruktur. Bahkan, jalan Juanda yang hari ini menjadi kebanggaan warga Depok, dibangun di tahun ke-3 pada kepemimpinan BK.

Pertumbuhan ekonomi warga di tahun-tahun itu pun berkembang cukup pesat. Tak hanya itu, BK telah mencanangkan akan adanya pembangunan ruas jalan tol. Tingkat perekonomian tumbuh diatas rata” nasional. Masyarakat hidup dalam alam toleransi. Kota Depok yang plural bahkan bisa dibilang “Indonesia Mini”, mendapatkan perlakuan yang sama. “Badrul Kamal” sebagai pemimpin mampu merangkul semua dan berdiri di atas semua golongan.

Tahun 2005 menjadi tahun terkhir BK mempimpin Depok. Setelah itu pada tahun 2006 tepatnya pada tanggal 26 Januari 2006 ia digantikan oleh politikus partai PKS, yaitu Nur Mahmudi Ismail. Nur Mahmudi adalah seorang ilmuwan pangan asal Kediri, Jawa Timur. Sosok Nur dianggap cukup lihai dalam memimpin kota yang baru berusia cukup muda. Dengan kepiawaianya dalam mengurus kota, Nur Mahmudi cukup mampu menjadikan kota Depok sebagai kota yang banyak menuai prestasi, diantaranya adalah Satya Lencana Karya Bhakti Praja tahun 2010, 2011, 2012, dan 2014, Rekor MURI “Pelatihan Tenaga Penyuluh Tuberculosis Dengan Peserta Terbanyak” dan World Rekor “The Most Trainee Participated For Tuberculosis Handling Workshop” dengan pelatihan tenaga penyuluh TBC terbanyak, yaitu 6.845 orang, (2013), Piagam tanda kehormatan Satya Lencana Karya Bhakti Praja Nugraha dari Presiden RI, yang diserahkan langsung oleh Gamawan Fauzi (2013), dan masih banyak yang lainnya.

Keberhasilan Nur membuat masyarakat percaya bahwa Depok akan lebih baik jika terus dipimpin oleh orang yang sama. Akhirnya Nur Mahmudi kembali terpilih menjadi Walikota Depok untuk periode 2011-2016. Dalam periode ini pun Depok lagi-lagi menuai beberapa prestasi nasional. Sehingga rakyat sangat yakin, bahwa Nur Mahmudi adalah walikota yang bersih, cerdas, dan berintegritas tinggi.

BACA JUGA:  Hindari Boros! Ini Tips Mengatur Keuangan ala Milenial

Namun sayangnya, setelah tidak lagi menjabat sebagai Walikota Depok, Nur justru dijadikan tersangka atas dugaan korupsi pelebaran Jalan Nangka, Sukamaju, Tapos, Depok. Diduga Nur Mahmudi menggunakan APBD untuk pembebasan lahan tersebut dan karena hal itu kerugian negara dilaporkan mencapai 10 Miliyar rupiah. Setelah diperiksa, ditemukan juga bahwa ia memiliki kekayaan berjalan (alat transportasi) yang bernilai cukup fantastis. Pemberitaan yang mengejutkan ini meruntuhkan asumsi masyarakar selama ini yang menilai Nur adalah orang yang “bersih”. Kepercayaan masyarakat pun mulai berkurang terhadap mantan walikota Depok yang juga sebagai Politikus Partai PKS.

Pada Tahun 2016, Depok memiliki pemimpin baru bernama Mohammad Idris. Beliau adalah mantan wakil walikota era Nur Mahhmudi periode ke-2. Idris juga merupakan sosok agamawan yang sering kali di sebut “Kyai”. Walaupun ia pun diusung oleh partai yang sama dengan Nur, yaitu PKS, namun masyarakan memiliki harapan baru karena ketokohan idris yang dirasa mampu untuk memimpin Kotamadya ini.

Dalam periodenya, Idris yang ditemani oleh politikus partai Gerindra, Pradi Supriatna sebagai wakil walikota memiliki visi dan misi yang cukup menarik perhatian masyarakat karena dinilai cukup bagus. Visi yang ia tanamkan adalah “ Kota Depok yang Unggul, Nyaman dan Religius “.

Visi kepemimpinan Idris ini tentu menjadi interpretasi dari harapan masyarakat. Tentu, masyarakat Kota Depok ingin hidup dalam kota yang Unggul, nyaman dan religius. Selain itu, masyarakat pun berharap pemkot Depok bisa memberikan lebih lapangan pekerjaan kepada masyarakat. Semakin majunya perkembangan zaman, semakin berat pula daya saing masyarakat dalam mencari pekerjaan. Idris diharapkan mampu membuka banyak pekerjaan yang bisa menampung pekerja dari kota sendiri. Dengan begitu, perekonomian masyarakat akan membaik dan sejahtera.

Di lain sisi, masyarakat pun berharap bahwa di era Idris ini pemkot bisa betul-betul menjalankan visi yang sudah dicanangkan, tetapi dalam kenyataanya banyak sekali temuan-temuan kejadian yang itu tidak mencerminkan dari 3 pokok visi Idris-Pradi.

“Kota Unggul”

Unggul yang dimaksud menjadi terbaik dan terdepan dalam memberikan pelayanan publik, pengembangan ekonomi yang kokoh dan berkeadilan berbasis industri kreatif dan pengembangan Sumber Daya Manusia yang bertumpu pada Ketahanan Keluarga.

Namun nyatanya, dibawah kepemimpinan Idris Depok belum bisa menjadikan kota yang unggul secara kesejahteraan dan perekonomian, bukan secara total prestasi yang diraih. Kesejahteraan masyarakat Depok belum dirasa baik atau cukup, terbukti dengan banyaknya angka kemiskinan warga depok yang tiap tahun bertambah. Meski jumlah kenaikanya tidak meroket, tapi tetap bertambah setiap tahunnya. Data BPS Kota Depok, sejak 2013 penduduk miskin tercatat sebesar 45.912 jiwa atau 2,32 persen dari seluruh penduduk Kota Depok. Penduduk miskin meningkat pada 2014 dengan 47.950 jiwa atau 2,32 persen, sementara pada 2015, warga miskin  meningkat menjadi sebesar 49.970 jiwa atau sekitar 2,40 persen dari total penduduk Kota Depok.

BACA JUGA:  Meminimalisir Resiko Berbisnis dengan Perencanaan

Di era pemerintahan Idris, pada tahun 2016 penduduk miskin di Kota Depok, juga bertambah menjadi 50.560 jiwa atau sekitar 2,34 persen, dan pada 2017 meningkat hingga 2.000 jiwa menjadi 52.338 jiwa namun persentasenya tetap 2,34 persen, karena jumlah penduduk Kota Depok yang juga meningkat. Dan tidak menutup kemungkinan di tahun 2019 ini angka kemiskinan pun bertambah. Dari sisi ini kita bisa buktikan bahwa istilah Depok adalah Kota “unggul” secara perkembangan ekonomi masih menjadi wacana yang tidak mampu direalisasikan oleh KH Mohammad Idris.

“Nyaman”

Terciptanya suatu kondisi yang bersih, sehat, asri, harmonis, berwawasan lingkungan dan ramah bagi kehidupan masyarakat. Itulah penjabaran dari definisi kota nyaman ala idris. Tanpa menbedah definisi kota nyaman ala pemkot Depok, masyarakat pun tau bagaimana rasa nyaman dalam hidup di kota bagian Jawa Barat ini. Faktanya, banyak temuan masyarakat yang sudah menjadi rahasia umum akan kehidupan masyarakat Depok yang tidak nyaman. Di kecamatan Cipayung, pemkot berhasil membuat sebuah gunung, ya, gunung sampah. Tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik oleh pemkot berdampak besar warga disekitar kecamatan cipayung itu. Bau yang nenyengat itu tercium hingga radius beberapa kilometer dan tentu sangat mengganggu indera penciuman masyarakat. Tidak hanya itu, dari sumber kotoran yang tertumpuk dengan jumlah besar itu pasti berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar. Alhasil, tinggal didekat TPA itu tentu sangat tidak nyaman.

