oleh

Inspirasi Kecil yang Teramat Besar

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Mata bulat berbulu lentik itu selalu terlihat bersinar, ditambah bibir tipisnya yang melengkung membentuk senyuman. Pipi kemerahannya yang terpancar melambangkan pesona keceriaan. Kulit putih bak belum tersentuh noda juga melambangkan hatinya yang murni.

Sentuhan tangan mungilnya sangat terasa di hati ketika ia meraih tanganku untuk pamit pergi ke sekolah. Pelukan hangat yang selalu kami lakukan ketika kami sedang akur pun sangat terasa nyaman. Serta kecupan kasih sayang yang sesekali ia sematkan dikeningku, seperti kecupan dari seorang adik untuk kakaknya.

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Dia adalah sosok anak kecil yang menyenangkan sekaligus menyebalkan bagiku. Sosok yang sering kali mengangguku ketika aku sedang mengerjakan tugas kuliah. Sosok yang sering kali membuatku kesal karena selalu ingin tahu tentang apa yang sedang kulakukan. Sosok yang sering kali membuatku marah ketika ia menangis karena keinginannya tidak dituruti.

Dia bukan adikku, melainkan keponakanku. Keponakan yang telah berubah posisinya menjadi adikku. Sejak ayah dan ibunya meninggal dunia karena sakit, dia memang dirawat oleh ibuku. Ibuku yang juga berperan sebagai nenek dari ibunya.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Dia mungkin tahu bahwa orang tuanya sudah pergi, dia hanya belum mengerti arti kepergian itu yangs sesungguhnya. Sering kali dia tiba-tiba menangis ketika dia merasa rindu kepada kedua orang tuanya. “Papa, Bunda, aku kangen,” ujarnya lirih. Sangat miris hati ini saat mendengar suara lembutnya mengatakan kalimat itu.

Anak kecil selalu terlihat lugu memang, terkadang dia terlihat bahagia dan sedih di waktu bersamaan secara tiba-tiba. Tidak peduli akan masa depan, yang terpenting baginya hanya bermain dan bersenang-senang. Hal yang bagi kita sulit sekalipun tidak menjadi kekhawatiran baginya. Bagiku, keponakanku yang kini menjadi adikku adalah sumber inspirasiku untuk tetap tegar dalam menjalani hidup.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Nimas Afridha Aprilianti
Politeknik Negeri jakarta

Komentar

Berita lainnya