DEPOKPOS – Kalimantan merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan menjadi tempat tinggal bagi banyak masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, dan jasa. Namun, setiap musim kemarau, beberapa wilayah di Kalimantan menghadapi permasalahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menghasilkan asap yang dapat menyebar ke berbagai daerah.
Kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap sering dianggap sebagai permasalahan lingkungan dan kesehatan. Padahal, dampaknya juga sangat terasa terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Aktivitas masyarakat dapat terganggu, produktivitas menurun, kegiatan perdagangan menjadi lebih sepi, dan pendapatan masyarakat dapat berkurang. Oleh karena itu, kebakaran dan asap di Kalimantan perlu dilihat sebagai masalah yang memiliki dampak luas terhadap perekonomian masyarakat.
Data Karhutla di Kalimantan Tahun 2026
Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan masih menjadi perhatian pada tahun 2026. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, selama Januari–Juni 2026, luas karhutla di Kalimantan Barat mencapai 28.680,47 hektare. Angka tersebut menjadikan Kalimantan Barat sebagai salah satu wilayah dengan luas karhutla terbesar di Indonesia pada periode tersebut. Secara nasional, luas karhutla pada periode Januari–Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare.
Kondisi kebakaran kemudian kembali menjadi perhatian pada periode Agustus–September 2026. Di Kalimantan Tengah, hingga 21 Agustus 2026 tercatat sebanyak 19.992 hotspot, 1.639 kejadian karhutla, dan estimasi luas lahan yang terbakar mencapai 7.634,46 hektare.
Pada 14 September 2026, Kementerian Kehutanan mencatat terdapat 689 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Kalimantan Tengah. Pada tanggal yang sama, secara nasional tercatat sebanyak 1.437 hotspot high confidence.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada 13 September 2026 terdapat 627 hotspot high confidence di wilayah Kalimantan. Kondisi cuaca yang kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran dan membuat asap lebih mudah bertahan di suatu wilayah.
Data lainnya menunjukkan bahwa hingga September 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi mencapai sekitar 72.088,61 hektare. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan, tetapi juga terhadap kehidupan sosial serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Data tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan yang cukup besar di Kalimantan pada tahun 2026. Besarnya luas wilayah yang terbakar dan banyaknya titik panas menunjukkan bahwa dampak karhutla perlu dilihat tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari sisi ekonomi masyarakat.
Dampak terhadap Sektor Pertanian dan Perkebunan
Salah satu sektor yang paling terdampak oleh kebakaran adalah pertanian dan perkebunan. Banyak masyarakat di Kalimantan menggantungkan pendapatan mereka dari kegiatan tersebut. Kebakaran dapat merusak lahan pertanian, tanaman, perkebunan, serta fasilitas yang digunakan untuk kegiatan produksi.
Data karhutla tahun 2026 menunjukkan bahwa ribuan hingga puluhan ribu hektare lahan telah terdampak kebakaran di berbagai wilayah Kalimantan. Luas lahan yang terbakar tersebut dapat mengganggu kegiatan produksi masyarakat, terutama bagi petani dan pekerja perkebunan yang berada di sekitar wilayah terdampak.
Selain kerusakan langsung akibat api, asap yang tebal juga dapat menghambat aktivitas petani. Jarak pandang yang terbatas dan kondisi udara yang buruk membuat kegiatan di luar ruangan menjadi lebih sulit dilakukan. Akibatnya, proses produksi dan distribusi hasil pertanian dapat terganggu.
Jika hasil produksi menurun, pendapatan petani juga berpotensi mengalami penurunan. Dalam kondisi tertentu, masyarakat bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki lahan atau mengganti tanaman yang rusak akibat kebakaran.
Menurunnya Aktivitas Perdagangan dan Usaha Masyarakat
Kabut asap juga dapat memengaruhi kegiatan ekonomi sehari-hari. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan jumlah pembeli di pasar, warung, toko, dan berbagai usaha lainnya mengalami penurunan.
Usaha yang bergantung pada aktivitas masyarakat di luar ruangan juga dapat terkena dampak. Pedagang kaki lima, pengemudi transportasi, pekerja lapangan, dan pelaku usaha kecil dapat mengalami berkurangnya pelanggan atau jam kerja. Bagi masyarakat yang memperoleh penghasilan berdasarkan jumlah aktivitas atau pelanggan setiap hari, kondisi tersebut dapat langsung memengaruhi pendapatan mereka.
Dampak ini menjadi lebih berat bagi usaha kecil karena sebagian besar pelaku usaha memiliki modal dan cadangan keuangan yang terbatas. Jika aktivitas ekonomi terganggu dalam waktu yang cukup lama, mereka dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan operasional maupun kebutuhan rumah tangga.
Gangguan Transportasi dan Distribusi Barang
Asap kebakaran yang sangat tebal juga dapat mengganggu transportasi. Jarak pandang yang rendah dapat membuat perjalanan melalui jalan raya, jalur sungai, maupun transportasi udara menjadi lebih sulit dan berisiko.
