Sering Menggunakan Laptop pada Cahaya Redup? Ini Bahayanya

Oleh:Fahmi Lathifia (FKM UI)

Saat ini penggunaan laptop sudah tidak dapat dipisahkan lagi dikehidupan masyarakat terutama pada pelajar, mahasiswa, pekerja serta operator. Kemudahan dalam mengakses berbagai hal melalui laptop membuat banyak masyarakat semakin tertarik untuk menggunakannya. Disamping ukurannya yang fleksible untuk dibawa, masyarakat dapat dengan mudah melakukan berbagai hal melalui penggunaan laptop, seperti mengakses internet, bermain game, menonton film, mengerjakan tugas atau pekerjaan tertentu. Sehingga tidak heran apabila saat ini pengguna laptop semakin meningkat setiap tahunnya dan dalam satu hari masyarakat mampu menghabiskan waktunya untuk menggunakan laptop selama lebih dari 2 jam per hari.

Namun, selain kegunaan dari laptop yang begitu banyak, tersimpan banyak dampak negatif yang menyertainya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Japanese Ministry of Health (2004) dalam Rendy Septiansyah (2014), sekitar 91,6% pekerja mengeluhkan kelelahan mata akibat penggunaan laptop yang berlebihan. Menurut Broumand (2008), penggunaan laptop lebih dari 2 jam perhari dapat memberikan dampak yang cukup signifikan bagi mata, seperti kelelahan pada mata, mata kering, mata merah dan gangguan mata yang lainnya. Selain itu, radiasi yang diberikan oleh cahaya layar monitor juga memberikan dampak yang cukup serius pada mata.

Mata merupakan salah satu organ yang sangat penting bagi manusia. Mata memiliki peran penting dalam mengidentifikasi segala bentuk rangsangan visual yang kemudian diteruskan ke otak untuk diterjemahkan dalam bentuk respon. Tanpa mata, seseorang tidak mampu menjalani aktivitas sehari harinya dengan sempurna. Masalah pada mata khususnya pada pengguna laptop dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah intensitas cahaya ruangan. Menurut Grandjean (1993) dalam Hendra (2007), penerangan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan gangguan atau kelelahan pada mata.

Pencahayaan di ruangan khususnya di tempat kerja memiliki peran yang cukup penting dalam meningkatkan produktivitas seseorang termasuk pada pengguna laptop. Ketika seseorang bekerja dengan intensitas cahaya ruangan yang cukup, mata tidak perlu berakomodasi maksimal sehingga kelelahan pada mata akan berkurang dan produktivitas seseorang akan meningkat. Tidak hanya berasal dari lampu, sumber pencahayaan di ruangan dapat diperoleh melalui berbagai sumber lainnya, salah satunya adalah matahari. Matahari merupakan salah satu sumber penerangan alami yang paling baik. Ruangan yang memiliki ventilasi yang memadai memudahkan masuknya paparan sinar matahari dalam menerangi ruangan tersebut.

Selain memerhatikan sumber pencahayaan, intensitas pencahayaan di ruangan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kuantitas atau banyaknya cahaya yang diperoleh pada ruangan, kualitas cahaya yang ditentukan oleh ada tidaknya kesilauan di ruangan, warna benda yang ada di sekitar seperti warna cat tembok, serta desain pencahayaan pada ruangan.

Desain penerangan yang tepat dapat memengaruhi kualitas pencahayaan di ruangan. Intensitas pencahayaan di ruangan harus cukup atau sesuai dengan standar, apabila intensitas pencahayaan terlalu rendah dapat menimbulkan gangguan kesehatan khususnya mata. Intesitas pencahayaan yang terlalu tinggi atau berlebihan juga dapat memberikan efek silau mata. Selain itu, ketidaknyamanan pengguna juga menjadi salah satu akibat yang ditimbulkan oleh intensitas pencahayaan yang tidak sesuai standar. Berdasarkan KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/2002, standar pencahayaan di kantor minimal adalah 100 lux. Sedangkan untuk standar pencahayaan pada aktivitas dan pekerjaan yang rutin dan terus menerus, seperti operator atau pekerjaan pengetikan, standar yang ditetapkan oleh KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 adalah 300 lux.

Apabila pencahayaan kurang dari standar, maka dapat dikatakan pencahayaan di ruangan tersebut kurang (poor lighting). Penggunaan laptop dengan pencahayaan yang kurang dari standar dapat menyebabkan otot mata harus bekerja dengan maksimal untuk memenuhi kebutuhan cahaya yang diperlukan oleh mata, sehingga dalam waktu yang lama mata akan cepat merasakan kelelahan dan ketegangan pada otot mata. Kelelahan pada mata dapat ditandai dengan munculnya gejala, seperti pegal-pegal di area sekitar mata, rasa pusing atau pening, sakit pada mata, mata merah, pandangan kabur atau tidak fokus, serta rasa tidak nyaman. Selain itu, penggunaan laptop pada cahaya kurang dari standar dapat berdampak pada penurunan kinerja seseorang, seperti kualitas pekerjaan yang menurun serta meningkatnya kesalahan. Apabila hal ini dilakukan terus menerus tanpa dilakukan upaya pengendalian, maka dapat memberikan dampak yang lebih serius pada mata, seperti mata minus, silinder serta penurunan fungsi mata.

Untuk menghindari hal tersebut, terdapat tips dan trik dalam menggunakan laptop yang baik. Pertama, berada di ruangan dengan pencahayaan yang cukup dan sesuai dengan standar. Kedua, meminimalkan efek silau dari dinding atau permukaan lantai menggunakan kacamata dengan lensa anti-reflektif (AR) coating. Ketiga, mengatur layar monitor yang terdiri atas brightness, ukuran teks, dan kontras. Keempat, memerhatikan durasi penggunaan laptop dan jarak antara mata dengan layar monitor. Terakhir, melakukan peregangan pada mata seperti berkedip, melihat benda jauh, serta mengistirahatkan mata sejenak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan laptop pada cahaya yang redup atau kurang dari standar dapat memberikan dampak yang cukup serius pada mata. Oleh karena itu, memerhatikan beberapa tips seperti, pengaturan pencahayaan ruangan, layar monitor, penggunaan kacamata anti-reflektif (AR) coating, peregangan pada mata serta mengistirahatkan mata sejenak dapat menjadi beberapa cara untuk mengurangi dampak tersebut.

Komentar

Berita lainnya