Oleh Muhammad Rafli Husaini, Mahasiswa D4 Fisioterapi Universitas Binawan
DEPOKPOS – Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang umum dialami populasi lansia dan menyebabkan nyeri, kekakuan, serta penurunan fungsi fisik yang signifikan. Tingkat aktivitas fisik pasien OA berpengaruh terhadap kualitas hidup selama menjalani program fisioterapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien osteoarthritis yang menjalani program fisioterapi melalui kajian literatur sistematis. Metode yang digunakan adalah literature review dari jurnal-jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian terkait aktivitas fisik, osteoarthritis, dan kualitas hidup. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara peningkatan tingkat aktivitas fisik dengan peningkatan kualitas hidup pasien OA, meliputi pengurangan nyeri, peningkatan fungsi sendi, dan peningkatan kapasitas fungsional. Program fisioterapi yang mengintegrasikan aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan dan hasil jangka panjang. Kesimpulannya, peningkatan dan pemeliharaan tingkat aktivitas fisik merupakan komponen kunci dalam program fisioterapi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien osteoarthritis secara komprehensif.
Osteoarthritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif yang paling umum terjadi pada populasi dewasa dan lansia di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai dengan kerusakan progresif pada kartilago sendi, pembentukan tulang baru (osteofit), dan peradangan sinovium yang menyebabkan nyeri kronis, kekakuan, dan keterbatasan fungsi fisik (Muslimah et al., 2025). Menurut World Health Organization, osteoarthritis lutut saja mempengaruhi lebih dari 250 juta orang secara global, dengan prevalensi terus meningkat seiring dengan peningkatan usia populasi dunia (Astuti Aini et al., 2025). Di Indonesia, data menunjukkan bahwa 80% penderita osteoarthritis mengalami keterbatasan dalam beraktivitas, dan sebanyak 25% diantaranya tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri (Devita Intania Putri Gunadi et al., 2022).
Manifestasi klinis osteoarthritis tidak hanya terbatas pada gejala fisik seperti nyeri dan penurunan lingkup gerak sendi, tetapi juga berdampak signifikan pada aspek psikologis dan sosial pasien (Farnedi et al., 2026). Pasien dengan osteoarthritis sering mengalami penurunan kualitas hidup yang mencakup kesulitan dalam aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari (IADL), pembatasan partisipasi sosial, dan peningkatan risiko depresi. Penelitian menunjukkan bahwa hingga 49,3% pasien dengan osteoarthritis lutut menderita depresi, yang selanjutnya akan memperburuk gejala dan menurunkan motivasi untuk beraktivitas (Wahyuni & Zakaria, 2021). Tingkat aktivitas fisik menjadi faktor krusial yang dapat mempengaruhi prognosis dan kualitas hidup pasien osteoarthritis.
Program fisioterapi telah terbukti sebagai salah satu pendekatan utama dalam pengelolaan osteoarthritis, dengan fokus pada peningkatan aktivitas fisik melalui berbagai bentuk latihan terapeutik (Erisca, 2021). Latihan fisik yang terstruktur dan disesuaikan dengan kondisi pasien dapat memberikan manfaat dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki lingkup gerak sendi, dan yang terpenting, meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan (Sartoyo & Pradita, 2025). Namun, masih banyak pasien osteoarthritis yang tidak aktif melakukan latihan atau memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah, sehingga tidak mengalami manfaat optimal dari program fisioterapi.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien osteoarthritis yang menjalani program fisioterapi melalui kajian literatur komprehensif. Pemahaman mendalam tentang hubungan ini penting untuk mengoptimalkan strategi intervensi fisioterapi dan meningkatkan outcomes klinis pada pasien osteoarthritis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan program fisioterapi yang lebih efektif dan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode literature review atau kajian pustaka sistematis untuk menganalisis dan mensintesiskan informasi dari berbagai jurnal ilmiah terkait. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola, tren, dan kesimpulan umum dari berbagai studi yang telah dilakukan sebelumnya mengenai hubungan aktivitas fisik dan kualitas hidup pada pasien osteoarthritis (Pristianto et al., 2024). Literature review ini dilakukan dengan pendekatan naratif untuk memahami secara mendalam mekanisme dan dampak aktivitas fisik terhadap kualitas hidup pasien.
