TULUNGAGUNG – Generasi Z Indonesia kini tengah menciptakan revolusi baru dalam dunia fashion Tanah Air. Kebaya, busana tradisional yang selama ini identik dengan acara formal seperti pernikahan dan wisuda, disulap menjadi outfit sehari-hari yang stylish dengan dipadukan celana jeans.
Survei Urban Banking 2024 yang dilakukan Mandiri Institute pada Oktober 2024 terhadap 1.500 anak muda perkotaan Indonesia menunjukkan bahwa fashion menduduki peringkat kedua (48%) dalam minat belanja Gen Z setelah kebutuhan pokok. Data ini membuktikan bahwa generasi muda memiliki daya beli signifikan di industri fashion, dan kini mereka mengalihkan perhatian pada warisan budaya lokal.
Euforia Hari Kebaya Nasional Menggaet Generasi Muda
Antusiasme masyarakat terhadap peringatan Hari Kebaya Nasional yang ditetapkan pada 24 Juli melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 kian meningkat, dengan euforia yang meluas hingga ke generasi muda yang bangga mengenakan kebaya sebagai identitas nasional.
Tidak lagi hanya dikenakan saat kondangan, kebaya kini menjadi pilihan Gen Z untuk hangout di kafe, kuliah, bahkan sekadar jalan-jalan. Di media sosial, tagar #KebayaJeans dan #KebayaSehari-hari viral dengan jutaan tayangan, membuktikan bahwa tren ini bukan sekadar sesaat.
Kenyamanan Jadi Prioritas Utama
Tren kebaya-jeans bukan tanpa alasan. Survei Jakpat yang dilakukan pada 6-9 Desember 2024 terhadap 1.155 responden Gen Z di Indonesia mengungkap fakta menarik tentang preferensi berpakaian generasi muda.
Data menunjukkan bahwa 76% Gen Z mengutamakan kenyamanan dalam berpakaian, diikuti harga terjangkau (63%), kualitas dan daya tahan bahan (60%), kesederhanaan yang tetap menarik (58%), ukuran yang pas (57%), kemudahan memadupadankan (47%), serta praktis dan mudah dirawat (45%).
“Preferensi Gen Z dalam berpakaian tidak hanya didorong oleh tren, tetapi juga oleh kebutuhan praktis, nilai ekonomis, dan kesadaran terhadap keberlanjutan,” demikian kesimpulan survei yang dipublikasikan GoodStats.
Kebaya-jeans menjawab semua kebutuhan tersebut: anggun, nyaman, dan tetap menghargai warisan budaya.
Inovasi Kunci Menarik Gen Z
Jumarni Fare, Chief Executive Officer Bumi Wastra Nusantara, menjelaskan bahwa kebaya telah bertransformasi menjadi gaya hidup urban.
“Kebaya saat ini bukan saja tentang budaya, namun menjadi gaya hidup urban. Banyak di antara wanita Indonesia saat ini bangga dan memilih kebaya sebagai outfit mereka dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Jumarni.
Ia menyebutkan bahwa kebaya jaggan, encim, dan kutu baru sebagai contoh yang kerap digunakan, baik dalam bentuk desain asli maupun modifikasi modern.
Menanggapi fenomena Gen Z yang kembali melirik kebaya, Jumarni mengatakan, “Justru Gen Z saat ini lebih suka berkebaya. Relevansinya adalah karena mereka sudah kenyang dengan modernitas. Sekarang mereka ingin mencari sesuatu yang klasik sebagai identitas mereka. Dengan berkebaya, ada proud tersendiri.”
Untuk lebih menarik perhatian generasi muda, Jumarni menekankan pentingnya inovasi. “Kebaya itu sendiri sudah menarik bagi mereka. Namun jika ditambah dengan modifikasi seperti penggunaan bahan spandex yang nyaman, motif yang dirancang dengan teknologi AI, serta desain yang tidak membatasi ruang gerak, maka kebaya bisa menjadi pilihan utama dalam keseharian. Aspek keberlanjutan juga menjadi nilai tambah yang penting bagi Gen Z,” jelasnya.
Desainer Muda Garap Kebaya Milenial
FA Diajeng Gusti Pangestuningtyas, pendiri brand Dari Diajeng, konsisten mengangkat kebaya sebagai bagian penting dari identitas dan gaya hidup anak muda masa kini.
“Sekarang sudah banyak penggiat yang mengingatkan generasi muda untuk kembali beridentitas dan berbudaya. Salah satunya adalah lewat kebaya yang dimodifikasi mengikuti perkembangan fashion masa kini. Dan itu yang terus kami kembangkan di Dari Diajeng,” ujar Diajeng.
Menurut Diajeng, kebaya sejatinya adalah busana keseharian perempuan Indonesia di masa lalu, sehingga sudah semestinya tetap relevan hingga kini. Ia mengakui tantangan terbesar datang dari maraknya brand fast fashion dan dominasi budaya Barat.
