Scroll untuk baca artikel
Artikel

Mengapa Gen Z Cenderung Tidak Memilih Bertani?

×

Mengapa Gen Z Cenderung Tidak Memilih Bertani?

Sebarkan artikel ini

Tantangan Regenerasi Petani di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Mengapa Gen Z Cenderung Tidak Memilih Bertani?

DEPOKPOS – Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pangan, tetapi juga berhubungan dengan penyerapan tenaga kerja, pendapatan masyarakat pedesaan, perdagangan, industri pengolahan, hingga ketahanan pangan nasional.

Namun, di balik pentingnya sektor tersebut, Indonesia menghadapi persoalan regenerasi petani. Generasi muda, termasuk Generasi Z, sering kali dianggap semakin kurang tertarik untuk menjadikan pertanian sebagai pilihan pekerjaan utama.

Fenomena ini menarik untuk dikaji karena terjadi ketika sektor pertanian sendiri masih menunjukkan kontribusi ekonomi yang penting. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia pada 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen. Pada saat yang sama, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi bagian penting dalam struktur perekonomian nasional.

Pertanyaannya kemudian adalah: jika sektor pertanian tetap penting dan memiliki aktivitas ekonomi yang besar, mengapa sebagian generasi muda justru enggan masuk ke dalamnya?

Pertanian Masih Menjadi Bagian Penting dari Pertumbuhan Ekonomi

Untuk memahami persoalan tersebut, penting untuk melihat kondisi ekonomi sektor pertanian terlebih dahulu.
Pada triwulan I 2025, lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh 10,52 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut bahkan menjadi yang tertinggi dari sisi lapangan usaha pada periode tersebut.
Pada triwulan II 2025, sektor yang sama kembali mencatat pertumbuhan 13,53 persen secara q-to-q dibandingkan triwulan sebelumnya. Angka tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi pada periode tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa pertanian bukanlah sektor yang tidak memiliki aktivitas ekonomi. Sebaliknya, sektor ini dapat mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi pada periode tertentu.

Namun, pertumbuhan sektor pertanian tidak otomatis berarti pekerjaan sebagai petani menjadi semakin menarik bagi generasi muda.

Di sinilah persoalan regenerasi menjadi penting.

1. Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Berarti Pendapatan Petani Stabil
Salah satu kesalahan dalam memahami sektor pertanian adalah menganggap pertumbuhan PDB sektor pertanian secara langsung berarti seluruh petani memperoleh peningkatan pendapatan dalam jumlah yang sama.
Padahal, pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran agregat. Kondisi ekonomi yang dialami petani secara individu dapat berbeda-beda.

Pendapatan petani dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

• harga komoditas;
• biaya pupuk dan input produksi;
• luas lahan;
• produktivitas;
• kondisi cuaca;
• serangan hama dan penyakit;
• akses terhadap pasar;
• posisi petani dalam rantai distribusi.

Dengan demikian, meskipun sektor pertanian mengalami pertumbuhan, seorang anak muda tetap dapat melihat profesi petani sebagai pekerjaan yang memiliki risiko pendapatan tinggi.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pertumbuhan sektor pertanian perlu dibedakan dari daya tarik profesi petani.

2. Data Menunjukkan Persoalan Regenerasi Petani

Data Sensus Pertanian 2023 memberikan gambaran penting mengenai kondisi tenaga pertanian Indonesia.
BPS mencatat terdapat 29.342.202 Usaha Pertanian Perorangan (UTP) pada 2023. Jumlah tersebut turun 7,45 persen dibandingkan 2013 yang mencapai 31.705.295 unit.

Pada saat yang sama, jumlah petani milenial berusia 19–39 tahun tercatat sebanyak 6.183.009 orang, atau sekitar 21,93 persen dari petani Indonesia.
Angka tersebut tidak berarti bahwa 78,07 persen sisanya adalah orang yang seluruhnya berusia tua atau bahwa seluruh Gen Z menolak pertanian.

Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan kelompok usia muda dalam sektor pertanian masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
BPS sendiri mendefinisikan “petani milenial atau petani modern” sebagai petani berusia 19–39 tahun dan/atau petani yang adaptif terhadap teknologi digital maupun alat mesin pertanian modern.

3. Masalahnya Bukan Sekadar “Gen Z Tidak Mau Bertani”

Pernyataan bahwa “Gen Z tidak mau bertani” sebenarnya terlalu sederhana.
Pilihan pekerjaan seseorang dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan ekonomi dan sosial.

Seorang anak muda akan mempertimbangkan:
Berapa pendapatannya?
Seberapa besar risikonya?
Apakah pekerjaannya memiliki masa depan?
Apakah terdapat jenjang perkembangan?
Apakah pekerjaan tersebut sesuai dengan keterampilan yang dimiliki?
Apakah modal untuk memulainya tersedia?

Pertimbangan tersebut berlaku bukan hanya untuk Gen Z, tetapi juga bagi generasi sebelumnya.

Salah satu kajian yang dipublikasikan melalui kanal BPS mengenai perubahan tenaga kerja pertanian menunjukkan bahwa berkurangnya tenaga kerja muda berkaitan dengan sejumlah faktor, antara lain semakin sempitnya lahan pertanian dan pertimbangan ekonomi. Dalam perspektif ekonomi, keputusan tenaga kerja muda untuk mencari pekerjaan di luar sektor pertanian dapat dipahami sebagai respons terhadap peluang pendapatan dan kelayakan kerja yang mereka lihat.

Artinya, fenomena tersebut tidak tepat jika hanya dijelaskan sebagai persoalan “anak muda malas bekerja.

4. Lahan Menjadi Persoalan Struktural

Pertanian membutuhkan aset produksi, dan salah satu yang paling penting adalah lahan.

Masalahnya, tidak semua generasi muda memiliki akses terhadap lahan yang cukup.

Bagi anak muda yang lahir dan tumbuh di perkotaan, menjadi petani konvensional bahkan mungkin tidak realistis tanpa investasi yang besar.
Sementara itu, di wilayah pedesaan, lahan pertanian juga menghadapi tekanan dari berbagai kebutuhan pembangunan dan perubahan penggunaan lahan.

Akibatnya, terdapat situasi yang cukup paradoks: Indonesia membutuhkan petani muda, tetapi sebagian anak muda tidak memiliki akses yang memadai terhadap faktor produksi untuk menjadi petani.

Dalam kondisi seperti ini, mengajak generasi muda untuk bertani tanpa membicarakan akses terhadap lahan, modal, teknologi, dan pasar tentu belum cukup.

5. Gen Z Memiliki Alternatif Pekerjaan yang Lebih Beragam

Perubahan teknologi juga mengubah struktur kesempatan kerja.

Generasi Z dapat menemukan pekerjaan yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh generasi terdahulu.

Pekerjaan seperti:

• content creator;
• digital marketer;
• programmer;
• graphic designer;
• freelancer;
• e-commerce;
• pekerjaan remote;
• pengembangan aplikasi;
• bisnis digital; menawarkan alternatif yang tidak selalu membutuhkan lahan fisik.

Hal ini membuat pertanian harus bersaing dengan sektor ekonomi lainnya dalam menarik tenaga kerja muda.

Dengan kata lain, tantangan pertanian bukan hanya membuat Gen Z “mau bekerja keras”, tetapi juga membuat sektor pertanian memiliki nilai ekonomi dan prospek karier yang dapat dibandingkan dengan alternatif pekerjaan lainnya.

6. Citra Profesi Petani Masih Menjadi Persoalan

Selain faktor ekonomi, terdapat faktor sosial. Dalam sebagian masyarakat, pekerjaan sebagai petani masih sering dikaitkan dengan pekerjaan kasar, pekerjaan yang melelahkan, dan pekerjaan dengan penghasilan rendah.
Padahal, konsep pertanian telah berkembang.

Petani modern dapat menggunakan:

• drone;
• sensor tanah;
• Internet of Things (IoT);
• sistem irigasi otomatis;
• greenhouse;
• hidroponik;
• aplikasi pertanian;
• mesin pertanian;
• analisis data;
• platform digital untuk pemasaran.

Bahkan BPS memasukkan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi digital dan alat mesin pertanian modern sebagai bagian dari definisi petani milenial atau petani modern.
Persoalannya adalah perkembangan tersebut belum selalu terlihat dalam citra masyarakat mengenai profesi petani.

7. Pertanian Memiliki Potensi Ekonomi, tetapi Rantai Nilainya Harus Diperkuat

Pertanian sebenarnya tidak berhenti pada aktivitas menanam.