Gangguan transportasi dapat berdampak pada proses distribusi barang. Barang kebutuhan masyarakat maupun hasil produksi dari daerah tertentu dapat mengalami keterlambatan untuk sampai ke pasar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya distribusi dan pada akhirnya memengaruhi harga barang.
Bagi pelaku usaha, keterlambatan distribusi juga dapat menyebabkan kerugian. Produk yang membutuhkan pengiriman cepat dapat mengalami penurunan kualitas, sedangkan biaya transportasi yang meningkat dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh pedagang.
Meningkatnya Pengeluaran Rumah Tangga
Kebakaran dan asap tidak hanya menyebabkan penurunan pendapatan, tetapi juga dapat meningkatkan pengeluaran masyarakat. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat membutuhkan masker, obat-obatan, dan berbagai perlengkapan untuk mengurangi dampak paparan asap.
Selain itu, keluarga yang memiliki anggota yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap mungkin harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Jika seseorang tidak dapat bekerja karena kondisi kesehatan yang terganggu, keluarga tersebut dapat mengalami dua dampak sekaligus, yaitu meningkatnya pengeluaran dan berkurangnya pendapatan.
Dengan demikian, kabut asap dapat memberikan tekanan ekonomi kepada rumah tangga. Masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan pada saat aktivitas ekonomi dan pendapatan mereka berpotensi mengalami penurunan.
Dampak terhadap Produktivitas Masyarakat
Kondisi lingkungan yang dipenuhi asap dapat mengurangi produktivitas masyarakat. Pekerja yang biasanya melakukan kegiatan di luar ruangan mungkin harus mengurangi waktu kerja atau menghentikan aktivitas sementara ketika kondisi udara sangat buruk.
Penurunan produktivitas dapat memberikan dampak ekonomi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Jika banyak kegiatan produksi dan perdagangan mengalami gangguan secara bersamaan, maka perputaran ekonomi di masyarakat juga dapat melambat.
Data tahun 2026 memperlihatkan bahwa masalah ini bukan hanya terjadi pada satu lokasi. Adanya 627 hotspot high confidence di wilayah Kalimantan pada 13 September 2026 menunjukkan bahwa kondisi kebakaran masih perlu mendapat perhatian. Semakin luas wilayah yang terdampak, semakin besar pula kemungkinan terganggunya aktivitas masyarakat.
Dampak tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan. Kebakaran juga dapat mengganggu berbagai kegiatan yang menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Dampak Jangka Panjang
Jika kebakaran terus terjadi, dampaknya dapat berlangsung lebih lama daripada periode munculnya asap. Kerusakan lahan, berkurangnya produktivitas, dan terganggunya kegiatan ekonomi dapat membuat masyarakat membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi mereka.
Luas lahan terbakar yang mencapai sekitar 72.088,61 hektare di enam provinsi hingga September 2026 menunjukkan besarnya wilayah yang berpotensi membutuhkan proses pemulihan. Pemulihan tersebut tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan kegiatan ekonomi masyarakat yang bergantung pada lahan dan sumber daya alam.
Pemerintah dan masyarakat perlu melakukan upaya pencegahan serta pengendalian kebakaran secara berkelanjutan. Pencegahan kebakaran akan lebih baik dibandingkan hanya melakukan penanganan setelah kebakaran terjadi. Pengelolaan lahan yang tepat, pengawasan terhadap titik rawan kebakaran, serta peningkatan kesadaran masyarakat dapat membantu mengurangi risiko kebakaran.
Kesimpulan
Kebakaran hutan dan lahan serta asap yang terjadi di Kalimantan pada tahun 2026 memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Berdasarkan data pemerintah, selama Januari–Juni 2026 luas karhutla di Kalimantan Barat mencapai 28.680,47 hektare, sedangkan di Kalimantan Tengah hingga 21 Agustus 2026 tercatat 1.639 kejadian karhutla dengan estimasi luas terbakar 7.634,46 hektare.
Pada September 2026, kondisi karhutla masih menjadi perhatian. Tercatat 689 hotspot high confidence di Kalimantan Tengah pada 14 September 2026, sementara BMKG mencatat 627 hotspot high confidence di wilayah Kalimantan pada 13 September 2026. Hingga September 2026, luas lahan terbakar di enam provinsi juga mencapai sekitar 72.088,61 hektare.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla memiliki dampak yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan ekonomi masyarakat. Dampaknya dapat terlihat dari terganggunya sektor pertanian dan perkebunan, menurunnya aktivitas perdagangan, terganggunya transportasi dan distribusi barang, meningkatnya pengeluaran rumah tangga, serta menurunnya produktivitas masyarakat.
Oleh karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Upaya tersebut bukan hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga melindungi sumber pendapatan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Dengan pencegahan dan pengelolaan yang baik, dampak ekonomi akibat kebakaran dan asap dapat diminimalkan.
