Oleh : Aisyah Meryzca Diandra Putri
Program Studi Psikologi – Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka
Perdebatan tentang sumber pengetahuan awal manusia berasal, antara rasionalisme dan empirisme tidak berujung. Konsep rasionalisme menekankan ide bawaan dari manusia, sedangkan empirisme menekankan pada pengalaman. Artikel ini akan membahas perspektif Psikologi Islam dengan menempatkan wahyu Allah SWT sebagai sumber utama pengetahuan, hal ini merujuk dalam QS Al-Alaq ayat 1-5. Dalam hal ini, pengetahuan awal manusia dalam Islam berasal dari Allah SWT, kemudian diproses oleh akal dan diperkuat oleh pengalaman. Dengan demikian, Psikologi Islam menegaskan bahwa proses kognitif manusia tidak hanya berdasar pada logika dan pengalaman, tetapi juga berdasar pada petunjuk Allah SWT.
Pendahuluan
Perdebatan mengenai sumber pengetahuan awal manusia berasal tidak berujung. Dua aliran Rasionalisme dan Empirisme menjelaskan arti yang berbeda. Rasionalisme menekankan pada ide bawaan dari manusia sedangkan Empirisme menekankan pada pengalaman.
Dalam Perspektif Psikologi Islam, perdebatan tersebut mendapat jawaban. Islam menempatkan wahyu Allah SWT sebagai sumber utama pengetahuan sebagimana tertulis dalam QS Al-alaq ayat 1-5 yang berisi perintah manusia untuk membaca dan menekankan bahwa Allah SWT yang mengajarkan manusia melalui perantara kalam.
Dengan demikian, pengetahuan awal manusia dalam Perspektif Islam bukan hanya dari pengalaman, tetapi juga berasal dari petunjuk ilahi yang kemudian diproses akal dan diperkuat oleh pengalaman.
Pembahasan
Konsep belajar dan pengetahuan dalam Psikologi Pendidikan sangat bergantung pada filsafat epistemologi, yaitu ilmu yang menjawab pertanyaan dari mana pengetahuan berasal dan bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Menurut (Schunk ., 2012) pertanyaan tersebut terjawab oleh aliran filsafat rasionalisme dan empirisme.
Rasionalisme meyakini bahwa sumber pengetahuan adalah ide yang ada di dalam pikiran manusia.
Empirisme meyakini bahwa sumber pengetahuan bukanlah ide melainkan pengalaman (dunia luar).
Perdebatan tersebut tidak akan berujung, manakah yang muncul terlebih dahulu dan berperan dalam pembentukan pengetahuan. Namun dalam perspektif islam pertanyaan ini dapat dijawab dengan merujuk pada wahyu Allah S.W.T
Ketika manusia menempatkan akal dibawah bimbingan wahyu Allah, maka pertanyaan mengenai pengetahuan awal akan mudah terjawab. Al-Quran menjelaskan sumber utama pengetahuan manusia adalah Allah S.W.T yang tertulis dalam Q.S Al-Alaq ayat 1-5
Ayat diatas menjelaskan bahwa kesadaran akan penciptaan diri manusia dan disusul oleh kesadaran siapa yang mengajarkan ilmu maupun pengetahuan kepada manusia yaitu Allah S.W.T menurut Shihab (2002) berdasar ayat tersebut Allah mengajarkan pengetahuan melalui 2 bentuk yaitu :
1. Secara tidak langsung : melalu pena (tulisan dan membaca)
2. Secara langsung : tanpa melalui perantara yang disebut Ilmu Ladun
Peran Akal (Aql) sebagai bawaan dari lahir
Akal adalah hal yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Dengan adanya akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Dalam Psikologi Islam, Akal (Aql) adalah kognitif yang memungkinkan manusia memproses dan menarik kesimpulan, Akal tidak dapat berdiri sendiri secara optimal tanpa panduan dari wahyu Allah SWT.
Peran Pengalaman sebagai Penguat
Pengalaman sebagai bukti dalam memperkuat pengetahuan yang berasal dari wahyu Allah SWT. Hal ini sejalan dengan akal yang berfungsi untuk membedakan mana yang baik dan buruk, sedangkan pengaalaman sebagai bukti nyata yang membantu memperkuat keimanan dan pengetahuan.
Kesimpulan
Dalam pandangan Islam, pengetahuan awal bukan sekadar ide bawaan (Rasionalisme) atau pengalaman (Empirisme), melainkan pemberian dari Allah yang memerlukan aktivasi melalui Iqra (Usman, 2018).
Jika filsafat barat memperdebatkan apakah ide atau pengalaman, islam menawarkan perspektif yang lebih jelas mengenai pengetahuan muncul pertama kali dari Allah S.W.T kemudian diproses melalui akal dan diperkuat oleh pengalaman. Jadi akal dan pengalaman berjalan sesuai petunjuk wahyu, bukan berdiri sendiri tanpa adanya arahan.


