Oleh Aisya Laily Rahmah, mahasiswa D4 Fisioterapi di Universitas Binawan
DEPOKPOS – Bell’s Palsy adalah kondisi di mana otot wajah mengalami kelemahan secara tiba-tiba akibat kerusakan pada saraf fasialis perifer (LMN), yang mengakibatkan gangguan pada ekspresi wajah.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini meliputi paparan angin dingin, penggunaan pendingin ruangan atau kipas angin secara berlebihan, serta infeksi dari virus herpes.
Fisioterapi memiliki peran yang sangat vital dalam mengurangi rasa sakit, merangsang aktivitas neuromuskular, dan memperbaiki fungsi otot wajah melalui metode Infra Red (IR), Electrical Stimulation (ES), dan Pijat.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai seberapa efektif pengelolaan fisioterapi yang melibatkan IR, ES, dan Pijat terhadap rasa sakit, kekuatan otot, dan fungsi wajah pada pasien dengan Bell’s Palsy Dextra.
Metodologi penelitian yang diterapkan adalah studi kasus dengan pendekatan kuantitatif deskriptif pada satu individu yang mengalami Bell’s Palsy Dextra yang mendapatkan terapi IR, ES, dan Pijat selama empat sesi.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS), Manual Muscle Testing (MMT), dan skor fungsional Ugo Fisch.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah menjalani empat sesi terapi, terdapat penurunan rasa sakit pada area belakang telinga, peningkatan kekuatan otot wajah (seperti M. Frontalis, Nasalis, dan lainnya), serta perbaikan dalam fungsi wajah seperti kemampuan untuk menutup mata secara rapat, mengerutkan dahi, dan tersenyum dengan lebih simetris.
Pengelolaan fisioterapi yang melibatkan IR, ES, dan Pijat menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam mengelola rasa sakit, kekuatan otot, dan fungsi wajah pada pasien dengan Bell’s Palsy Dextra.
Modalitas ini terbukti efektif sebagai bagian dari program rehabilitasi yang komprehensif.