Scroll untuk baca artikel
Health

“Doomscrolling”: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk?

×

“Doomscrolling”: Mengapa Kita Sulit Berhenti Membaca Berita Buruk?

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Pernahkah Anda berniat hanya mengecek ponsel selama lima menit sebelum tidur, namun berakhir menatap layar selama berjam-jam untuk membaca rentetan berita buruk, konflik, atau krisis ekonomi? Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi kontemporer sebagai doomscrolling.
​
Di era digital saat ini, arus informasi mengalir tanpa henti di telapak tangan kita. Namun, disadari atau tidak, jempol kita sering kali lebih betah menggulir berita-berita tentang tragedi dan masalah. Pertanyaannya, mengapa kita secara sukarela menyiksa diri dengan asupan informasi yang memicu kecemasan?

Bias Negativitas: Warisan Leluhur di Otak Kita

​Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan bawaan yang disebut negativity bias atau bias negativitas. Otak kita berevolusi untuk merespons informasi negatif dan ancaman jauh lebih cepat daripada merespons hal-hal positif.

​Di masa purba, kemampuan mendeteksi bahaya secara cepat adalah kunci utama untuk bertahan hidup. Saat ini, meskipun kita tidak lagi hidup di hutan belantara dan dikejar predator, otak kita masih memproses berita buruk di layar ponsel sebagai “ancaman” yang harus dipantau. Akibatnya, kita terus menggulir layar dengan dalih mencari informasi agar bisa bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk.

​Siklus Dopamin dan Ilusi Kendali

​Selain bias negativitas, desain algoritma media sosial dan portal berita juga ikut bermain. Setiap kali kita menyegarkan halaman atau menemukan informasi baru, otak mendapatkan “hadiah” berupa pelepasan dopamin. Ironisnya, hal ini tetap terjadi meskipun informasi yang kita dapatkan memicu stres.

​Menurut para ahli psikologi, doomscrolling adalah cara pikiran kita mencoba mendapatkan kembali ilusi kendali. Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, kita merasa seolah-olah dengan mengetahui setiap detail berita buruk, kita menjadi lebih siap menghadapinya. Padahal, kita justru terjebak dalam pusaran informasi yang memperkuat rasa tidak berdaya.

Berdasarkan riset yang diterbitkan dalam jurnal Health Communication pada tahun 2022 oleh Bryan McLaughlin dan timnya, Dampak Tersembunyi pada Kesehatan Mental

​Kebiasaan doomscrolling bukanlah tanpa risiko. Terlalu sering membiarkan pikiran terpapar tragedi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental, antara lain:

​Peningkatan Kecemasan Kronis: Sistem saraf simpatik terus menyala, memproduksi hormon stres seperti kortisol yang membuat detak jantung berdebar dan pikiran gelisah.

​Gangguan Tidur (Insomnia): Cahaya biru dari layar dipadukan dengan pikiran yang cemas membuat otak kesulitan memproduksi melatonin, sehingga tubuh sulit untuk beristirahat.

​Kelelahan Emosional (Burnout): Rasa lelah dan apatis yang mendalam akibat kapasitas empati yang terkuras habis oleh berita duka dari berbagai penjuru.

​Cara Memutus Siklus Beracun

​Memutus kebiasaan ini membutuhkan kesadaran dan kedisiplinan. Berikut adalah beberapa langkah psikologis sederhana yang bisa segera Anda terapkan:

​Terapkan “Diet” Informasi: Gunakan fitur pengingat di ponsel pintar Anda untuk membatasi waktu penggunaan media sosial atau aplikasi berita maksimal 30 menit per hari.

​Cari Keseimbangan Informasi: Setelah membaca berita yang berat, latih otak Anda untuk mencari keseimbangan dengan membaca atau menonton konten yang positif, solutif, atau sekadar hiburan ringan yang mengundang tawa.

​Jauhkan Ponsel Sebelum Tidur: Ganti kebiasaan membaca berita sebelum tidur dengan rutinitas low-dopamine, seperti membaca buku fisik, menulis jurnal rasa syukur (gratitude journal), atau mendengarkan musik yang menenangkan.

​Menjadi warga negara yang terinformasi dan peduli pada isu sosial memang sangat penting. Namun, menjaga kewarasan dan stabilitas pikiran jauh lebih fundamental. Hari ini, cobalah matikan layar Anda sejenak, tarik napas dalam-dalam, dan sadari bahwa dunia nyata sedang menunggu Anda di luar sana.

NAMA : Fransisco adiftyan siringo ringo
PRODI : Psikologi
FAKULTAS : FBIS