Sumber Data
Sumber data berasal dari jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional yang telah melalui proses peer-review dan tersedia di platform digital akademik termasuk Google Scholar, repositori jurnal nasional, dan basis data internasional. Jurnal yang dipilih meliputi publikasi dalam bidang fisioterapi, rehabilitasi medik, rheumatologi, dan geriatri. Kriteria inklusi dalam pemilihan jurnal meliputi publikasi dalam 10 tahun terakhir (2015-2025), fokus pada osteoarthritis lutut atau sendi besar lainnya, membahas topik aktivitas fisik, latihan terapeutik, kualitas hidup, atau kombinasi dari topik-topik tersebut, menggunakan instrumen pengukuran yang valid seperti IPAQ (International Physical Activity Questionnaire), SF-36, WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index), atau KOOS, serta tersedia dalam format teks lengkap yang dapat diakses.
Proses Seleksi
Proses pencarian literatur dilakukan melalui kata kunci seperti “aktivitas fisik osteoarthritis”, “physical activity quality of life”, “fisioterapi latihan lutut”, “terapi latihan osteoarthritis”, “IPAQ osteoarthritis”, dan “exercise program OA”. Data dari setiap jurnal dianalisis secara tematik dengan fokus pada karakteristik sampel penelitian, jenis dan intensitas aktivitas fisik yang diterapkan, instrumen pengukuran kualitas hidup dan hasil yang diperoleh, temuan utama mengenai hubungan aktivitas fisik dengan kualitas hidup, serta rekomendasi klinis untuk praktik fisioterapi.
Instrumen Pengukuran
Berbagai instrumen telah digunakan dalam studi-studi yang dikaji untuk mengukur aktivitas fisik dan kualitas hidup. IPAQ (International Physical Activity Questionnaire) digunakan untuk mengukur tingkat aktivitas fisik dengan kategori ringan, sedang, dan berat. WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index) mengukur nyeri, kekakuan, dan fungsi fisik pada osteoarthritis, sementara NRS (Numerical Rating Scale) merupakan skala nyeri dari 0-10. SF-36 (Short-Form 36) mengukur kualitas hidup multidimensi dengan berbagai dimensi kesehatan. EQ-5D (EuroQol 5 Dimensions) mengukur dimensi mobilitas, perawatan diri, aktivitas sehari-hari, nyeri, dan kecemasan. KOOS (Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score) adalah instrumen khusus untuk lutut, sedangkan VAS (Visual Analog Scale) digunakan untuk mengukur intensitas nyeri secara visual. Penggunaan instrumen-instrumen ini memastikan bahwa data yang dikumpulkan valid, reliabel, dan dapat dibandingkan antar penelitian.
Manfaat Fisik dan Fisiologis Aktivitas Fisik pada Pasien Osteoarthritis
Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dan terstruktur melalui program fisioterapi memiliki banyak manfaat fisik dan fisiologis bagi pasien osteoarthritis. Penelitian komprehensif menunjukkan bahwa terapi latihan dapat memberikan manfaat signifikan dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan fleksibilitas sendi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien OA (Zain et al., 2025). Jenis-jenis aktivitas fisik yang disarankan untuk pasien osteoarthritis meliputi latihan aerobik, latihan penguatan, dan hydrotherapy.
Latihan aerobik seperti berjalan, bersepeda, dan berenang terbukti efektif dalam meningkatkan kondisi kardiorespirasi pasien sambil mengurangi beban pada sendi yang sakit. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Winarsih et al. (2025), menunjukkan bahwa latihan bersepeda statis menghasilkan peningkatan kekuatan otot ekstensor dan fleksor ekstremitas bawah secara signifikan pada pasien osteoarthritis. Latihan ini memiliki keunggulan karena merupakan aktivitas low-impact yang meminimalkan beban pada sendi lutut sambil tetap memberikan efek cardiovascular yang menguntungkan.
Latihan kekuatan seperti quadriceps setting exercise dan hip abductor strengthening exercise secara khusus membantu menstabilkan sendi lutut dengan memperkuat otot-otot penyangga, sehingga mengurangi stres mekanis pada kartilago sendi. Penelitian yang dilakukan Sastrawati et al. (2025), pasien osteoarthritis bilateral menunjukkan bahwa kombinasi intervensi fisioterapi dengan terapi latihan penguatan menghasilkan penurunan nyeri signifikan dan peningkatan aktivitas fungsional seperti kemampuan berjalan, berdiri dari kursi, dan naik tangga. Latihan elastic band strengthening terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional pasien osteoarthritis lutut dengan penurunan tingkat nyeri yang bermakna (Wahyuni & Zakaria, 2021).
