Scroll untuk baca artikel
Artikel

Gratis Ongkir, Cashback, dan Diskon: Benarkah Kita Hemat atau Justru Makin Boros?

×

Gratis Ongkir, Cashback, dan Diskon: Benarkah Kita Hemat atau Justru Makin Boros?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Maytsa Aqeela Sagitra

Gratis Ongkir, Cashback, dan Diskon: Benarkah Kita Hemat atau Justru Makin Boros?

DEPOKPOS – Pernah tidak, awalnya hanya berniat melihat-lihat marketplace, tetapi akhirnya ikut checkout karena ada gratis ongkir, cashback, atau diskon? “Lumayan, dapat potongan harga,” begitu biasanya kita berpikir, padahal barang itu mungkin tidak pernah masuk daftar kebutuhan kita. Godaan ini makin mudah muncul karena belanja kini serba praktis. Bank Indonesia (2026) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II 2026, tumbuh 36,88% secara tahunan, sementara transaksi QRIS tumbuh 100,12%. Data ini belum membuktikan kita menjadi lebih boros, tetapi menunjukkan bahwa jarak antara keinginan dan pembayaran semakin pendek.

Dari sisi bisnis, diskon, cashback, dan gratis ongkir memang strategi promosi yang dirancang untuk mendorong pembelian. Wijaya, Hernawan, dan Suhardi (2026) meneliti 160 konsumen e-commerce di Kota Tangerang dan menemukan bahwa cashback, free shipping, dan flash sale berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, dengan flash sale sebagai pengaruh yang paling dominan. Perlu dicatat, sampelnya terbatas pada satu kota, dan keputusan pembelian tidak selalu berarti pembelian yang tidak dibutuhkan. Meski begitu, temuan ini menunjukkan bahwa promo bukan sekadar “bonus” bagi pelanggan, melainkan alat yang efektif untuk meningkatkan transaksi.

Bagi konsumen, promo bisa menguntungkan sekaligus menjebak. Diskon meningkatkan persepsi penghematan, sedangkan gratis ongkir menurunkan hambatan biaya saat checkout, dan keduanya dapat memicu impulse buying, yaitu pembelian spontan tanpa perencanaan (Rook, 1987). Beberapa konsep perilaku konsumen membantu menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Menurut konsep anchoring (Tversky & Kahneman, 1974), angka pertama yang kita lihat menjadi patokan penilaian. Karena itu, harga coret membuat harga diskon terasa murah, padahal belum tentu barangnya kita butuhkan. Hitung mundur flash sale memunculkan rasa takut ketinggalan (FOMO). Cashback terasa seperti “uang bonus” yang ringan dibelanjakan, sebuah contoh mental accounting, yaitu kebiasaan memperlakukan uang secara berbeda tergantung asalnya (Thaler, 1999).

Contohnya mudah ditemui. Barang Rp100.000 yang didiskon 20% memang menghemat Rp20.000, tetapi kita tetap mengeluarkan Rp80.000 untuk sesuatu yang tidak direncanakan. Hal yang sama terjadi pada gratis ongkir. Awalnya kita hanya ingin membeli satu barang seharga Rp70.000, tetapi demi memenuhi syarat minimal belanja Rp100.000 kita menambahkan barang lain ke keranjang. Ongkir Rp15.000 batal dibayar, tetapi pengeluaran naik Rp30.000 atau lebih (ilustrasi). Masalahnya diperparah oleh pemahaman keuangan yang belum sejalan dengan akses. Survei SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan 66,46%, sedangkan inklusi keuangan 80,51% (OJK & BPS, 2025). Lebih banyak orang memakai layanan keuangan daripada yang benar-benar paham mengelolanya, sehingga lebih rentan tergoda promo.

Lalu, bagaimana menyikapinya? Buat daftar belanja sebelum membuka aplikasi, terapkan aturan tunggu 24 jam sebelum checkout, dan tetapkan anggaran belanja bulanan. Pada akhirnya, promo bukanlah sesuatu yang buruk: bagi perusahaan ia bagian dari pemasaran, dan bagi konsumen ia menguntungkan jika dipakai untuk barang yang memang sudah direncanakan. Sebelum menekan tombol checkout, coba bayangkan promonya hilang, tidak ada potongan harga, uang kembali, maupun bebas ongkos kirim. Apakah barang ini tetap akan kita beli? Jika jawabannya tidak, mungkin yang kita dapatkan bukan penghematan, melainkan hanya perasaan sedang berhemat.

Maytsa Aqeela Sagitra

Konsep-Konsep Bisnis
Artikel

Oleh: Apliana Kaka Daha, mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang