DEPOKPOS – Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi dan hiburan hanya melalui telepon pintar. Kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mengubah cara seseorang menghabiskan waktu luangnya. Video berdurasi singkat yang menarik membuat banyak orang terus melakukan scrolling tanpa menyadari waktu yang telah berlalu. Kebiasaan tersebut kini mulai dikaitkan dengan fenomena brain rot, yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan menurunnya kemampuan seseorang dalam mempertahankan perhatian akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital singkat (Moshel et al., 2024). Fenomena ini menjadi perhatian karena tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga remaja dan mahasiswa yang setiap hari menggunakan media sosial.
Fenomena brain rot semakin relevan karena penggunaan internet di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemudahan mengakses internet membuat masyarakat dapat menikmati berbagai jenis hiburan kapan saja dan di mana saja. Kondisi tersebut memang memberikan banyak manfaat, seperti mempermudah komunikasi, mencari informasi, dan mendukung proses belajar (Arness & Ollis, 2023). Akan tetapi, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi ketika membaca, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama. Kebiasaan berpindah dari satu video ke video lainnya secara terus-menerus membuat otak terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa memberikan kesempatan untuk memproses informasi secara lebih baik.
Tingginya penggunaan internet di Indonesia dapat dilihat pada data Digital 2025 Indonesia yang diterbitkan oleh DataReportal. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah menjadikan internet dan media sosial sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari sehingga peluang terpapar konten video pendek juga semakin besar.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 285 juta penduduk, 212 juta pengguna internet atau 74,6% dari total populasi, 143 juta identitas pengguna media sosial, serta 356 juta koneksi seluler aktif pada awal tahun 2025. Angka tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat telah terhubung dengan dunia digital. Semakin tinggi intensitas penggunaan internet, semakin besar pula peluang seseorang menghabiskan waktu untuk mengonsumsi video pendek di media sosial. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa fenomena brain rot semakin sering dibahas oleh para peneliti psikologi dan kesehatan mental (Mauliddiana et al., 2025).
Fenomena brain rot bukan berarti teknologi harus dihindari. Teknologi tetap memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Permasalahan muncul ketika seseorang sulit mengendalikan waktu penggunaan media sosial sehingga aktivitas belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain mulai terganggu (Moshel et al., 2024). Artikel ini membahas penyebab munculnya brain rot, dampaknya terhadap kemampuan berpikir, serta langkah sederhana yang dapat dilakukan agar penggunaan media sosial tetap memberikan manfaat tanpa mengurangi kemampuan konsentrasi.
Fenomena brain rot muncul karena otak terbiasa menerima rangsangan yang cepat dan terus berganti. Video pendek di media sosial dirancang agar mampu menarik perhatian hanya dalam beberapa detik. Setelah satu video selesai, pengguna akan langsung melihat video berikutnya tanpa harus mencarinya sendiri. Pola tersebut membuat seseorang terus melakukan scrolling karena selalu ingin melihat konten baru yang lebih menarik (Arness & Ollis, 2023). Kebiasaan ini dapat mengurangi kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan waktu lebih lama, seperti membaca buku, mengikuti perkuliahan, atau mengerjakan tugas.
Penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan gangguan pada fungsi kognitif. Hasil systematic review dan meta-analysis yang dilakukan oleh Moshel dan rekan-rekannya menemukan bahwa perilaku penggunaan layar yang tidak terkontrol berhubungan dengan penurunan perhatian, memori kerja, serta kemampuan mengendalikan diri (Moshel et al., 2024). Kondisi tersebut tidak berarti bahwa media sosial secara langsung merusak otak, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi dan mempertahankan fokus dalam aktivitas sehari-hari.
Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami fenomena ini karena hampir seluruh aktivitas akademik dilakukan menggunakan perangkat digital. Proses mencari referensi, mengikuti kelas daring, hingga berkomunikasi dengan dosen dilakukan melalui internet. Kondisi tersebut membuat batas antara kegiatan belajar dan hiburan menjadi semakin tipis. Seseorang yang awalnya membuka telepon pintar untuk mencari materi kuliah sering kali berakhir menonton video pendek selama beberapa puluh menit tanpa disadari (Arness & Ollis, 2023). Akibatnya, waktu belajar menjadi berkurang dan konsentrasi lebih mudah terganggu.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Mauliddiana dan rekan-rekannya yang menunjukkan bahwa konsumsi short-form content memiliki hubungan dengan menurunnya rentang perhatian mahasiswa (Mauliddiana et al., 2025). Mahasiswa yang lebih sering menghabiskan waktu menonton video pendek cenderung lebih mudah kehilangan fokus ketika mengikuti perkuliahan atau membaca materi yang panjang. Kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang lebih cepat merasa bosan apabila tidak memperoleh rangsangan baru dalam waktu singkat.
Meskipun demikian, fenomena brain rot bukan berarti masyarakat harus berhenti menggunakan media sosial. Teknologi tetap memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara seimbang. Pengguna dapat membatasi waktu bermain media sosial setiap hari, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta mengurangi kebiasaan membuka aplikasi ketika sedang belajar. Aktivitas seperti membaca buku, berolahraga, atau berbincang secara langsung dengan keluarga dan teman juga dapat membantu menjaga kemampuan berkonsentrasi (Moshel et al., 2024). Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun pola penggunaan teknologi yang lebih sehat.
Fenomena brain rot menunjukkan bahwa penggunaan video pendek secara berlebihan dapat memberikan dampak terhadap kemampuan kognitif seseorang. Beberapa dampak yang paling sering ditemukan meliputi:
1)menurunnya kemampuan konsentrasi,
2)menurunnya rentang perhatian saat belajar atau bekerja,
3)meningkatnya kecenderungan untuk mudah terdistraksi oleh media sosial, dan
4)berkurangnya kemampuan mengingat serta memproses informasi secara optimal
Dampak tersebut tidak terjadi secara instan, tetapi dapat berkembang seiring meningkatnya kebiasaan mengonsumsi konten digital singkat dalam waktu yang lama. Penggunaan media sosial pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari karena teknologi tetap memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian yang lebih besar perlu diberikan pada cara dan durasi penggunaannya agar tidak mengganggu proses belajar maupun aktivitas produktif lainnya. Pengaturan waktu penggunaan media sosial, mengurangi kebiasaan scrolling tanpa tujuan, serta memperbanyak aktivitas yang melatih fokus dapat membantu menjaga fungsi kognitif tetap optimal (Moshel et al., 2024). Kebiasaan digital yang sehat akan memungkinkan masyarakat memanfaatkan teknologi sebagai sarana informasi dan hiburan tanpa mengurangi kemampuan berpikir serta kesehatan mental dalam jangka panjang.
Ditulis oleh Dewi Masitoh dari Universitas Binawan
