Scroll untuk baca artikel
Artikel

Tawuran Pelajar: Bukti Kesenjangan antara Nilai Pancasila dan Realitas Sosial

×

Tawuran Pelajar: Bukti Kesenjangan antara Nilai Pancasila dan Realitas Sosial

Sebarkan artikel ini
Tawuran Pelajar: Bukti Kesenjangan antara Nilai Pancasila dan Realitas Sosial

Tawuran pelajar merupakan salah satu masalah sosial yang sering terjadi di Indonesia. Padahal negara Indonesia sudah mempunyai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus sistemetika.

Melalui nilai Pancasila seharusnya masalah tawuran pelajar dapat diminimalisir. Namun kenyataannya tawuran pelajar masih sering terjadi, apakah hal ini menunjukkan bahwa pancasila belum bisa menjadi pedoman sistem etika negara Indonesia?

Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai ideal Pancasila dengan implementasinya dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan remaja. Untuk memperdalam analisis, dilakukan wawancara dengan salah satu warga Utara 17 bernama Dika, guna melihat pandangan masyarakat mengenai peran Pancasila dan faktor penyebab tawuran pelajar.

Sebagai ideologi bangsa, Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara tetapi juga berfungsi sebagai sistem etika, yakni pedoman moral yang menuntun perilaku masyarakat agar bertindak beradab, saling menghormati, dan menjaga persatuan. Setiap sila pada pancasila mengandung nilai moral yang mengarahkan individu untuk menjauhi kekerasan.

Dalam wawancara, Dika menyampaikan bahwa Pancasila pada dasarnya sudah dipahami sebagai pedoman bernegara. Ia berkata: “Kalo menurut gua ya Pancasila untuk sekarang dan saat ini sebagai pedoman sama dasar negara.”

Pandangan ini menegaskan bahwa masyarakat memahami peran Pancasila, namun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari masih belum optimal.

Secara ideal, Pancasila menjadi pedoman moral bagi generasi muda untuk bersikap santun, menghindari kekerasan, dan menjunjung nilai kemanusiaan serta persatuan. Namun, penanaman nilai tersebut sangat bergantung pada pendidikan, lingkungan, dan karakter masing-masing individu.

Dika menambahkan bahwa perilaku generasi muda lebih dipengaruhi oleh pilihan pribadi: “Sesuai pendirian masing-masing sih sebenernya…pertama kita mau gimana nih kedepannya, mau lebih baik atau lebih buruk, itu tergantung orangnya.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun Pancasila sudah menjadi sistem etika, penerapannya memerlukan kesadaran pribadi serta dukungan lingkungan sekitar untuk memperkuat pendidikan karakter.

Tawuran yang masih marak terjadi menunjukkan adanya hambatan dalam penerapan nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Selain faktor moral, beberapa faktor eksternal juga menjadi pemicu. Berdasarkan wawancara, Dika menyampaikan bahwa minimnya fasilitas bagi remaja menjadi salahsatu alasan penting:

“Sekarang ya kurang fasilitas sih sebenernya… kaya buat orang- orang olahraga gitu. Buat ke depannya yang lebih baik untuk gen Z itu tidak difasilitasi.”

Pernyataan ini membuka sudut pandang baru bahwa kurangnya ruang kreatif, sarana olahraga, dan kegiatan positif membuat remaja mencari pelampiasan di luar jalan yang benar. Kurangnya fasilitas membuat remaja cenderung terlibat dalam aktivitas negatif, termasuk tawuran.

Tawuran pelajar bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, hal ini menunjukkan bahwa konflik pelajar adalah bentuk penyimpangan etika yang seharusnya dapat dicegah jika nilai Pancasila benar-benar ditanamkan dan didukung oleh sistem sosial yang memadai.

Untuk mengurangi tawuran, Pancasila dapatdijadikan basis etika dalam kebijakan dan kehidupan sosial. Menariknya, Dika mengusulkan solusi yang berkaitan dengan fasilitaspublik:

“Sebenernya pemerintah memfasilitasi semua yang gen Z mau sih… contohnya kaya GOR lebih banyak seharusnya, taman literasi biar orang-orang tuh mau baca.”

Pendapat ini selaras dengan nilai Pancasila, terutama Sila 5 tentang keadilan sosial. Dengan fasilitas yang layak, remaja dapat menyalurkan energi secara positif melalui olahraga, kegiatan seni, atau literasi sehingga waktu mereka tidak terbuang pada aktivitas berisiko seperti tawuran.

Pancasila sebagai sistem etika sebenarnya telah memberi dasar moral yang kuat untuk mencegah perilaku kekerasan seperti tawuran pelajar. Namun, implementasinya masih terhambat oleh kurangnyapenanaman nilai sertaminimnyafasilitas positifbagi remaja. Berdasarkan wawancara dengan Dika, terlihat bahwa masyarakat juga menilai fasilitas publik dan ruang aktivitas bagi generasi muda sangat mempengaruhi perilaku mereka.

Untuk itu, penerapan Pancasila harus menyentuh dua aspek yaitu, pembentukan moral melalui pendidikan karakterdan pemenuhan kebutuhan fasilitas yang mendukung perkembangan remaja. Ketika dua hal tersebut saling mendukung secara bersamaan, tawuran pelajar dapat ditekan, dan generasi muda dapat berkembang menjadi pribadi yang beradab, beretika, dan mencerminkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Nadya Jasmine Alifah, mahasiswa Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta