Scroll untuk baca artikel
Health

Ketika Pengetahuan Tak Cukup: Mengapa Orang Dewasa Tetap Merokok Meski Tahu Bahayanya?

×

Ketika Pengetahuan Tak Cukup: Mengapa Orang Dewasa Tetap Merokok Meski Tahu Bahayanya?

Sebarkan artikel ini
Ketika Pengetahuan Tak Cukup: Mengapa Orang Dewasa Tetap Merokok Meski Tahu Bahayanya?

DEPOKPOS  – Peringatan bergambar di bungkus rokok sudah semakin besar, iklan rokok dibatasi, dan kampanye hidup sehat terdengar di mana-mana. Namun, satu pertanyaan tetap muncul berulang kali: mengapa banyak orang dewasa masih merokok padahal mereka tahu risikonya? Kondisi ini bisa dilihat hampir di mana saja, mulai dari warung kopi, pinggir jalan, hingga area tempat kerja. Kehadiran rokok seolah menjadi hal yang lumrah dan diterima begitu saja dalam kehidupan sehari-hari.

Merokok bahkan sering dianggap sebagai “teman” dalam berbagai suasana, baik ketika sedang beristirahat maupun saat berdiskusi dengan rekan kerja. Banyak orang memulainya sejak remaja dan kemudian terbawa terus hingga usia dewasa. Padahal pemahaman tentang bahaya merokok sebenarnya sudah mereka miliki sejak lama. Ironi ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pengetahuan. Ada faktor-faktor lain yang membuat perilaku merokok tetap kuat meskipun risiko kesehatan telah diketahui dengan jelas.

Apa yang Ditunjukkan Data GATS 2021?
Data Global Adult Tobacco Survey tahun 2021 memberikan gambaran yang cukup menarik. Mayoritas responden dewasa memiliki pengetahuan yang baik mengenai dampak negatif merokok. Mereka tahu rokok dapat menyebabkan kanker paru-paru, memicu penyakit jantung, dan stroke. Pengetahuan ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah memahami risiko kesehatan yang mereka hadapi.

Masalahnya, pengetahuan tersebut tidak serta-merta mengubah perilaku. Kelompok usia 25 hingga 44 tahun yang merupakan usia produktif justru mencatat konsumsi rokok yang sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang merokok setiap hari dan dalam jumlah yang cukup besar. Artinya, meskipun mereka paham bahwa merokok dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain, kebiasaan tersebut tetap berlanjut. Fakta ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara apa yang dimengerti dan apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesenjangan inilah yang menandakan bahwa keputusan seseorang untuk merokok tidak hanya dipengaruhi oleh wawasan atau informasi, tetapi oleh berbagai hal lain yang mungkin jauh lebih kuat dalam memengaruhi perilaku.

Mengapa Pengetahuan Tidak Mengubah Perilaku?

Mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mampu mengubahnya. Hal ini juga berlaku dalam kebiasaan merokok. Ada beberapa alasan mengapa perilaku merokok tetap bertahan meski seseorang sadar sepenuhnya akan risikonya.

Pengaruh Lingkungan

Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan merokok. Di tempat kerja, saat berkumpul dengan tim, atau ketika mengopi, rokok sering dianggap sebagai pelengkap. Situasi seperti ini menjadikan rokok bagian dari rutinitas, sesuatu yang sulit dilepaskan begitu saja. Ketika orang-orang di sekitar juga merokok, dorongan untuk berhenti menjadi semakin kecil.

Faktor Psikologis

Tekanan pekerjaan, stres, dan tuntunan hidup sering membuat orang mencari cara praktis untuk menenangkan diri. Rokok menjadi salah satu pelarian yang dianggap efektif memberikan rasa lega. Sensasi relaksasi yang muncul dalam hitungan detik membuat kebiasaan ini semakin kuat. Bagi sebagian orang, merokok justru dianggap sebagai bentuk pengendalian diri, padahal kenyataannya mereka semakin bergantung pada rokok dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan yang Terlanjur Melekat

Merokok bukan hanya persoalan kecanduan nikotin, tetapi juga kebiasaan. Banyak orang memulai hari dengan rokok, beristirahat dengan rokok, atau menutup aktivitas tertentu dengan rokok. Pola yang berulang ini menyebabkan rokok menjadi bagian yang sulit dilepaskan dalam keseharian.
Akses Rokok yang Sangat Mudah
Harga rokok yang terjangkau dan ketersediaannya di berbagai tempat membuat masyarakat sangat mudah mendapatkan rokok. Hal ini turut memperkuat perilaku merokok meskipun masyarakat sudah mengetahui risikonya.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Jika pengetahuan tidak cukup untuk menghentikan perilaku merokok, artinya diperlukan langkah-langkah yang lebih luas. Lingkungan bebas rokok perlu diterapkan secara konsisten agar masyarakat semakin terbiasa berada di ruang yang sehat dan bersih dari asap rokok. Ketika ruang publik benar-benar bebas rokok, perilaku merokok tidak lagi mendapatkan dukungan lingkungan.

Selain itu, dukungan psikologis bagi individu yang ingin berhenti merokok sangat penting. Banyak orang membutuhkan bantuan untuk mengelola stres dan tekanan emosional tanpa harus bergantung pada rokok. Konseling, layanan berhenti merokok, serta dukungan dari keluarga dan teman dekat dapat membantu memperkuat tekad untuk berhenti.

Penguatan regulasi juga menjadi langkah penting. Pembatasan akses dan promosi produk tembakau dapat membantu mengurangi kemudahan membeli rokok. Semakin sulit rokok diperoleh, semakin besar peluang seseorang untuk mengurangi konsumsinya.

Upaya-upaya tersebut diharapkan mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk membuat keputusan yang lebih sehat. Perilaku merokok tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kebiasaan, lingkungan, dan kondisi psikologis. Dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, perubahan perilaku menjadi lebih mungkin terjadi, sehingga masyarakat dapat melangkah menuju hidup yang lebih sehat dan berkualitas.

Penulis: Almira Faradia Suryawan, Amelia Putri Hardiana, Angelica Advenia Marsaulina Napitupulu, Khoirun Nisa Ramadhan