DEPOKPOS – Ketika mendengar istilah kesehatan mental anak, banyak orang tua langsung membayangkan stres, kecemasan, atau masalah perilaku. Padahal, kesehatan mental tidak muncul begitu saja ketika anak mulai besar. Fondasinya dibangun sejak dini melalui interaksi sederhana yang terjadi setiap hari di rumah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk perkembangan sosial dan emosional anak. Cara orang tua mendengarkan, merespons emosi, berbicara, hingga menyelesaikan masalah akan menjadi pengalaman yang membentuk cara anak memahami dirinya sendiri dan orang lain.
Sayangnya, ada beberapa kebiasaan yang sering dianggap sepele, tetapi justru memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental anak. Berikut empat di antaranya.
Mengabaikan atau Meremehkan Emosi Anak
Anak sering menangis karena mainannya rusak, kecewa karena kalah bermain, atau takut terhadap sesuatu yang bagi orang dewasa terlihat biasa saja. Tidak sedikit orang tua yang spontan berkata, “Ah, begitu saja kok menangis,” atau “Tidak usah takut.”
Kalimat seperti itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan anak. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa respons tersebut termasuk bentuk invalidasi emosi. Anak merasa bahwa perasaannya tidak diterima atau tidak penting.
Sebaliknya, ketika orang tua mengatakan, “Ibu tahu kamu sedang sedih,” atau “Ayah mengerti kamu kecewa,” anak belajar mengenali emosinya. Setelah itu, orang tua dapat membantu mencari solusi bersama. Cara sederhana ini membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi yang akan berguna hingga dewasa.
Kurang Mendengarkan Saat Anak Ingin Bercerita
Pernahkah anak bercerita sementara orang tua masih sibuk melihat ponsel, menonton televisi, atau hanya menjawab singkat, “Oh ya?”
Sekilas hal itu tampak biasa. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa anak membutuhkan perhatian penuh ketika sedang bercerita. Saat merasa didengarkan, anak belajar bahwa pendapat dan perasaannya dihargai.
Sebaliknya, jika pengalaman diabaikan terus berulang, anak dapat menjadi lebih tertutup. Ketika menghadapi masalah yang lebih besar di kemudian hari, mereka mungkin memilih memendamnya daripada bercerita kepada orang tua.
Tidak harus menyediakan waktu berjam-jam. Beberapa menit berbicara tanpa gangguan gawai setiap hari sudah dapat membantu membangun kedekatan emosional.
Terlalu Sering Membandingkan Anak
Sebagian orang tua membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak tetangga dengan harapan anak menjadi lebih termotivasi.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan justru lebih sering menurunkan rasa percaya diri daripada meningkatkan motivasi. Anak mulai merasa dirinya tidak cukup baik karena selalu diukur dengan pencapaian orang lain.
Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Memberikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak akan jauh lebih membantu dibandingkan terus membandingkan hasil yang dicapai.
Memberikan Kritik Lebih Banyak daripada Apresiasi
Orang tua tentu ingin anak disiplin dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu, kesalahan anak sering menjadi fokus utama.
Masalahnya, jika kritik diberikan terus-menerus tanpa diimbangi penghargaan atas usaha yang telah dilakukan, anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.
Penelitian menunjukkan bahwa anak membutuhkan umpan balik yang seimbang. Ketika melakukan kesalahan, mereka memang perlu diarahkan. Namun, saat sudah berusaha atau menunjukkan perkembangan, mereka juga perlu mendapatkan apresiasi. Pengakuan sederhana, seperti “Ayah bangga kamu sudah berusaha,” dapat membantu membangun rasa percaya diri sekaligus memotivasi anak untuk terus belajar.
Kesehatan Mental Anak Dibangun dari Kebiasaan Sehari-hari
Tidak ada orang tua yang selalu sempurna. Setiap orang pasti pernah merasa lelah, kehilangan kesabaran, atau melakukan kesalahan. Kabar baiknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental anak tidak ditentukan oleh satu kejadian, melainkan oleh pola pengasuhan yang berlangsung secara konsisten.
Meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, menerima emosinya tanpa menghakimi, membangun komunikasi yang hangat, serta memberikan contoh dalam mengelola emosi merupakan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.
Anak itu peniru yang sangat ulung. Mereka belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar. Berbagai riset membuktikan bahwa perilaku orang tua adalah model utama bagi anak dalam mengendalikan diri.
Saat kita mampu meminta maaf ketika melakukan kesalahan, berbicara dengan tenang saat ada masalah, atau mengelola stres dengan cara yang positif, anak akan menyerap kebiasaan tersebut. Menjaga kesehatan mental anak tidak hanya dilakukan lewat nasihat, tetapi juga melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Anak yang merasa didengar, dihargai, dan diterima akan lebih mudah membangun rasa percaya diri, mampu mengelola emosinya dengan lebih baik, serta memiliki hubungan sosial yang lebih sehat. Semua itu berawal dari rumah, melalui hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian orang tua.
Ditulis oleh Hafidzah Nur’Abidah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Makassar.