DEPOKPOS – Terlahir menjadi Gen Z bukan perkara mudah dan sederhana di zaman ini. Satu sisi, mereka dituntut mandiri, produktif, adaptif, dan mampu bersaing. Namun di sisi lain, biaya hidup terus tinggi karena inflasi dan menjadi beban yang sulit dihindari. Tak heran jika persoalan finansial menjadi salah satu sumber keresahan terbesar bagi generasi ini.
Survei Deloitte menunjukkan hampir separuh Gen Z, yakni 48 persen, mengaku tidak merasa aman secara finansial. Bahkan, 52 persen Gen Z menyatakan hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck) dan 37 persen kesulitan memenuhi pengeluaran hidup setiap bulan. Biaya hidup juga menjadi kekhawatiran utama mereka (kompas.com, 18/5/2026).
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, muncul fenomena self-reward, healing, nongkrong, membeli barang yang sedang tren, hingga berburu pengalaman sebagai cara untuk “menikmati hidup”. Sekilas, perilaku ini tampak wajar atau menjadi hal yang lumrah di tengah tekanan hidup yang menuntut kemapanan ekonomi. Fenomena ini seperti menjadi cara paling sederhana untuk menghargai diri sendiri setelah sebulan bekerja dan menerima gaji bahkan seperti sebuah pelarian untuk mendapatkan kepuasan setelah menyisihkan uang untuk kebutuhan primernya yang justru seharusnya ditanggung negara. Namun, benarkah sesederhana itu?
Bagi sebagian Gen Z, self-reward bukan lagi sekadar membeli sesuatu karena punya uang lebih. Ia dapat menjadi cara untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah menghadapi tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, atau persoalan kehidupan.
Masalahnya, belanja dan hiburan perlahan dianggap sebagai cara mengatasi rasa lelah dan stres. Setelah hari yang berat, orang mencari kesenangan dengan berbelanja atau healing. Ketika melihat orang lain mengikuti tren, muncul pula rasa takut tertinggal sehingga ikut membeli atau melakukan hal yang sama.
Media sosial memperkuat siklus tersebut. Kehidupan orang lain yang tampak bahagia terus hadir di layar Smartphone. Liburan, makanan, pakaian, gawai, hingga pencapaian dipertontonkan sebagai standar kehidupan ideal. Akibatnya, seseorang mudah merasa kurang hanya karena tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Di sinilah budaya sekuler-kapitalistik mengakar di kehidupan. Kebahagiaan perlahan dipersempit menjadi persoalan memiliki, menikmati, dan mengonsumsi. Ketika manusia lelah, solusi yang ditawarkan bukan menemukan makna hidup, melainkan membeli sesuatu agar perasaan menjadi lebih baik.
Padahal, konsumsi tidak pernah mampu menyelesaikan persoalan fundamental dan struktural sistem hidup. Sebanyak apa pun seseorang berbelanja, biaya hidup tetap tinggi. Sebanyak apa pun melakukan healing atau self-reward, ketidakpastian masa depan tidak otomatis hilang.
Persoalan Gen Z sesungguhnya lebih jauh daripada sekadar tidak mampu mengatur uang. Ada krisis tujuan hidup yang ikut membayangi.
Menariknya, survei Deloitte 2025 yang diberitakan ANTARA (12/2/2026) menunjukkan, 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial menganggap bahwa memiliki tujuan hidup berperan besar dalam kesejahteraan mereka dan kepuasan kerja.
Artinya, bagi Gen Z bekerja bukan hanya soal mendapatkan uang. Mereka juga ingin pekerjaannya memiliki arti dan membuat hidup terasa lebih bermakna. Namun, di sisi lain, lingkungan saat ini sering membuat kesuksesan diukur dari banyaknya uang, tingginya jabatan, popularitas, dan kemampuan membeli berbagai hal yang diinginkan.
Akibatnya, Gen Z berada dalam kondisi yang serba sulit. Mereka ingin hidup bermakna, tetapi dituntut mengejar materi. Mereka ingin masa depan yang aman, tetapi biaya hidup terus meningkat. Bahkan, kebahagiaan pun sering ditawarkan hanya dengan melalui belanja dan gaya hidup konsumtif.
Maka, menyalahkan Gen Z sebagai generasi boros tentu bukan solusi. Mereka memang perlu memiliki literasi finansial (mampu mengatur keuangan sesuai prioritas kebutuhan dan keinginan) dan membatasi pengeluaran. Namun, negara juga memiliki tanggung jawab menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan generasi muda hidup layak, memperoleh pekerjaan, dan memenuhi kebutuhan dasar tanpa terus dihantui ketidakpastian.
Islam memiliki pandangan hidup yang berbeda. Islam tidak memandang manusia sekadar sebagai konsumen ataupun mesin ekonomi. Allah SWT telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia seperti dalam Qur’an Surat Adz-Dzariyat ayat 56. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Dengan paradigma ini, kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya uang atau barang yang dimiliki, banyaknya tempat yang dikunjungi, atau validasi yang diperoleh dari netizen di media sosial. Kebahagiaan hakiki adalah ketika kehidupan dijalani dalam ketaatan kepada Allah dan ditujukan untuk meraih ridha-Nya.
Islam juga tidak membiarkan kebutuhan masyarakat sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu. Negara berkewajiban mengurusi rakyat dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Rasulullah SAW bersabda: “Imam adalah raa’in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
Dalam sistem Islam, pengelolaan sumber daya alam tidak diarahkan semata untuk memperbesar keuntungan segelintir pihak. Kekayaan yang menjadi milik umum dikelola untuk kemaslahatan rakyat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh penghidupan yang layak.
Di sisi lain, Islam membentuk generasi dengan kepribadian Islam. Mereka tidak dididik untuk menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai ladang amal. Mereka tetap boleh menikmati kehidupan, bekerja, memiliki harta, dan memperoleh kebahagiaan. Namun, semua itu berada dalam batas halal dan tidak menjadikan materi sebagai ukuran kemuliaan.
Karena itu, solusi bagi Gen Z tidak cukup dengan nasihat, “Jangan boros” atau “Kurangi healing”. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang hidup sekaligus perubahan sistem yang melahirkan tekanan tersebut.
Gen Z bukan generasi yang kehilangan masa depan. Mereka adalah generasi yang membutuhkan arah. Ketika kebutuhan hidup terjamin, pendidikan membentuk ketakwaan, dan tujuan hidup dikembalikan kepada penghambaan kepada Allah SWT, generasi muda tidak perlu terus mencari kebahagiaan di keranjang belanja.
Sebab, manusia tidak diciptakan untuk sekadar bekerja, membeli, menikmati, lalu terus mengulangi siklus tersebut. Manusia diciptakan untuk beribadah dan membangun kehidupan yang bernilai baik dan terpuji di hadapan Allah SWT. []
Alin Aldini, S.S.
Komunitas Muslimah Menulis Depok