Oleh: Anisa Bella Fathia, S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
DEPOKPOS – Sahabat Muslimah, apakah isu Epstein Files lewat di beranda media sosialmu? Bagaimana perasaanmu? Mengetahui terbongkarnya data-data para elite global ternyata memiliki ritual satanis, mereka berpesta di sebuah pulau pribadi, memperkosa ribuan anak perempuan, membunuh bayi, hingga memakan darah dan daging manusia? Ngeri, merinding, mual dan pusing pastinya.
Ditulis dalam sebuah postingan instagram oleh seorang peneliti di bidang biochemistry @felix.zulhendri.phd pada Instagramnya (9/2/2026) ditemukan jurnal para elite global ini juga mengkonsumsi Adenochrome, senyawa kimia yang terbentuk dari oksidasi adrenalin atau disebut “narkoba elite”. Senyawa kimia ini diperoleh dari adrenalin darah segar anak kecil yang ketakutan. Mereka menculik anak-anak kecil, menyiksa atau merudapaksa mereka kemudian darahnya diminum sebagai narkoba, ada juga yang mengatakan untuk terapi aging atau awet muda. Naudzubillah min dzalik.
Dari terbongkarnya data Epstein ini, saya jadi teringat serial thriller Korea berjudul Squid Game. Serial ini menceritakan keberadaan sekelompok miliarder dunia kaya raya yang mereka sebut sebagai tamu VIP, yang memiliki uang sangat banyak sampai-sampai mereka bosan dengan kehidupan yang bisa mereka beli. Akhirnya muncul ide gila di luar batas nalar manusia normal, mereka membeli sebuah pulau untuk dijadikan tempat permainan. VIP ini mencari orang-orang yang bisa dijadikan pemain. Mereka kebanyakan orang biasa yang terlilit banyak utang atau juga orang yang sudah tidak punya semangat hidup. Mereka diminta memainkan permainan anak kecil dengan hadiah uang fantastis, ratusan miliar won.
Demi mendapatkan hadiah itu, mereka harus bertaruh nyawa dan saling membunuh dengan pemain lainnya karena harus menyisakan satu pemenang. Kelompok VIP ini dengan santainya menonton jalan permainan, minum-minuman keras sambil tertawa melihat satu per satu pemain mati di depan mata mereka. Bahkan di serial Squid Game musim 3, mereka menjadikan seorang bayi sebagai pemain, mereka ingin tahu bagaimana bayi bisa bermain permainan mematikan ini. Para elit VIP ini benar-benar sudah sangat gila.
Sekuel Squid Game ini walaupun hanya film, tapi ada kemiripan dengan Epstein File, yakni seorang kaya raya bisa melakukan hal gila di luar batas nalar asalkan punya uang. Bisa menyiksa siapa pun yang lemah dengan harta dan kekuasaannya. Saking kayanya, mereka bisa membuat hiburan yang tak biasa, nurani mereka sudah mati. Yang menguasai jalan berpikir hanyalah kesenangan duniawi.
Perilaku di luar batas nalar manusia ini hanya ada dalam sistem kufur buatan manusia. Manusia dibebaskan membuat aturan kehidupan, dibebaskan memiliki apa pun, membeli pulau, membeli organ tubuh secara bebas, memperjualbelikan manusia. Selama dia memiliki uang apalagi jabatan maka semua itu menjadi mungkin. Inilah tata kehidupan dalam sistem kapitalis sekuler, aturan agama tidak boleh mengatur kehidupan bermasyarakat, agama hanya dijalankan di tempat ibadah.
Saya pun teringat kebiasaan orang Arab jahiliah sebelum datangnya Islam. Seorang bapak rela mengubur bayinya hidup-hidup karena malu dan menyesal atas jenis kelaminnya, perempuan. Perempuan hanya dianggap seperti barang yang tidak berharga, hanya dipergunakan untuk pemuas syahwat lelaki semata. Islam datang dengan kemuliaan cahayanya. Menghapuskan kebiasaan jahiliyah, mengangkat dan memuliakan derajat perempuan. Tidak ada lagi perbedaan status sosial antara laki-laki dan perempuan, manusia dibedakan menurut ketakwaannya kepada Allah SWT. Darah kaum Muslim haram untuk dibunuh, apalagi seorang bayi.
Hal-hal keji termasuk ritual satanisme seperti yang dikeluarkan Epstein File sangat mungkin ada di sistem sekuler kapitalis. Mereka melakukan pemujaan kepada setan, menumbalkan nyawa manusia, hingga mengonsumsi darah segar para bayi karena sistem kehidupan yang memberi kebebasan seluas-luasnya.
Konsep harta atau rezeki yang mereka miliki bagi mereka tidak ada hubungannya dengan agama, harta adalah hasil dari kerja keras pribadi. Tidak peduli sumbernya halal atau haram, lalu dikeluarkan untuk keperluan yang halal atau haram.
Dalam sistem Islam, umat Muslim paham konsep rezeki sangat berkaitan dengan akidah. Allah SWT adalah pemberi rezeki. Besar kecil kerja keras kita, urusan rezeki ada di tangan Allah. Allah akan meminta pertanggungjawaban kita dari mana sumber rezeki yang kita upayakan, ke mana larinya rezeki yang sudah kita dapatkan, dipakai untuk apa saja.
Maka, dalam Islam, seorang Muslim yang kaya raya justru semakin takut kepada Allah SWT. Mereka takut hisab Allah atas rezekinya. Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat Nabi yang dikenal kaya raya, namun justru ia terkenal karena kedermawanannya.
Ia selalu bersedekah, banyak berinfak untuk keperluan peperangan, membeli sumur untuk kaum Muslim saat diuji kekeringan, membeli tanah untuk digunakan pedagang Muslim tanpa biaya sewa di saat pasar Yahudi mengenakan tarif sewa yang mahal kepada pedagang Muslim dan banyak kebaikan lainnya dari sosok sahabat kaya raya ini. Beliau mewariskan banyak keteladanan pada kita, yakni dengan diberikan kelebihan rezeki maka hal yang utama adalah membelanjakan harta dan menggunakannya di jalan dakwah. Hal itu tidak akan membuat kita miskin justru akan menjadi bekal di akhirat kelak.
Konsep rezeki seperti ini hanya ada dalam sistem kehidupan dari Sang Pencipta, yakni sistem Islam yang akan memberikan rahmat bagi seluruh alam. Tidak akan ada dalam sistem buatan manusia. Karena bila manusia diberi hak membuat aturan kehidupan, maka lihatlah hari ini, kesengsaraan dan penderitaan terjadi di mana-mana bahkan di negeri-negeri Muslim.[]
