Scroll untuk baca artikel
Opini

Antara Sekuler Kapitalis dan HIV

×

Antara Sekuler Kapitalis dan HIV

Sebarkan artikel ini

Oleh: Aktif Suhartini, S.Pd.I., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Antara Sekuler Kapitalis dan HIV

DEPOKPOS – Dengan kondisi pergaulan yang semakin mengkhawatirkan, hari ini kita terlalu sering menempatkan orang tua sebagai pihak yang harus mengawasi anak. Padahal, anak tidak hanya hidup dalam ruang keluarga, tetapi juga berada dalam budaya dan sistem yang jauh lebih besar. Ibu bisa mengingatkan, ayah bisa menasihati, dan guru bisa mendidik. Namun, ketika lingkungan di luar rumah justru menarik anak ke arah yang sebaliknya, perjuangan orang tua dan guru tentu menjadi semakin berat.

Di tengah perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi, generasi muda menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks. Berbagai informasi dan pengaruh dapat dengan mudah masuk ke kehidupan mereka. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya persoalan HIV pada anak dan remaja.

Sesungguhnya HIV bukan sekadar persoalan kesehatan yang dapat diselesaikan melalui pengobatan dan pemeriksaan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku, lingkungan sosial, keluarga, pendidikan, serta nilai-nilai yang membentuk kehidupan generasi muda.

Kementerian Kesehatan RI menyampaikan, meningkatnya jumlah kasus HIV yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan makin luasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan. Karena itu, kenaikan angka temuan tidak dapat secara langsung dimaknai sebagai kenaikan angka penularan.

Meluasnya pemeriksaan justru memungkinkan makin banyak kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi dapat ditemukan lebih dini. Fenomena tersebut semestinya menjadi alarm bahwa perlindungan terhadap generasi muda tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan medis. Ketika anak dan remaja telah berada dalam lingkungan yang memungkinkan munculnya perilaku seksual berisiko, persoalan tersebut tidak dapat hanya dijawab setelah seseorang terinfeksi.

Pencegahan harus dilakukan mulai dari akar persoalannya. Ketika HIV hanya dipandang sebagai persoalan kesehatan, maka persoalan HIV tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial yang membentuk perilaku manusia. Dalam pandangan sekuler-liberal, agama cenderung dipisahkan dari pengaturan kehidupan publik.

Saat ini, kebebasan individu sering ditempatkan sebagai nilai utama selama tidak dianggap merugikan orang lain secara langsung, cara pandang semacam itu berpotensi membuat persoalan pergaulan bebas hanya dilihat dari dampaknya setelah terjadi.

Ketika seseorang telah mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, terinfeksi penyakit menular seksual, atau menghadapi persoalan psikologis, barulah solusi diberikan. Padahal, pencegahan seharusnya dimulai jauh sebelum seseorang berada pada kondisi tersebut. Jika akar persoalan tidak didefinisikan dengan tepat, solusi yang diberikan juga berpotensi tidak fundamental.

Kegiatan usaha untuk pemeriksaan HIV, pengobatan, edukasi kesehatan, dan layanan pendampingan tetap penting dalam menangani persoalan kesehatan. Namun, seluruh upaya tersebut belum cukup apabila lingkungan sosial yang mendorong munculnya perilaku berisiko tidak turut dibenahi.

Persoalan HIV pada remaja tidak seharusnya hanya ditanyakan dengan kalimat, “Bagaimana mengobati mereka yang sudah terinfeksi?” tetapi juga, “Mengapa generasi muda dapat makin dekat dengan perilaku yang meningkatkan risiko penularanHIV?” Pertanyaan kedua inilah yang membawa kita pada persoalan sistem sosial dan pembentukan karakter generasi.

Generasi muda adalah aset masa depan. Mereka tidak seharusnya dibiarkan tumbuh di tengah derasnya informasi tanpa kompas moral dan perlindungan sosial yang memadai. Karena itu, persoalan HIV pada remaja harus menjadi perhatian bersama. Jika ingin menyelamatkan generasi, maka pencegahan harus dimulai dari akar.

Keluarga harus hadir, sekolah dan masyarakat harus menciptakan lingkungan yang sehat, sementara negara harus menjalankan perannya sebagai pelindung dan pengurus urusan rakyat. Dengan pembinaan keimanan, akhlak, ilmu pengetahuan, serta sistem sosial yang mampu menjaga kehormatan manusia, generasi muda diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental, matang dalam mengambil keputusan, memiliki tanggung jawab moral, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Ancaman HIV pada remaja bukan hanya persoalan angka statistik. Ia merupakan cermin sejauh mana keluarga, masyarakat, dan negara mampu menjalankan tanggung jawab dalam menjaga generasi. Islam diyakini bisa memberikan landasan menyeluruh untuk membangun kehidupan yang menjaga manusia sekaligus mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat.

Dalam Islam ada tiga pilar perlindungan generasi muda dari ancaman HIV dan pergaulan bebas yaitu membutuhkan sinergi tiga pilar, yaitu:

Pertama, keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak memperoleh pendidikan nilai dan pembentukan karakter. Orang tua perlu membangun komunikasi yang sehat dengan anak sehingga mereka memiliki tempat bertanya dan mendapatkan penjelasan yang benar mengenai pergaulan, kesehatan reproduksi, serta tanggung jawab moral. Anak tidak boleh dibiarkan mencari jawaban dari internet dan media sosial tanpa pendampingan.

Kedua, masyarakat dan sekolah. Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku generasi muda. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi lingkungan pendidikan yang menjaga akhlak dan membangun karakter. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang anak.

Ketiga, negara. Negara memiliki peran paling strategis dalam menciptakan sistem yang melindungi generasi. Negara tidak cukup hanya bertindak ketika kasus telah muncul, tetapi harus membangun kebijakan yang mencegah kerusakan sosial sejak awal. Negara perlu memastikan pendidikan berjalan dengan baik, layanan kesehatan tersedia, lingkungan sosial terlindungi, serta masyarakat mendapatkan pembinaan yang sesuai dengan nilai yang diyakini.

Islam tidak hanya sibuk mengobati akibat. Islam membangun kehidupan agar sebab-sebab kerusakan tidak terus diproduksi oleh sistem itu sendiri. Sekularisme sudah lama menjanjikan kebebasan. Tetapi mengapa semakin banyak orang tua justru hidup dalam kecemasan? Anak harus dijaga dari narkoba, seks bebas, miras, kekerasan, pergaulan yang merusak dan konten yang tidak pantas.

Ibu-ibu zaman sekarang rasanya bukan cuma jadi orang tua, tetapi juga bertugas seperti satpam, guru BK, admin parental control, intelijen, sekaligus operator CCTV keluarga. Sampai kapan semua beban ini diletakkan di pundak keluarga, sementara sistem di sekelilingnya terus mengajarkan kebebasan tanpa batas? Dan arus sebesar itu tidak cukup dilawan dengan nasihat sebelum tidur.

Kita membutuhkan Islam sebagai mabda. Islam yang tidak dipreteli menjadi urusan ritual semata. Islam yang menjadi dasar berpikir dan menjalani kehidupan, yaitu Islam kaffah.[]