Oleh: Nailah Deliani Tsaraya, Mahasiswa Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Malang.
DEPOKPOS – Setiap tahunnya, dunia industri kembali menyuarakan keluhan yang sama: lulusan perguruan tinggi dinilai belum siap terjun ke dunia kerja. Mereka dianggap kurang adaptif, minim pengalaman lapangan, dan belum mampu menyelesaikan masalah secara praktis. Di sisi lain, perguruan tinggi merasa telah menjalankan perannya dengan memberikan bekal teori dan dasar keilmuan yang kuat. Ketimpangan ini menimbulkan pertanyaan penting: di mana letak masalah sebenarnya?
Sebagai mahasiswa Teknik Industri, isu ini bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang kami hadapi sejak berada di bangku kuliah hingga memasuki dunia kerja. Kampus sering menekankan pemahaman konsep dan teori, sementara industri menuntut keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi tekanan kerja. Perbedaan orientasi ini menciptakan kesenjangan yang semakin terasa.
Program magang yang seharusnya menjadi jembatan antara kampus dan industri pun masih belum sepenuhnya berjalan dengan optimal. Tidak sedikit mahasiswa yang menjalani magang hanya sebagai formalitas akademik, tanpa keterlibatan nyata dalam proses kerja. Di sisi lain, industri terkadang memandang mahasiswa magang hanyalah sekadar sebagai tenaga tambahan, bukan sebagai calon sumber daya manusia yang perlu dibina.
Sudah saatnya perguruan tinggi dan industri berhenti berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi nyata perlu dibangun, bukan sekadar kerja sama administratif. Kampus dapat mulai menerapkan pembelajaran berbasis studi kasus industri, proyek kolaboratif, serta menghadirkan praktisi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Sementara itu, industri perlu lebih terbuka dalam membina mahasiswa, termasuk memberikan pengalaman kerja yang bermakna selama magang.
Dunia industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah secara nyata. Sebaliknya, perguruan tinggi membutuhkan masukan langsung dari industri agar pendidikan yang diberikan tetap relevan. Tanpa sinergi yang kuat, kesenjangan ini akan terus berulang.
Pada akhirnya, persoalan kesiapan lulusan bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang siapa yang bersedia berbenah. Jika kampus dan industri mampu bergerak bersama, lulusan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai aset berharga bagi kemajuan industri Indonesia.
