Pernah nggak kamu melihat sebuah berita atau video politik yang tiba-tiba muncul berkali-kali di media sosial?
Karena muncul terus, kita bisa saja mulai merasa bahwa informasi tersebut pasti penting, bahkan mungkin benar.
Apalagi kalau jumlah views-nya sudah jutaan dan kolom komentarnya
dipenuhi orang yang membicarakan hal yang sama.
Tapi, apakah sesuatu yang viral memang otomatis benar?
Di era media sosial, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting. Informasi politik dapat menyebar dalam hitungan menit melalui TikTok, Instagram, X, YouTube, dan berbagai platform lainnya.
Masyarakat tidak hanya menerima
informasi, tetapi juga ikut menyebarkan, memberikan komentar, membuat ulang konten, bahkan membentuk opini
terhadap suatu isu. Masalahnya, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu berjalan bersama dengan kebenaran informasi. Politik Sekarang
Tidak Hanya Dibicarakan di Ruang Formal
Pembicaraan politik saat ini tidak lagi hanya ditemukan dalam debat, berita televisi, atau forum resmi. Media sosial
telah menjadi salah satu ruang tempat masyarakat berdiskusi mengenai kebijakan, tokoh, isu sosial, hingga berbagai peristiwa politik.
Perubahan ini sebenarnya memberikan kesempatan yang cukup besar bagi masyarakat untuk ikut terlibat dalam
komunikasi politik. Siapa pun dapat menyampaikan pendapat tanpa harus menjadi jurnalis atau tokoh politik terlebih dahulu.
Namun, ruang yang terbuka juga berarti informasi dapat datang dari berbagai sumber dengan tingkat kredibilitas yang
berbeda.
Satu orang dapat membagikan informasi
berdasarkan sumber yang jelas, sementara pengguna lain dapat menyebarkan informasi hanya karena merasa kontennya menarik atau sesuai dengan pandangannya.
Di sinilah persoalan mulai muncul.
Kenapa Informasi yang Viral Terasa Lebih Meyakinkan?
Salah satu kekuatan media sosial adalah kemampuan sebuah konten untuk mendapatkan perhatian dalam waktu singkat.
Ketika sebuah video sudah ditonton jutaan kali, dibagikan ribuan kali, dan muncul berulang kali di beranda, konten
tersebut dapat terlihat seperti sesuatu yang sedang menjadi perhatian semua orang.
Padahal, viralitas tidak selalu menunjukkan bahwa informasi tersebut benar atau bahwa seluruh masyarakat memiliki pandangan yang sama.
Algoritma platform juga memiliki peran dalam proses ini.
Konten yang mendapatkan banyak interaksi dapat semakin sering muncul kepada pengguna lain, sementara aktivitas pengguna sebelumnya juga dapat memengaruhi jenis konten
yang direkomendasikan kepada mereka.
Pada September 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menjelaskan bahwa distribusi informasi
semakin bergeser dari ruang redaksi menuju algoritma platform digital. Algoritma mempelajari perilaku pengguna dan kemudian ikut menentukan informasi apa yang lebih
banyak sampai kepada mereka.
Artinya, apa yang terlihat ramai di beranda seseorang belum tentu terlihat sama bagi orang lain.
Hoaks Bisa Ikut Menjadi Bagian dari Percakapan Politik
Persoalan menjadi lebih serius ketika informasi yang mendapatkan perhatian ternyata tidak benar.
Pada Agustus 2026, Komdigi mengingatkan masyarakat mengenai banyaknya konten aksi demonstrasi yang beredar di media sosial, tetapi sebagian merupakan video lama atau
hasil editan. Konten semacam ini dapat membuat masyarakat memahami suatu peristiwa berdasarkan konteks yang keliru.
Komdigi juga mengingatkan bahwa konten lama yang kembali diunggah tanpa keterangan waktu dapat menimbulkan persepsi yang salah.
Sebuah foto atau video yang memang pernah terjadi bisa terlihat seperti peristiwa baru jika konteks waktunya dihilangkan.
Dalam komunikasi politik, persoalan seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Informasi yang salah tetap dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah isu meskipun kemudian diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar.
Algoritma Tidak Memeriksa Fakta
Hal menarik lainnya adalah bahwa algoritma bekerja berdasarkan pola interaksi, bukan berdasarkan kemampuan untuk menentukan apakah sebuah informasi benar atau salah.