Hydrotherapy menunjukkan hasil yang sangat positif dalam meningkatkan lingkup gerak sendi dan mengurangi nyeri. Hydrotherapy, khususnya, memanfaatkan sifat fisik air seperti daya apung, tekanan hidrostatik, dan efek suhu hangat, sehingga memberikan lingkungan latihan yang aman tanpa beban berlebihan pada sendi lutut (Amanda et al., 2025). Penelitian pada pasien dengan osteoarthritis genu sinistra menunjukkan penurunan nyeri diam dari 1 menjadi 0, nyeri tekan dari 2 menjadi 1, dan nyeri gerak dari 4 menjadi 2 setelah delapan sesi hydrotherapy (Marthaulina et al., 2021). Penelitian systematic review menunjukkan bahwa latihan kombinasi (mixed exercise) yang menggabungkan aerobik, penguatan, dan fleksibilitas menghasilkan peningkatan kualitas hidup yang signifikan pada pasien dengan osteoarthritis (Astuti Aini et al., 2025).
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Penurunan Nyeri dan Peningkatan Fungsi Sendi
Data empiris menunjukkan korelasi negatif yang bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan derajat nyeri pada pasien osteoarthritis. Penelitian observasional analitik yang melibatkan 25 pasien osteoarthritis lutut di instalasi rehabilitasi medik rumah sakit menemukan bahwa tingkat aktivitas fisik yang diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) memiliki hubungan berkorelasi negatif yang signifikan dengan derajat nyeri yang diukur menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) dengan nilai p=0,015 dan r=-0,479 (Devita Intania Putri Gunadi et al., 2022). Hal ini berarti bahwa pasien dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi cenderung mengalami derajat nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang memiliki tingkat aktivitas fisik rendah.
Studi literatur yang melibatkan 10 jurnal terpilih juga menunjukkan hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan risiko osteoarthritis lutut pada lansia. Analisis Mendelian randomization mengungkapkan bahwa perilaku latihan fisik yang tepat menunjukkan hubungan negatif yang kuat dengan osteoarthritis lutut (OR: 0,147, 95% CI: 0,037-0,582, p=0,006), sedangkan perilaku aktivitas fisik yang berlebihan menunjukkan hubungan positif yang signifikan dengan osteoarthritis lutut (OR: 2,162, 95% CI: 1,327-3,521, p=0,002) (Sastrawati et al., 2025). Temuan ini menunjukkan pentingnya moderasi dalam aktivitas fisik—aktivitas yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak dapat meningkatkan risiko osteoarthritis.
Peningkatan fungsi sendi juga merupakan outcome penting yang berkaitan dengan peningkatan aktivitas fisik. Studi menunjukkan bahwa pasien yang secara konsisten melakukan terapi latihan dengan frekuensi yang tepat mengalami peningkatan lingkup gerak sendi yang terukur. Pada pasien osteoarthritis genu, latihan Free Active Movement dan Resisted Active Movement menghasilkan peningkatan fleksi lutut dari 110° menjadi 130° setelah intervensi (Wahyuni & Zakaria, 2021). Penggunaan instrumen pengukuran yang lebih komprehensif seperti WOMAC menunjukkan peningkatan pada semua komponen, termasuk penurunan nyeri, pengurangan kekakuan, dan peningkatan fungsi fisik setelah program latihan terstruktur (Erisca, 2021).
Dampak Aktivitas Fisik terhadap Kualitas Hidup Komprehensif
Kualitas hidup pasien osteoarthritis merupakan konstruk multidimensional yang mencakup dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Penelitian yang mengukur kualitas hidup menggunakan instrumen EQ-5D pada penderita osteoarthritis menunjukkan derajat keparahan dimensi yang berbeda, yaitu Mobility (56,1%), Self-Care (24,2%), Usual Activities (41,5%), Pain/Discomfort (92,7%), dan Anxiety/Depression (61%) (Sri Winarsih et al., 2025). Dimensi Pain/Discomfort menunjukkan persentase tertinggi, mengindikasikan bahwa nyeri dan ketidaknyamanan adalah aspek yang paling terganggu dalam kualitas hidup pasien OA.
Penelitian yang membandingkan pasien dengan aktivitas fisik tinggi versus aktivitas fisik rendah menemukan perbedaan yang signifikan dalam dimensi-dimensi kualitas hidup tersebut (Devita Intania Putri Gunadi et al., 2022). Pasien yang secara konsisten mempertahankan atau meningkatkan tingkat aktivitas fisik mereka menunjukkan skor SF-36 (Short-Form 36) yang lebih tinggi, terutama pada subscale yang berkaitan dengan physical functioning, role physical, bodily pain, dan general health perception. Perbedaan skor-skor ini mengindikasikan bahwa pasien dengan aktivitas fisik tinggi memiliki persepsi diri yang lebih baik terhadap kemampuan fisik mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Dimensi psikologis dari kualitas hidup juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan peningkatan aktivitas fisik. Program telehealth-supported exercise terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan melalui peningkatan konsistensi aktivitas fisik (Marthaulina et al., 2021). Penelitian menunjukkan bahwa pada individu paruh baya dan lanjut usia dengan gangguan muskuloskeletal, kemungkinan buruknya Health-Related Quality of Life (HRQoL) secara signifikan lebih rendah pada mereka yang rutin melakukan aktivitas fisik dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali (Sastrawati et al., 2025). Intensitas sedang terkait waktu luang terbukti memiliki efek terbesar dalam mencegah eksaserbasi HRQoL. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki efek protektif yang signifikan pada kualitas hidup pasien osteoarthritis.
Strategi Edukasi, Program Pendampingan, dan Evaluasi Efektivitas Intervensi
Edukasi pasien yang komprehensif tentang hubungan antara aktivitas fisik dan perbaikan gejala memainkan peran penting dalam meningkatkan motivasi dan kepatuhan. Program edukasi yang menggunakan media leaflet terbukti efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang osteoarthritis, dengan peningkatan pengetahuan dari kategori kurang menjadi baik setelah kegiatan edukasi (Pristianto et al., 2024). Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta program edukasi dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang faktor risiko osteoarthritis, tanda dan gejala penyakit, serta pentingnya aktivitas fisik dalam pencegahan dan penanganan (Erisca, 2021).
Program pendampingan berkelanjutan juga terbukti meningkatkan efektivitas program fisioterapi. Kegiatan penyuluhan dan demonstrasi gerakan terapi latihan yang dapat dilakukan mandiri di rumah terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan jangka panjang (Zain et al., 2025). Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi edukasi, demonstrasi, dan distribusi leaflet sebagai media edukasi mampu memberikan tingkat pengetahuan yang meningkat dan mengurangi keluhan pada peserta program (Muslimah et al., 2025).
Program self-management (manajemen mandiri) menjadi semakin penting dalam pengelolaan jangka panjang osteoarthritis. Implementasi program self-management pada osteoarthritis lutut melalui latihan fungsional menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Sartoyo dan Pradita, 2025). Program ini melibatkan pemeriksaan deteksi keluhan nyeri lutut, intervensi nyeri lutut, aktivitas fungsional rekreasi untuk menjaga kesehatan, serta pendampingan berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan bahwa efektivitas intervensi fisioterapi dapat diukur melalui berbagai parameter. Kombinasi intervensi fisioterapi yang meliputi Infrared (IR), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan latihan terbukti memberikan hasil signifikan dalam mengurangi nyeri tekan (dari 4/10 menjadi 1/10) dan meningkatkan lingkup gerak sendi fleksi lutut (dari 110° menjadi 135°) (Azzura Zain et al., 2025). Penelitian juga menunjukkan bahwa manual traksi fisioterapi memberikan pengaruh signifikan dalam meningkatkan aktivitas fungsional sendi lutut dan kualitas hidup pasien osteoarthritis lutut (Astuti Aini et al., 2025). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa pencegahan dan penanganan nyeri sendi lutut melalui berbagai modalitas fisioterapi seperti Infrared, TENS, dan NeuroMuscular Taping (NMT) dapat mengurangi nyeri, meningkatkan aktivitas fungsional serta meningkatkan kembali aktivitas fisik pada pasien osteoarthritis (Sartoyo & Pradita, 2025).
Berdasarkan analisis mendalam terhadap berbagai jurnal ilmiah terkait osteoarthritis, aktivitas fisik, dan kualitas hidup, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien osteoarthritis yang menjalani program fisioterapi. Pasien yang mempertahankan atau meningkatkan tingkat aktivitas fisik mereka menunjukkan hasil yang lebih baik dalam berbagai aspek, meliputi pengurangan intensitas nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kapasitas fungsional dalam aktivitas sehari-hari. Selain manfaat fisik, aktivitas fisik juga memberikan dampak positif pada dimensi psikologis dan sosial kualitas hidup, termasuk penurunan risiko depresi dan peningkatan partisipasi sosial. Pentingnya moderasi dalam aktivitas fisik juga menjadi temuan penting—aktivitas yang terukur dan sesuai dengan kondisi pasien lebih efektif daripada aktivitas yang ekstrem.
Program fisioterapi yang efektif harus dirancang dengan pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada pengurangan gejala, tetapi juga pada peningkatan dan pemeliharaan tingkat aktivitas fisik pasien dalam jangka panjang. Integrasi aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian pasien, pendekatan berbasis fungsi, edukasi pasien yang komprehensif, dan dukungan berkelanjutan dari tenaga kesehatan merupakan komponen-komponen kunci dalam kesuksesan program.

