Scroll untuk baca artikel
Oase

Kajian Muslimah: Tiga Alasan Harus Bersegera Melaksanakan Syariat

×

Kajian Muslimah: Tiga Alasan Harus Bersegera Melaksanakan Syariat

Sebarkan artikel ini
Kajian Muslimah: Tiga Alasan Harus Bersegera Melaksanakan Syariat

DEPOK – Aktivis Dakwah, Ustadzah Mega Marlina mengungkapkan setidaknya ada tiga alasan mengapa kita harus bersegera melaksanakan syariat.

Hal tersebut diungkapnya dalam Kajian Muslimah Rutin, Bersegera Melaksanakan Syariat, Sabtu (4/10/2025) di Cipayung Depok.

Adapun ketiga alasan tersebut yakni: Pertama, perintah Allah SWT. “Kalau kita mendapat panggilan telepon dari Presiden Indonesia, kemudian diminta segera melakukan sesuatu, apakah kita, bersegera memenuhi permintaannya, atau mengabaikannya? Nah, bagaimana sikap kita, jika yang memanggil dan menyuruh Allah SWT Pencipta dan Penguasa alam semesta?” tanyanya pada sekitar enam belas jemaah yang hadir.

“Kalau diperintah oleh kepala negara saja kita akan meresponsnya dengan sigap, mestinya kita lebih sigap jika yang meminta adalah Allah Pencipta dan Penguasa alam semesta,” tambahnya.

Lalu, menurutnya, Mukmin yang baik itu, sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat) terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukan sami’na wa pikir-pikir (kami dengar lalu kami pikir-pikir dulu).

“Kalau cocok sama pemikiran (logika dan nurani) baru dijalanin, kalau bertentangan enggak usah diikutin dan bikin aturan hidup sendiri saja, kalau keliatannya ga mampu (males) ngejalanin, ya pura-pura ga tau aja,” ujarnya.

Kedua, mendapat ampunan. “Kalau kita punya kesalahan kepada guru, orang tua atau pasangan, apa yang akan kita lakukan? Minta maaf, memperbaiki kesalahan dan bersegera melakukan apa yang diminta. Agar apa? Agar dapat ampunan (pemaafan),” terangnya.

Hal tersebut lanjutnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits, “Semua anak Adam melakukan kesalahan dan sebaik baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi).

“Ampunan berarti terbebasnya manusia dari siksa. Menurut Wahbah al-Zuhaili, kata ampunan didahulukan daripada surga karena orang yang belum bersih dari dosa tidak berhak masuk surga. Sehingga sebelum masuk surga, seorang hamba harus terlebih dahulu memperoleh ampunan-Nya. Maksudnya adalah bersegera kepada segala sesuatu yang meniscayakan teraihnya ampunan. Bahkan, Al-Qurthubi dan al-Qinuji menyebutnya, itu adalah dengan ketaatan, Al-Khazin menyatakan itu adalah amal shalih yang diperintahkan untuk dikerjakan,” bebernya.

Ketiga, meraih surga. “Kalau ada orang yang mau memberikan istana megah berharga miliaran rupiah; ditambah pasangan yang rupawan, sebaya dan penuh cinta; berbagai perabotan mewah; makanan dan minuman berlimpah; juga ratusan pelayan yang siap melayani apa pun yang diminta, apakah kita akan bersemangat dan bersegera memenuhi apa yang diminta oleh orang yang akan memberikan hal-hal di atas?” tanyanya kepada hadirin yang hadir.

Ia pun membacakan sebuah hadits, “Demi Tuhan Ka’bah (Allah), surga adalah cahaya yang memancar, harum semerbak, istana megah, sungai yang tersusun, buah yang masak, istri yang cantik, perhiasan berlimpah, tempat yang abadi, bumi kesentausaan, camilan dan sayuran hijau, kesenangan dan kenikmatan, dan tempat yang tinggi menjulang” (HR. Ibnu Majah).

“Surga jauh lebih bernilai surga penuh kenikmatan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadit Ibnu Abu Dunya yang artinya, “Tanah surga berwarna putih, halamannya berupa batuan marmer. la dikelilingi kesturi seperti tuangan pasir. Didalamnya terdapat sungai-sungai yang tersusun. Di sana penghuni surga dari tingkatan yang rendah dan tinggi bersua lalu saling berkenalan. Allah lalu menghembuskan angin rahmat, lalu tersebarlah wangi kesturi. Seorang laki-laki pulang menemui istrinya dalam keadaan yang semakin anggun dan wangi,” pungkasnya. [Siti Aisyah]