DEPOKPOS – Menjadi mahasiswa perantau sering kali diromantisasi sebagai gerbang menuju kemandirian. Namun, di balik narasi keren tentang anak muda yang berjuang mengejar gelar di kota orang, terdapat kenyataan pahit yang jarang terekspos secara terbuka yaitu benturan keras antara kondisi isi dompet dengan kewarasan mental.
Riset terbaru yang diterbitkan oleh jurnal ilmiah Socius (2026) mengungkapkan informasi penting terkait kehidupan mahasiswa perantau di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Studi yang digarap oleh Nasichah dan timnya menekankan bahwa kondisi sosial ekonomi memiliki pengaruh yang teramat signifikan terhadap kesehatan mental para perantau kampus. Pemahaman bahwa pendidikan hanya soal belajar di kelas seketika runtuh ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa kecemasan, stres, dan malam-malam tanpa tidur mahasiswa sering kali berakar dari ketidakpastian finansial.
Menariknya, penelitian ini mengungkap bahwa hantu psikologis yang dikenal ‘tekanan ekonomi’ tidak mengenal status. Bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, tekanan ini muncul dalam bentuk nyata: kecemasan memikirkan uang bulanan, biaya cetak tugas, transportasi, hingga rasa bersalah karena harus terus meminta kiriman dari orang tua di desa. Dampak dari masalah ini jelas, mulai dari menurunnya fokus belajar hingga hilangnya motivasi akademik.
Namun, di sisi lain, mahasiswa yang memiliki dukungan finansial yang stabil pun tidak terhindar dari stres. Bagi kelompok ini, tekanan mental muncul saat mereka tidak dapat mengendalikan rencana keuangan akibat biaya tidak terduga. Fenomena ini menunjukkan satu hal: isu kesehatan mental mahasiswa perantau bukan hanya tentang “jumlah uang”, tetapi juga rasa aman secara psikologis dan kendali atas stabilitas finansial mereka.
Beban semakin berat disebabkan oleh dinamika lingkungan sosial kampus. Mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi sering kali merasa rendah diri. Mereka merasa perlu menjauh dari pergaulan demi menghemat pengeluaran karena tidak mampu mengikuti standar gaya hidup teman-temannya. Lingkungan yang toksik dan menuntut standar hidup tinggi terbukti mempercepat kelelahan mental (burnout) mahasiswa perantau.
Lalu, apa solusinya? Peneitian ini memberikan sudut pandan baru. Menyelamatkan mental mahasiswa tidak bisa lagi hanya dengan menyediakan ruang konseling gratis.Universitas harus mulai sadar akan pentingnya edukasi literasi keuangan sejak dini agar mahasiswa mampu memetakan prioritas kebutuhan. Selain itu, meningkatkan akses beasiswa, menawarkan peluang kerja paruh waktu di lingkungan internal kampus, serta menumbuhkan ekosistem pertemanan yang suportif-inklusif tanpa memandang latar belakang materi adalah kunci utama penawarnya.
Sudah waktunya bagi kita tidak lagi mengharap mahasiswa hanya fokus pada indeks prestasi kumulatif yang tinggi, tanpa memperhatikan kestabilan emosi mereka yang terganggu oleh tekanan hidup. Pada akhirnya, mencetak generasi emas tidak akan pernah terwujud dari pikiran-pikiran yang meringis menahan beban ekonomi dalam diam.(Nasichah, dkk. 2026)
Ditulis oleh Weny Pujiastini, Mahasiswi Prodi Psikologi di Universitas Binawan
Dosen pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd.
