Scroll untuk baca artikel
Opini

Childfree Makin Populer, Sekularisme Makin Subur?

×

Childfree Makin Populer, Sekularisme Makin Subur?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nurul Komariah

Childfree Makin Populer, Sekularisme Makin Subur?

In this economy, mulai muncul praktik childfree atau gerakan bebas anak yang dirayakan setiap tanggal 1 Agustus dengan tajuk “Hari Bebas Anak Internasional”. Hal ini dicetuskan pada tahun 1973 di Amerika Serikat untuk menghilangkan kritik, cemooh, dan penolakan terhadap pasangan yang memilih untuk tidak memiliki buah hati. Setelah empat dekade berlalu, gerakan ini semakin banyak diikuti, dijadikan pilihan tetap, serta dilindungi dan dibela pelaksanaannya secara lebih luas dan mendalam. Di sekeliling kita, orang-orang terus melakukan praktiknya dan mengkampanyekan gaya hidup mereka di media sosial.

Bebas anak, atau secara populer disebut dengan istilah childfree, dipandang sebagai hak bagi individu berdasarkan kesadaran dan kesediaan pihak terkait untuk memutuskan tidak mempunyai anak dalam kehidupan berpasangan seperti yang lazim dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Alasan yang melatarbelakangi pilihan tersebut bersifat beragam dan personal, namun pada dasarnya bukan diakibatkan atas ketidakmampuan dari segi kondisi fisik maupun batin yang diputuskan oleh ahlinya seperti dokter kandungan maupun psikiater.

Di antara alasan-alasan tersebut, kehidupan childfree dipilih secara sadar sebagai perwujudan konsekuensi atas peristiwa-peristiwa yang terjadi terhadap pasangan terkait. Rasa tidak ingin untuk mengalami perubahan ketika anak hadir di tengah kehidupan dua orang pasangan, termasuk tanggung jawab yang meliputi untuk membesarkan anak tersebut, dipandang sebagai sumber masalah yang begitu nyata dan patut untuk tidak dipilih sebagai gaya hidup. Aktivitas yang menjadi terbatas, ketakutan untuk memberikan luka pengasuhan, khawatir tidak dapat memenuhi kebutuhan anak, dunia yang semakin semrawut secara sumber daya dan populasi, bencana alam, dan ketidakpastian akan kehidupan di masa mendatang kerap menjadi momok-momoknya.

Ketakutan-ketakutan tersebut bisa jadi memang dapat muncul di tengah gempuran gaya hidup kapitalistik dan hedonisme sehingga menjauhkan manusia dari fitrah kehidupan dan tidak memahami konsep kehidupan sesuai Islam. Sebenarnya, bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim seharusnya memandang fenomena ini? Sesungguhnya, syariat agama hadir untuk memberikan tuntunan hidup bagi manusia dan mampu memberikan jawaban atas seluruh permasalahan umat manusia, termasuk mengenai kasus ini.

Pertama adalah tentang kekhawatiran terhadap ketidakpastian hidup di masa mendatang, dan Islam punya solusinya. Sebagai seorang muslim, perkara ikhtiar dan tawakal bukanlah hal yang asing. Tawakal atau rasa berserah diri kepada Allah merupakan buah dari keimanan kita yang nantinya menjadi landasan atas setiap ikhtiar atau usaha yang telah diupayakan. Dengan kata lain, kita perlu untuk mempunyai rasa yakin terlebih dahulu bahwa apapun hasil dari sesuatu yang dilakukan adalah yang terbaik dari Allah SWT untuk kita. Jadi, tidaklah pantas bagi seorang hamba, ciptaan Tuhan, untuk mengkhawatirkan masa depan yang menjadi rahasia Allah. Tugas manusia adalah untuk berusaha sesuai dengan syariat Allah. Memilih untuk childfree dengan alasan kekhawatiran tersebut tidaklah mencirikan jati diri seorang muslim. Ranah tawakal tidak disentuh apalagi ranah ikhtiar, semua sudah dihancurkan terlebih dahulu dengan kekhawatiran meragukan kuasa Allah sebagai penjamin masa depan setiap hamba-Nya.

Kedua, Allah adalah penjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Allah SWT berfirman, “Kalian jangan membunuh anak-anak kalian karena takut akan kelaparan, padahal Kamilah yang (menjamin) memberikan rezeki kalian dan juga rezeki mereka.” (TQS. Al-Isra’: 151). Dalam firman lain Allah SWT juga berjanji, bahwa “Tidak ada satupun hewan melata di muka Bumi ini, kecuali rezekinya telah ditetapkan oleh Allah.” (TQS. Hud: 6) Ayat-ayat tersebut secara tegas memaparkan, bahwa tidak satupun makhluk yang diberi kehidupan oleh Allah kemudian dibiarkan hidup tanpa jaminan rezeki dari-Nya. Poinnya adalah yakin kepada-Nya dan terus berusaha.

Ketiga, hadirnya fenomena childfree ini mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas. Oleh karena itu, kita membutuhkan tempat untuk bergantung kepada Dzat yang Maha Kuat dan Tak Terbatas, yang tentunya adalah Allah SWT. Populernya gerakan childfree perlu semakin meyakinkan kita bahwa peraturan Allah yang tertuang dalam syariat Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sementara di sisi lain, gerakan Sekularisme yang sudah lama menyerang pemikiran umat Islam gencar menyebarluaskan pokok pemikirannya dengan wujud kepercayaan memisahkan agama dari kehidupan sosial. Gerakan childfree merupakan salah satu produk dari Sekularisme.

Memilih untuk tidak memiliki anak pada isu ini tidak ada hubungannya dengan diagnosa medis atau konsep keluarga berencana. Isunya adalah orang yang menganggap anak adalah belenggu. Pikirnya anak itu adalah penjajahnya. Penggunaan istilah childfree terdiri dari dua kata ‘child’ yang artinya anak dan ‘free’ yang artinya bebas. Tanda bahwa anak adalah sebuah penjajahan yang akhirnya membuatnya ingin untuk free atau freedom. Jika inti permasalahannya terletak pada gagasan tidak ingin menyusahkan anak, maka istilah yang terbentuk bukanlah childfree karena istilah ini memperlihatkan kegembiraan.

Keempat, ada bahasan mengenai kemuliaan untuk memiliki anak di dalam Islam. Sebagai contoh, seorang muslim bisa untuk mempunyai tujuan yang besar dalam memiliki anak, dan tujuan ini tertuang di dalam doa Nabi Zakaria saat ia meminta keturunan, yakni, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa,” (TQS. Al-Furqan: 74). Memiliki anak adalah perkara mewariskan tongkat estafet peradaban Islam, mencetak generasi pemimpin orang-orang bertakwa yang mampu membumikan nilai-nilai kebaikan Islam.

Pada akhirnya, perlu untuk kita sepakati bahwa seorang muslim seharusnya tidak dapat menjalani ataupun bahkan sekedar menolak gerakan childfree. Hal yang dapat diupayakan untuk diri sendiri adalah mengganti segala ketakutan yang kita miliki dengan keyakinan bahwa anak merupakan anugerah dari Allah SWT, sementara hal yang harus diupayakan untuk umat adalah meluruskan pikiran, perasaan, dan peraturan yang tidak sesuai dengan syariat Islam dan mengusahakan untuk mengembalikan kehidupan sesuai dengan syariat Islam. Semoga keselamatan memberkahi kita yang senantiasa berupaya untuk menegakkan kalimat Allah di seluruh penjuru alam.