DEPOKPOS – Generasi Z sering dicap sebagai generasi yang terlalu sibuk dengan gawai, terlalu mudah terpengaruh arus global dan terlalu bebas mengekspresikan diri. Namun justru dibalik kebebasan itu,
Gen Z menyimpan potensi besar untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam bentuk yang lebih kreatif dan relevan.
Hari ini, berbudaya bukan hanya soal memakai pakaian tradisional atau hafal tarian daerah, tetapi bagaimana seseorang mampu menempatkan nilai Pancasila ditengah kehidupan yang serba digital.
Gen Z memiliki caranya sendiri, cara yang tidak selalu formal tetapi berdampak nyata.
Dengan segala kreativitas dan gaya hidup digital yang mereka miliki, pertanyaan pun muncul: mampukah Generasi Z menjadikan Pancasila tetap hidup di tengah perubahan zaman?
Nilai ketuhanan tampak dari cara mereka menjaga toleransi dan menghindari konten yang memicu perpecahan Sikap sederhana namun sangat berarti ditengah maraknya hoaks dan pertentangan diruang digital.
Wujud kemanusiaan tampak ketika Gen Z menunjukkan kepedulian sosial. Mereka aktif dalam kampanye isu kesehatan mental, gerakan peduli lingkungan, hingga donasi online untuk korban bencana.
Ditengah perkembangan zaman yang begitu pesat, perhatian seperti ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan masih terjaga.
Sila persatuan menjadi relevan ketika Gen Z memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara kreatif. Banyak konten kreator muda yang mempopulerkan musik daerah, makanan khas, hingga cerita rakyat dengan gaya modern.
Tanpa disadari, mereka sebenarnya sedang menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Dalam sila kerakyatan, Gen Z menunjukkan bahwa demokrasi adalah ruang bagi semua orang untuk berpartisipasi. Mereka aktif berdiskusi, memberikan tanggapan terhadap berbagai kebijakan, dan menyampaikan pendapat lewat media sosial.
Mereka melakukannya dengan cara yang lebih santai tetapi tetap bermakna, mereka menciptakan cara baru dalam berpartisipasi.
Sementara itu, nilai keadilan sosial dapat dilihat dari tindakan-tindakan sehari-hari yang sederhana tapi bermakna, seperti menghargai karya orang lain, memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang di lingkungan organisasi atau komunitas, serta mendukung pelaku usaha lokal.
Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, bila dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, tidak hanya menciptakan perubahan nyata, tetapi juga memperkuat rasa saling menghormati dan keadilan dalam kehidupan masyarakat.
Semua gambaran ini memperlihatkan bahwa nilai Pancasila bukanlah sesuatu yang jauh dari keseharian Gen Z. Justru ditengah derasnya informasi dan perubahan sosial, mereka mampu menemukan cara-cara baru untuk untuk menjaga identitas bangsa.
Mulai dari pilihan konten yang dibuat, sikap dalam berkomunitas, hingga keputusan kecil yang dilakukan setiap hari, semuanya menjadi bukti bahwa nilai luhur bisa tetap hidup tanpa harus meninggalkan gaya hidup modern.
Generasi ini membawa warna baru, lebih spontan, lebih kreatif dan lebih dekat dengan realitas digital namun tetap memiliki arah yang jelas dalam menjaga nilai kebangsaan
Generasi Z mungkin tumbuh dalam dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya, tetapi itu tidak membuat mereka kurang berbudaya. Mereka hanya memiliki cara baru, yang kreatif dan fleksibel.
Dengan begitu, Pancasila tidak hanya menjadi teks yang dibaca, melainkan nilai yang benar-benar hidup ditengah generasi masa kini.
Penulis: Rahma Adiatama
Mahasiswa Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Setiawati S.Pd.,M.H
