Health

Ketika Hidup Tidak Sesuai Rencana : Peran Kepercayaan Takdir dalam Kesehatan Mental

×

Ketika Hidup Tidak Sesuai Rencana : Peran Kepercayaan Takdir dalam Kesehatan Mental

Sebarkan artikel ini

Oleh : Hana Fitria Khairun Nisa
Program Studi Psikologi-Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Tidak sedikit orang tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup akan berjalan baik jika sudah direncanakan dengan matang. Seperti pendidikan yang diatur secara bertahap, membayangkan bahwa karier yang didapatkan akan stabil, dan kebahagiaan diyakini akan datang setelah semua usaha itu tercapai. Seolah-olah, selama manusia berusaha dengan keras, kehidupan akan mengikuti arah yang telah ditentukan. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang justru mendapati hidup yang tidak sejalan dengan apa yang diinginkan. Seperti rencana pendidikan yang gagal, kesulitan mendapatkan pekerjaan, atau kehidupan yang awalnya terasa nyaman tiba-tiba berubah karena suatu peristiwa yang tidak terduga. Pada titik inilah, manusia sering merasa bahwa hidup itu tidak adil dan melelahkan secara batin, karena terjadi ketidaksesuaian antara harapan dengan realitas. Dalam sudut pandang psikologi hal ini lah yang kerap menjadi pemicu awal munculnya stres dan juga tekanan batin.

Ketika harapan manusia tidak sejalan dengan kenyataannya, perasaan kecewa, cemas, dan sedih menjadi respon alami yang dilakukan oleh manusia. Kondisi ini berkaitan dengan kajian psikologi yang disebut dengan psychological distress atau tekanan psikologis, yaitu keadaan ketika seseorang merasa kewalahan dalam menghadapi tuntutan hidup. Tidak sedikit orang mulai mempertanyakan tentang nilai dan manfaat dari usaha yang telah dilakukan. “Untuk apa selama ini aku berusaha keras?” atau “Mengapa hidupku tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan?” menjadi pertanyaan yang berulang kali terlintas di dalam benak. Jika kondisi ini dibiarkan dalam jangka waktu yang lama tanpa pemahaman yang mendalam, tekanan emosional dapat berkembang dan menjadi gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan atau bahkan perasaan putus asa.

Dalam Islam, ketidaksesuaian antara rencana manusia dengan realitas hidup kerap dialami oleh banyak orang. Keyakinan terhadap takdir mengajarkan bahwa tidak semua hal yang ada di dalam dunia ini dapat dikendalikan oleh manusia. Dari perspektif psikologis, pemahaman ini dapat membantu individu dalam membatasi keinginannya untuk mengontrol segala hal secara berlebihan yang sering sekali memicu tekanan emosional, karena pada dasarnya terdapat aspek kehidupan yang jauh di luar jangkauan dan pemahaman manusia. Pemahaman tentang ini bukan bertujuan untuk menghentikan usaha seseorang, melainkan sebuah cara untuk dapat membantu manusia tetap tenang dan sehat secara mental ketika kehidupan tidak sesuai dengan harapan.

Kepercayaan terhadap takdir memberikan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi kegagalan. Cara pandang ini berhubungan dengan coping mechanism, yaitu bagaimana strategi seseorang dalam menghadapi tekanan dan kegagalan. Kegagalan manusia tidak lagi dilihat sebagai akhir dari segalanya, melainkan dilihat sebagai bagian hidup yang dapat memberikan makna dan pengalaman. Dalam perspektif ini, manusia tetap bertanggung jawab dalam usahanya sebaik mungkin, namun hasil dari usahanya diserahkan kepada Allah SWT. Sikap inilah yang dapat membuat hati seseorang tidak mudah hancur ketika rencana hidupnya tidak sesuai dengan apa yang diperkirakan.

Beberapa penelitian yang ada di Indonesia juga menjelaskan bahwa keyakinan religius, termasuk kepercayaan terhadap takdir, dapat membantu individu dalam menghadapi tekanan hidup. Hal ini dikenal dengan religious coping, yaitu keyakinan yang digunakan seseorang untuk mengelola stres dan emosi negatif. Keimanan manusia memiliki peranan yang sangat penting sebagai landasan batin dalam menumbuhkan ketenangan, mengurangi kecemasan, serta membantu individu dalam menerima takdir dengan lebih ikhlas. Dalam kondisi ini, iman berfungsi sebagai penompang bagi kesehatan mental, bukan sekedar ritual spiritual.

Islam juga mengajarkan bahwa ada takdir yang tidak dapat di ubah oleh manusia, seperti kelahiran, kematian, dan kiamat. Namun, ada juga takdir yang masih bisa diusahakan perubahannya melalui usaha dan juga doa. Kesadaran ini dapat membantu manusia agar tidak mudah terjebak pada rasa bersalah yang berlebih atas kegagalannya atau dikenal juga dengan self-blam. Pada saat yang sama manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Manusia diajak untuk terus berusaha tanpa harus mengendalikan segalanya, dengan menjadikan sikap ikhlas, sabar, dan tawakal sebagai kunci dalam menjaga keseimbangan mental.

Ikhlas dapat membantu seseorang dalam menerima kenyataan tanpa terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Penerimaan ini juga sangat berkaitan dengan acceptance, yaitu kemampuan dalam menerima keadaan tanpa penolakan emosional yang berlebihan. Sabar dalam mengelola emosi menjadi fondasi yang penting agar manusia tidak terjebak dalam keputusasaan, melainkan mampu mengelola emosi secara tenang dan juga bijaksana. Tawakal mengajarkan manusia bahwa setelah berusaha sebaik mungkin, hati perlu berserah diri dan bergantung kepada Allah SWT. Doa, zikir, dan muhasabah menjadi sarana penting untuk dapat menenangkan pikiran serta memperkuat kondisi emosional ketika menghadapi kesulitan hidup.

Kepercayaan terhadap takdir juga dapat membantu seseorang dalam menemukan makna di balik peristiwa sulit. Dalam psikologi, proses ini dikenal sebagai meaning-making, yaitu upaya individu memberi makna pada pengalaman atau peristiwa hidup yang sulit. Musibah dan kegagalan tidak selalu bermakna hukuman, tetapi dapat menjadi cara Allah mendewasakan hamba-nya. Dengan cara pandang ini, individu lebih mampu mengelola emosi, menjaga hubungan sosial, dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur yang lebih besar. Pada akhirnya menerima takdir bukanlah kepasrahan pasif, melainkan proses aktif dalam membangun ketahanan mental dan spiritual. Ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, percaya kepada takdir dapat menjadi kunci utama yang menenangkan hati. Dari situlah manusia belajar bahwa ketenangan tidak selalu lahir dari hidup yang sempurna, tetapi dari hati yang mampu menerima dan memaknai setiap perjalanan hidup dengan bijak.