Ada rantai ekonomi yang panjang:
Input → Produksi → Panen → Pengolahan → Distribusi → Pemasaran → Konsumen

Generasi muda dapat mengambil peran pada setiap tahap tersebut.
Seorang lulusan teknologi dapat mengembangkan aplikasi pertanian.
Seorang desainer dapat membuat branding produk pertanian.
Seorang mahasiswa ekonomi dapat mengembangkan model bisnis agribisnis.

Seorang content creator dapat mempromosikan produk petani.
Seorang pengusaha dapat mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Dengan perspektif tersebut, pertanian tidak lagi hanya dilihat sebagai aktivitas produksi di sawah, tetapi sebagai ekosistem ekonomi.

8. Teknologi Dapat Menjadi Jembatan antara Gen Z dan Pertanian

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda adalah mempertemukan pertanian dengan teknologi.

Gen Z relatif dekat dengan teknologi digital. Karena itu, pendekatan terhadap mereka tidak harus selalu menggunakan cara tradisional.

Misalnya, pertanian dapat dikembangkan melalui:

Smart farming
Penggunaan sensor dan data untuk membantu mengoptimalkan penggunaan air, pupuk, dan kondisi tanaman.

Digital agriculture
Pemanfaatan teknologi digital untuk pencatatan, pengawasan, prediksi, dan pengambilan keputusan.

Agribisnis digital
Pemanfaatan marketplace dan media sosial untuk memperpendek rantai pemasaran.

Urban farming
Pengembangan pertanian di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas.

Agro-processing
Mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.
Pendekatan tersebut membuat generasi muda tidak harus memilih antara “teknologi” atau “pertanian”.
Keduanya dapat digabungkan.

9. Pertumbuhan Pertanian Harus Diikuti Peningkatan Daya Tarik Profesi

Data pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap memiliki kemampuan untuk menghasilkan aktivitas ekonomi yang besar.

Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan tersebut juga menciptakan kesempatan ekonomi yang menarik bagi generasi muda.

Pada 2025, ekonomi Indonesia secara keseluruhan tumbuh 5,11 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional terus berkembang.

Namun, agar sektor pertanian mampu menarik generasi baru, diperlukan lebih dari sekadar pertumbuhan PDB.

Yang perlu diperhatikan antara lain:
1. peningkatan produktivitas petani;
2. akses terhadap modal;
3. kepastian dan efisiensi rantai pemasaran;
4. akses generasi muda terhadap lahan;
5. pendidikan dan pelatihan pertanian modern;
6. penggunaan teknologi;
7. pengembangan industri pengolahan;
8. peningkatan nilai tambah produk pertanian.

Dengan demikian, persoalan regenerasi petani sebenarnya juga merupakan persoalan transformasi struktural ekonomi.

Fenomena Gen Z yang cenderung tidak memilih bertani tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa generasi muda tidak menyukai pekerjaan yang berat.

Data menunjukkan persoalannya jauh lebih kompleks.

Di satu sisi, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Bahkan pada beberapa periode 2025, sektor tersebut mencatat pertumbuhan yang sangat tinggi, seperti 10,52 persen secara year-on-year pada triwulan I dan 13,53 persen secara q-to-q pada triwulan II.

Di sisi lain, Sensus Pertanian 2023 menunjukkan jumlah Usaha Pertanian Perorangan turun 7,45 persen dibandingkan 2013, sementara petani milenial berusia 19–39 tahun berjumlah sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari petani Indonesia.

Data tersebut memperlihatkan adanya sebuah paradoks: Pertanian tetap penting dan dapat tumbuh secara ekonomi, tetapi regenerasi pelakunya menghadapi tantangan.

Karena itu, pertanyaan “mengapa Gen Z tidak mau bertani?” sebaiknya dikembangkan menjadi pertanyaan yang lebih struktural:

Apakah sektor pertanian sudah menawarkan akses, pendapatan, teknologi, lingkungan kerja, dan prospek karier yang cukup menarik bagi generasi muda?

Jika jawabannya ingin ditemukan, maka solusi regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda kembali ke sawah. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem pertanian yang memungkinkan anak muda melihat pertanian sebagai profesi, bisnis, sekaligus bidang inovasi yang memiliki masa depan.

Dengan pendekatan tersebut, Gen Z tidak harus meninggalkan teknologi untuk masuk ke pertanian. Justru teknologi dapat menjadi salah satu jalan bagi generasi baru untuk membawa pertanian Indonesia menuju bentuk yang lebih produktif, efisien, dan bernilai tambah.

Haikal Septiawan, IAI SEBI