DEPOKPOS – Bayangkan seseorang yang sedang merasa tidak enak badan, nyeri otot, batuk, dan merasa sumeng, namun tetap pergi ke mal. Dengan tujuan untuk berjalan-jalan ataupun bekerja di Mal. Mungkin difikirannya hanya sedikit kelelahan, cape, atau terkena flu ringan sehingga orang tersebut tetap berangkat ke mal dan menghiraukan alarm tubuhnya.
Diantara pengunjung mal yang banyak, ada seorang bayi yang berusia 11 bulan bersama keluarganya. Tentu saja kita tidak dapat men-judge satu pertemuan singkat untuk sebuah penularan virus diantara orang-orang di ruangan yang ramai. Namun, keputusan untuk tetap berpergian saat sedang tidak enak badan membawa resiko yang tidak selalu terlihat saat itu juga.
Beberapa hari kemudian, bayangkan bayi kecil 11 bulan tersebut demam. Pada sebagian kecil, bayi sampai usia 5 tahun yang mengalami demam akibat infeksi dapat memicu kejang demam. Bila ini terjadi, keluarganya tentu harus segara mencari pertolongan medis untuk memastikan penyebab kejang dan kondisi anak.
Pada anak lain, influenza dapat berkembang menjadi lebih buruk, pneumonia misalnya. Bergantung pada kondisi setiap anak. Hal ini merupakan rangkaian kemungkinan, bukan sebuah kisah nyata atau kepastian bahwa setiap bayi yang tertular influenza akan mengalami kejang demam, dirawat, maupun terkena pneumonia.
Justru, akibat dari penularan virus yang memberikan efek berbeda bagi setiap orang, maka influenza yang sering dianggap ‘cuma flu’ sebaiknya tidak dianggap remeh.
Adanya kebiasaan menyebut infeksi pernapasa sebagai ‘flu biasa’ dapat membuat kira menganggap remeh. Musim flu yang dianggap sepele ini dapat menyebabkan penyakit berat, terutama pada lansia, ibu hamil, anak kecil, dan orang dengan penyakit kronis atau mereka yang memiliki gangguan kekebalan tubuh.
Banyak orang yang berangsur pulih, namun sebagian lainnya memerlukan perawatan medis yang lebih serius. Pada anak kecil, sistem kekebalan tubuh masih berkembang, sehingga perlindungan mereka bergantung kepada Tindakan orang dewasa di sekelilingnya.
WHO menjelaskan bahwa di wilayah tropis, virus influenza dapat bersirkulasi sepanjang tahun. Artinya, perlu ada etika saat seseorang sakit atau tidak enak badan, seperti: menunda jalan-jalan ke mal dan memilih beristirahat di rumah saat demam atau tidak enak badan, memakai masker apabila harus berada dekat orang lain, menutup mulut dan hidung saat batuk, serta perlunya menjaga kebersihan tangan.
Tindakan sederhana ini dapat melindungi orang yang mungkin akan mengalami efek berat apabila tertular. Pilihan menunda rekreasi atau perjalanan juga dapat dilakukan. Sedangkan, pilihan untuk bekerja dan kuliah seringkali bergantung pada Lembaga atau Institusi.
Vaksinasi influenza perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Diketahui bahwa virus influenza dapat berubah dari waktu ke waktu sehingga komposisi vaksin ditinjau secara berkala berdasarkan pemantauan virus yang beredar.
Vaksin tidak dapat menjamin seseorang tidak terkena sama sekali influenza, namun ini salah satu cara untuk mengurangi resiko penyakit dan komplikasi, terutama pada kelompok yang dianjurkan mendapatkan vaksin influenza. Informasi tentang vaksin influenza sebaiknya dibahas dengan dokter sesuai kondisi masing-masing.
Pemeriksaan dan pengobatan influenza juga tidak selalu sama untuk setiap orang yang batuk dan demam. Gejala influenza dapat menyerupai infeksi saluran napas lain. Orang dengan kondisi sesak napas, kondisi yang memburuk, atau faktor risiko penyakit berat perlu mendapat penilaian medis dari dokter, bergantung kepada kondisi pasien.
Sementara itu, pemantauan penyakit menjadi penting. Data dari fasilitas kesehatan membantu petugas mengenali kapan kasus meningkat dan kelompok mana yang paling terdampak. Kasus positif kumulatif tahun 2025 terbanyak dilaporkan di DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan DI Yogyakarta.
Adapun data hinga 18 April 2026 menunjukkan bahwa proporsi influenza meningkat di minggu ke 14, dari 27% sampai 23% daripada minggu sebelumnya. Kasus influenza terdeteksi 35% terjadi pada kelompok usia 18.
Informasi mengenai pemantauan penyakit memungkinkan sekolah, kampus, tempat kerja, dan keluarga menyesuaikan langkah pencegahan tanpa perlu menunggu ruang rumah sakit dipenuhi oleh orang sakit.
Influenza mengingatkan kita bahwa literasi Kesehatan tidak berhenti pada mengenali nama penyakit. Namun kita perlu tahu kapan harus beristirahat, siapa yang lebih rentan, kapan mencari pertolongan dan bagaimana memeberi ruang bagi orang sakit untuk tidak menularkan penyakit.
Jalan-jalan ke mal dapat ditunga, bagi bayi yang sakit dan keluarganya, perjalanan ke rumah sakit mungkin tidak bisa ditunda.
Niken Rahmah Ghanny
Dosen Departemen Biokimia, FK UPN ‘Veteran’ Jakarta