Wamen Komdigi Nezar Patria juga menyampaikan bahwa algoritma platform tidak melakukan proses check and recheck terhadap informasi. Karena itu, rumor, misinformasi, dan disinformasi dapat ikut beredar di ruang digital.
Akibatnya, konten yang menarik perhatian dapat terus mendapatkan engagement meskipun isi informasinya belum tentu akurat.
Misalnya, sebuah video dengan judul yang provokatif mungkin membuat orang penasaran sehingga banyak yang
menonton. Sebagian orang kemudian membagikannya karena marah, sebagian lagi membagikannya untuk membantah.
Namun, dari sisi algoritma, keduanya tetap merupakan bentuk interaksi. Konten tersebut akhirnya semakin terlihat.
Di sinilah muncul situasi yang cukup ironis: orang bisa ikut membuat sebuah informasi semakin viral justru ketika
mereka sedang berusaha membantahnya.
Ketika Linimasa Terasa Seperti Gambaran Dunia
Media sosial juga dapat membuat seseorang merasa bahwa apa yang dilihat di berandanya merupakan gambaran dari kondisi masyarakat secara keseluruhan.
Padahal, setiap orang memiliki linimasa yang berbeda.
Seseorang yang sering melihat konten politik tertentu mungkin merasa isu tersebut sedang menjadi pembicaraan
terbesar. Sementara orang lain yang tidak pernah berinteraksi dengan konten
tersebut mungkin bahkan tidak mengetahuinya.
Fenomena ini berkaitan dengan filter bubble dan echo chamber. Pengguna dapat semakin sering berada dalam
lingkungan informasi yang memiliki topik atau pandangan serupa.
Komdigi pada Juni 2026 mengingatkan bahwa fenomena “ ilusi algoritma ” dapat membuat persepsi seseorang terhadap realitas sosial dan demokrasi tidak selalu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Karena itu, melihat sesuatu berulang kali bukan berarti kita sudah melihat keseluruhan persoalannya.
Lalu, Apakah Media Sosial Buruk untuk Politik?
Tidak juga. Media sosial justru memberikan ruang yang lebih luas bagi
masyarakat untuk berpartisipasi dalam komunikasi politik.
Masyarakat dapat menyampaikan kritik,
berdiskusi, mengikuti perkembangan isu, dan mengetahui berbagai perspektif yang sebelumnya mungkin sulit ditemukan.
Persoalannya bukan pada keberadaan media sosial itu sendiri, tetapi pada bagaimana ruang tersebut digunakan.
Ketika masyarakat hanya mengejar informasi yang sesuai dengan pandangannya, tidak memeriksa sumber, atau menganggap jumlah views sebagai bukti kebenaran, media
sosial dapat menjadi ruang yang membuat persepsi semakin sempit.
Sebaliknya, jika digunakan secara kritis, media sosial dapat menjadi ruang untuk menemukan lebih banyak informasi dan
sudut pandang.
Jadi, Sebelum Membagikan, Coba Berhenti Sebentar
Di tengah arus informasi yang sangat cepat, kemampuan untuk berhenti sebentar justru menjadi penting.
Sebelum membagikan sebuah informasi politik, kita bisa melihat siapa yang pertama kali mengunggahnya, kapan
peristiwa tersebut terjadi, dari mana informasinya berasal, dan apakah ada sumber lain yang memberitakan hal yang sama.
Hal sederhana seperti membandingkan beberapa sumber dapat membantu kita memahami suatu isu secara lebih lengkap.
Komdigi juga mendorong masyarakat untuk lebih kritis terhadap informasi digital, terutama dengan memeriksa
waktu, lokasi, dan sumber sebuah foto atau video sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Pada akhirnya, media sosial memang telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi tentang politik. Informasi menjadi lebih cepat, pembicaraan menjadi lebih terbuka, tetapi risiko salah informasi juga semakin besar.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita biasakan bukan hanya:
“Kenapa ini bisa viral?” Tetapi juga:
“Apakah ini benar, atau hanya sering saya lihat?” Sebab di era ketika algoritma menentukan banyak hal yang
muncul di depan mata, sesuatu yang terlihat berkali-kali belum tentu menjadi sebuah kebenaran.