Temuan lain, banyaknya pembegalan, kriminalitas, dan sejenisnya banyak sekali merugikan masyarakat dan menelan banyak korban.Tanpa diuraikan berapa jumlah kejadian aksi begal yang terjadi di Depok, masyarakat sudah cukup tau dan mendengar serta merasakan. Hal ini pun tentu sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, sehingga masyarakat menjadi takut dan was was berkendara di sekitaran jalan-jalan di kota Depok. Belum lagi masalah infrastruktur, kemacetan yang tiap hari mewarnai jalan-jalan kota, dll. Maka, depok sebagai kota yang nyaman pun hanya menjadi mimpi dan angan angan.

BACA JUGA:  Sociopreneurship Tren Kekinian Generasi Millenial

“Religius”

Terjaminnya hak-hak masyarakat dalam menjalankan kewajiban agama bagi masing-masing pemeluknya yang tercermin dalam peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan YME, serta kemuliaan ahlak, moral dan etika serta berwawasan kenegaraan dan kebangsaan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Itulah makna penjelasan dari visi Depok kota religius. Menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjalankan nilai nilai agama, toleransi atar umat beragama, moral, dan sebagainya menjadi visi Idris yang ke 3. Sebagai umat beragama tentu visi ini sangat baik dan membanggakan. Tentu visi ini menjadi harapan masyarakat agar mampu hidup berdampingan antar umat beragama dan bisa menjalankan perintah agama masing-masing.

Religius dalam perspektif pemerintahan kota, berarti terbentuknya aktifitas masyarakat kota depok yang tidak menyimpang dari ajaran agama. Namun sayangnya, hal ini belum mampu diwujudkan oleh Idris dalam masa jabatanya. Secara moral, masih banyak masyarakat kota depok yang diresahkan dengan kasus-kasus prostitusi, kekerasan terhadap anak, kelompok-kelompok intoleransi dan radikalisme.

Prostitusi yang terjadi di kota depok selalu menjadi perbincangan hangat masyarakat. Banyak sekali tempat-tempat prostitusi, baik apartemen di beberapa wilayah kota Depok, sampai ke warung remang remang dan kos-kosan. Dari satu kasus ini, sudah bisa dinilai bahwa kota depok masih jauh dari nilai-nilai religius. Karena, prostitusi merupakan hal yang melanggar moral serta nilai-nilai dan ajaran agama. Tak hanya itu, banyaknya kelompok-kelompok intoleran dan radikalisme berkeliweran di kota ini, baik masuk di kampus-kampus, masjid, musola, dan rumah peribadatan. Hal itu tentu mengandung kesimpulan bahwa nyatanya lagi-lagi depok bukan kota yang religius. Karena nilai-nilai religius hakikatnya mampu memberikan kebermanfaatan dan kenyamanan kepada seluruh masyarakat pemeluk agama.

3 Visi yang sedemikian baik itu nyatanya belum bisa direalisasikan dengan maksimal oleh Idris. Meski beberapa kali walkot Depok itu sering membanggakan dan menyuarakan keberhasilan visi tersebut, nyatanya masyarakat lah yang mampu menilai dan merasakan bahwa hidup di Kota Depok masih sangat jauh dari kata “Unggul, Nyaman, dan Religius”. Di akhir masa-masa jabatannya, ia masih punya cukup waktu untuk menyelesaikan segala tanggung jawab yang ada serta mewujudkan Visi terbaiknya. Politikus PKS tersebut akan berakhir periodesasinya pada tahun 2020.

Semoga kelak di tahun 2020 akan lahir pemimpin kota Depok yang mampu mensejahterakan rakyatnya, menopang perekonomian, merealisasikan segala macam bentuk cita-cita dan harapan kota Depok.

Penulis : Cokky Guntara (Ketua 1 Bidang Internal IKMD)

Komentar

Berita lainnya