DEPOKPOS – Mengapa semakin sibuk justru membuat kita merasa “kosong”? Pernahkah Anda merasa bersalah saat duduk diam dan tidak melakukan apa-apa selama sepuluh menit saja? Atau, apakah Anda merasa harus selalu produktif, belajar hal baru, dan menyelesaikan tugas bahkan di hari libur?
Kalau jawabannya iya, Anda tidak sendirian. Banyak dari kita yang tanpa sadar terjebak dalam hustle culture—sebuah fenomena di mana nilai diri kita seolah-olah hanya diukur dari seberapa sibuknya kita setiap hari.
Anehnya, makin kita memaksakan diri untuk sibuk, bukannya merasa puas, kita justru sering kali merasa lelah luar biasa, hampa, dan berujung pada perasaan “kosong”. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Mengenal Toxic Productivity dan Efeknya ke Mental
Dalam psikologi, kondisi ini sering kali berkaitan dengan toxic productivity atau produktivitas yang berlebihan hingga merugikan diri sendiri. Ini adalah obsesi untuk selalu menghasilkan sesuatu, sampai-sampai kita lupa menyayangi tubuh dan pikiran kita sendiri.
Bayangkan tubuh dan pikiran kita seperti baterai ponsel. Jika kita terus-menerus membuka aplikasi yang berat tanpa henti, baterai akan cepat habis dan mesinnya menjadi sangat panas (overheat). Manusia pun demikian. Ketika kita memaksa otak untuk bekerja penuh tanpa jeda, sistem dalam tubuh kita akan mengalami burnout—kondisi stres kronis yang membuat kita kelelahan secara fisik dan emosional.
Saat burnout ini datang, di situlah rasa hampa itu muncul. Kita mulai kehilangan motivasi, merasa apa yang kita kerjakan sia-sia, dan ujung-ujungnya merasa asing dengan diri sendiri.
Kenapa Kita Begitu Takut untuk Beristirahat?
Salah satu pemicu utamanya adalah rasa cemas atau FOMO (Fear of Missing Out). Di era media sosial seperti sekarang, kita sangat mudah melihat pencapaian orang lain yang tampak begitu luar biasa di usia muda.
Melihat hal itu, kita sering kali merasa tertinggal dan langsung memacu diri terlalu keras. Kita mengambil semua tanggung jawab dan pekerjaan yang ada, sampai lupa menyisakan waktu untuk sekadar bernapas lega. Padahal, setiap orang punya porsinya masing-masing, dan apa yang tampak di media sosial tidak selalu seindah realitasnya.
Cara Bijak Menjaga Produktivitas dan Kesehatan Mental
Agar kita tetap bisa berkembang tanpa harus mengorbankan kebahagiaan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita coba:
Pahami bahwa Istirahat adalah Bagian dari Proses: Istirahat bukanlah tanda malas. Justru dengan istirahat yang cukup, fokus dan kreativitas kita akan kembali optimal saat bekerja nanti.
Buat Batasan yang Tegas (Boundary): Belajarlah untuk berkata “tidak” pada tugas tambahan jika kapasitas kita memang sudah penuh. Dedikasikan waktu setelah jam kerja atau kuliah khusus untuk diri sendiri dan keluarga.
Kurangi Membandingkan Diri: Jika melihat pencapaian orang lain di dunia maya mulai membuat Anda cemas, tidak apa-apa untuk mengambil jeda sejenak dari media sosial demi menjaga kedamaian pikiran.
Catatan Kecil: Menjadi produktif demi masa depan tentu sangat baik, tetapi menjaga kesehatan fisik dan mental adalah investasi terbaik yang kita miliki. Berproseslah dengan bijak, dan jangan lupa untuk bersikap baik pada diri sendiri hari ini.
Oleh: Raden Ayu Khasanah,mahasiswa Universitas Binawan
