Scroll untuk baca artikel
Artikel

Mudah Bayar, Mudah Boros: Pengaruh Cashless terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa

×

Mudah Bayar, Mudah Boros: Pengaruh Cashless terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Naila Intan Lesmana. Universitas Tazkia, Bogor, Indonesia

Mudah Bayar, Mudah Boros: Pengaruh Cashless terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa

DEPOKPOS – Sepulang kuliah, kamu mampir membeli minuman seharga Rp15.000. Dompet kosong? Tidak masalah, ponsel ada di tangan. Buka aplikasi, scan QRIS, selesai dalam hitungan detik. Beberapa jam kemudian kamu memesan makanan lewat aplikasi, lalu tergoda membeli sesuatu karena ada cashback. Tiap transaksi terasa kecil, tetapi coba lihat saldomu di akhir minggu.

Ketika Uang Tidak Terasa Keluar

Kebiasaan ini tidak hanya dialami segelintir orang. Menurut Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, naik 40,36 persen dibanding Agustus tahun sebelumnya. Transaksi QRIS tumbuh 67,22 persen pada periode yang sama (Kontan, 2026). Angka ini memang data nasional, bukan khusus mahasiswa, tetapi cukup menggambarkan betapa cepat orang beralih ke pembayaran digital. QRIS sendiri adalah standar kode QR pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia agar transaksi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal (Bank Indonesia, n.d.).

Meski begitu, uang tunai belum ditinggalkan. Uang kartal yang diedarkan pada bulan yang sama mencapai Rp1.332 triliun, naik 12,88 persen secara tahunan (Kontan, 2026). Artinya, pembayaran digital lebih banyak menambah pilihan cara bayar daripada langsung menggantikan semuanya.

Bagi mahasiswa, kemudahan ini jelas membantu. Kita tidak perlu membawa banyak uang tunai, dan riwayat transaksi tersimpan di aplikasi. Masalahnya, saat membayar tunai kita melihat langsung uang keluar dari dompet, sedangkan membayar digital cukup beberapa sentuhan di layar. Proses yang terlalu mulus ini bisa membuat pengeluaran kurang terasa.

Beberapa penelitian mengarah ke hal serupa. Setiyani dan Suratno (2026) menyurvei 192 mahasiswa ekonomi di Semarang dan menemukan bahwa kemudahan akses fintech berpengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif, yaitu pembelian tanpa direncanakan. Kasnelly dkk. (2026) meneliti 80 mahasiswa di Kuala Tungkal dan menemukan bahwa gaya hidup cashless serta seringnya memakai dompet digital sama-sama meningkatkan perilaku konsumtif. Tentu, kedua penelitian ini berskala kecil dan dilakukan di tempat tertentu, jadi hasilnya belum tentu berlaku untuk semua mahasiswa.

Kecil-Kecil, Lama-Lama Jadi Besar

Uang mahasiswa jarang bocor lewat satu pembelian besar. Biasanya justru dari yang kecil-kecil. Sebagai gambaran (bukan data penelitian), bayangkan kopi Rp20.000, camilan Rp15.000, ongkos tambahan Rp10.000, dan makan di luar Rp25.000. Totalnya Rp70.000 per hari. Kalau terjadi setiap hari, dalam seminggu sudah hampir Rp500.000, padahal tiap pembayarannya terasa ringan. Promo dan cashback bisa memperparah keadaan, karena kita merasa untung padahal uang tetap keluar untuk barang yang mungkin tidak kita perlukan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Tidak perlu meninggalkan pembayaran digital. Mulai saja dari langkah sederhana. Pertama, catat semua pengeluaran, termasuk yang receh. Riwayat transaksi di aplikasi bisa membantu. Kalau polanya sudah terlihat, kita bisa memutuskan mana yang layak dikurangi. Kedua, tentukan batas belanja harian atau mingguan. Kalau perlu, pisahkan uang untuk kebutuhan pokok dan uang jajan supaya tidak tercampur. Ketiga, tanyakan pada diri sendiri sebelum membayar: ini kebutuhan atau cuma keinginan? Keempat, jangan tergiur promo hanya karena terlihat murah. Kelima, cek pengeluaran secara rutin supaya tahu uangnya pergi ke mana. Langkah konkret seperti ini penting karena Setiyani dan Suratno (2026) juga menemukan bahwa pengetahuan literasi keuangan saja tidak berpengaruh signifikan terhadap pembelian impulsif. Tahu teorinya belum tentu mengubah kebiasaan.

Cashless Bukan Satu-Satunya Penyebab

Hal ini nyambung dengan yang kita pelajari di mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Perkembangan teknologi keuangan memang mempermudah transaksi, tetapi perlu diimbangi sikap bijak dalam mengelola harta. Teknologi pembayaran seperti QRIS hanyalah alat. Baik atau tidaknya dampaknya bergantung pada cara kita memakainya. Islam tidak melarang kita menikmati rezeki yang halal, tetapi mengingatkan agar tidak berlebih-lebihan (QS. Al-A’raf: 31). Kasnelly dkk. (2026) juga menemukan bahwa kontrol diri dan nilai-nilai Islam berkaitan dengan menurunnya perilaku konsumtif mahasiswa.

Jadi, cashless bukan satu-satunya penyebab boros. Perilaku konsumtif juga dipengaruhi kontrol diri, gaya hidup, promosi, dan kondisi keuangan masing-masing orang. Pembayaran digital memang membuat belanja jadi gampang, tetapi keputusan untuk membeli tetap ada di tangan kita. Karena itu, yang perlu kita latih bukan hanya cara memakai aplikasinya, melainkan juga cara mengatur uang di baliknya. Satu kali scan tetap pengeluaran nyata, dan kebiasaan kecil yang dijaga sejak sekarang akan sangat menolong ketika kita mulai mengelola keuangan sendiri.

Konsep-Konsep Bisnis
Artikel

Oleh: Apliana Kaka Daha, mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang