DEPOKPOS – Jika di era 90-an atau 2000-an nongkrong identik dengan tawa yang berakhir pusing, kini budaya tersebut sudah mulai redup bahkan mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Mahasiswa atau first jobber sekarang lebih memilih bangun pagi untuk lari pagi atau untuk kopi pagi daripada harus begadang tidak tidur sampai tembus pagi untuk mabuk mabukan.
Kenapa generasi ini menolak tradisi mabuk dan memilih hidup sadar? jawabannya ternyata bukan sekadar tren, tapi mulai tingginya tingkat kesadaran mereka terhadap kesehatan
diri mereka sendiri serta kesadaran mereka akan efek jangka panjang yang akan mereka terima di kemudian hari.
Tren global menunjukkan bahwa Gen Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an dan awal 2010-an memiliki tingkat konsumsi alkohol yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya
pada usia yang sama.
Sebuah riset dari Berenberg Research (2025) memproyeksikan penurunan
konsumsi alkohol Gen Z hingga 20% dibandingkan milenial. Di Indonesia, negara dengan konsumsi alkohol per kapita terendah (0,11 liter/kapita) pada 2023.
Fenomena ini semakin nyata, mereka bukan sekadar menghindari alkohol, melainkan secara aktif mencari alternatif yang mendukung kesejahteraan fisik dan mental.
Inilah yang kita sebut sebagai tren Sober
Curious dan gelombang gaya hidup sehat. Fenomena Sober Curious bukan berarti Gen Z sepenuhnya anti-alkohol, melainkan tentang kesadaran penuh terhadap pilihan mereka
Tren Unik di Kalangan Gen Z ‘Party’ Beras Kencur
Puncak dari kreativitas Gen Z dalam menyikapi Sober Curious adalah munculnya tren yang tak terduga yakni party beras kencur dan jamu-jamuan lainnya, alih-alih shots alkohol kini
banyak yang mencari jamu gendong ibu-ibu yang dinilai lebih sehat dan berkhasiat, mulai bermunculan pula kafe yang menyajikan variasi jamu modern atau bahkan mocktail berbahan
dasar rempah dengan setting yang estetik dan kekinian.
Ini bukan sekadar tren minuman, melainkan pernyataan budaya, gen z menemukan cara untuk mengadopsi kearifan lokal dalam konteks gaya hidup modern yang sehat. Konsep ini menjadi simbol bahwa bersenang-senang bisa dilakukan dengan cara yang unik, sehat, dan bahkan melestarikan warisan budaya.
Selain mulai menjauhi alkohol, Gen Z juga menjadi garda terdepan dalam adopsi gaya hidup sehat secara keseluruhan, mereka menerapkan hidup sehat, dengan banyak minum air putih sebagai kebiasaan utama. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di gym, mengikuti kelas yoga, bersepeda, atau lari marathon.
Motivasinya beragam dari menjaga penampilan di media sosial, mengurangi stres akademik dan pekerjaan, hingga investasi jangka panjang untuk kesehatan masa depan, mereka memahami bahwa kesehatan mental dan fisik saling terkait.
Media sosial, yang dulunya dituding sebagai penyebab tekanan mental, kini juga menjadi platform edukasi dan motivasi. Komunitas runners, bikers, dan yoga enthusiasts saling mendukung, berbagi tips, dan menginspirasi gaya hidup aktif.
Makanan sehat, smoothie bowl, atau meal prep bukan lagi sesuatu yang membosankan, melainkan konten menarik untuk ditonton.
Tentu saja, tidak semua Gen Z mengikuti tren ini secara ketat, masih ada sebagian yang menghadapi tekanan untuk mengonsumsi alkohol atau terjebak dalam gaya hidup kurang sehat.
Namun, data dan pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas bergerak ke arah yang lebih positif.
Penting untuk diingat juga, bahwa di balik semangat hidup sehat ini, Gen Z juga menghadapi tekanan lain: tekanan untuk tampil sempurna di media sosial, atau kecemasan akan masa depan.
Sehingga, terkadang ada juga yang mencari pelarian ke arah yang kurang sehat (meskipun bukan alkohol) jika tidak menemukan support system yang tepat.
Pergeseran gaya hidup Gen Z ini adalah kabar baik, mereka bukan hanya menciptakan tren tetapi juga membentuk budaya baru yang lebih sadar akan kesejahteraan diri. Dari menolak tekanan untuk minum alkohol, hingga berinovasi dengan ‘party’ beras kencur.
Gen Z Indonesia sedang membuktikan bahwa bersenang-senang bisa sekaligus menyehatkan dan bermakna, ini adalah sinyal kuat bagi industri hiburan, makanan, dan minuman untuk beradaptasi.
Pada akhirnya, Gen Z mengajarkan kita bahwa “keren” itu bukan lagi tentang seberapa banyak kita bisa bersenang-senang secara instan, melainkan seberapa bijak kita berinvestasi pada diri
sendiri, baik secara fisik maupun mental.
Mereka adalah generasi yang tidak takut untuk mendefinisikan ulang apa artinya “hidup bebas” di era digital.
Ata Rahmatul Ula