“Kami harus berjuang lebih keras agar anak muda sadar bahwa menggunakan kebaya dan wastra buatan UMKM dalam negeri bisa seindah dan sekeren produk luar negeri,” katanya.
Sementara itu, Thiifa dari brand Nona Srikaya yang didirikan pada 2022, mengusung visi membawa kebaya ke dunia fashion modern tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Kebaya adalah identitas perempuan Indonesia. Tapi kalau kita tidak bisa menjadikannya bagian dari kehidupan modern, ia akan ditinggalkan. Itulah kenapa kami ingin kebaya tidak hanya jadi baju acara pernikahan atau kenegaraan, tapi jadi busana harian yang bisa dipakai siapa saja,” jelasnya dalam talkshow Kebaya Fest 2025 di Jakarta, Juli 2025.
“Kami ingin membawa kebaya ke masa kini tanpa kehilangan esensinya. Melalui warna-warna vibrant, siluet yang dinamis, dan motif atraktif, kami ingin menunjukkan bahwa kebaya bisa jadi sangat personal dan relevan dengan kehidupan sehari-hari,” tambah Thiifa.
Influencer Jadi Motor Penggerak
Fenomena kebaya-jeans di kalangan Gen Z juga didorong oleh para influencer yang aktif mempopulerkan tren ini di media sosial. Salah satu kreator yang konsisten adalah @rumroijen atau akrab disapa Mbak Yu.
Melalui daily vlog, ia memperkenalkan kebaya encim dan berbagai jenis kebaya lain dengan sentuhan trendi, mengajak anak muda menjaga warisan budaya sambil tetap tampil stylish.
Rania Maheswari Yamin, cicit pahlawan nasional Mohammad Yamin sekaligus putri Keraton Mangkunegaran Solo, juga berperan besar dalam mengubah pandangan Gen Z terhadap kebaya.
Dengan lebih dari 413 ribu pengikut di Instagram, Rania rutin membagikan konten OOTD (Outfit of The Day) berkebaya dalam berbagai aktivitas sehari-hari—dari kuliah, hangout di kafe, hingga jalan-jalan.
“Karena aku hampir setiap hari gunakan kebaya dan kain, aku cuma ingin memberitahu bahwa jangan sampai pakai kebaya itu di acara formal saja, tapi biasakan keseharian juga. Kita bisa jadi sejarah berjalan gitu pake sesuatu yang sudah dibanggakan sejak dulu untuk dipake sehari-hari terutama kuliah, yang masih ngampus, mahasiswa semoga kalian lebih sering berkain lagi,” ungkap Rania.
Ia membuktikan bahwa berkebaya tidak harus mahal. Rania kerap membeli kebaya thrift dari pasar dan mendukung produk UMKM lokal.
Media Sosial Jadi Katalisator
Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi katalisator utama dalam menyebarkan tren ini. Banyak kreator fashion membagikan inspirasi OOTD kebaya encim dengan jeans yang dipadukan sneakers atau flat shoes, membuat tampilan makin modern dan praktis.
Kebaya encim yang dulunya identik dengan acara resmi dan memberi kesan anggun serta formal, kini tampil fleksibel. Saat dipadu jeans baggy, boyfriend, atau wide leg, busana ini menghadirkan kesan elegan sekaligus santai yang cocok untuk aktivitas sehari-hari.
Fenomena ini dianggap sebagai bentuk “rebranding” kebaya agar lebih dekat dengan generasi muda. Motif bunga halus dan potongan kebaya yang menawan kini viral di berbagai unggahan media sosial.
Brand Lokal Berlomba Hadirkan Koleksi Milenial
Beberapa brand lokal berlomba menghadirkan koleksi kebaya yang sesuai dengan selera Gen Z. Sejauh Mata Memandang, yang didirikan Chitra Subyakto sejak 2014, dikenal karena mengangkat nilai-nilai budaya dan keberlanjutan dalam setiap koleksinya.
Brand ini menawarkan berbagai jenis kebaya dengan desain beragam, dari kebaya panjang hingga kebaya pendek, serta outer kebaya yang dapat digunakan sebagai lapisan luar.
Setiap kebaya dirancang dengan memperhatikan detail dan kualitas, menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan.
Roemah Kebaya Vielga (RKV) Blooming bekerja sama dengan desainer muda Nadyne Okalani meluncurkan koleksi “Pristine Dream” yang dirancang untuk menjembatani gap antara tradisi dan gaya hidup modern.
Desain kebaya dalam koleksi ini sangat fleksibel, memungkinkan pemakainya menggunakannya sebagai outer yang dipadukan dengan layering kebaya bertumpuk atau sebagai atasan kasual dengan jeans.
Kain Menggah Agung juga dikenal sebagai salah satu merek pakaian yang menjual berbagai model kebaya kekinian dengan fokus pada kain tekstil bermotif Rang Rang yang unik dan cantik.
Tantangan dan Peluang
Meski tren ini menunjukkan perkembangan positif, Jumarni Fare menggarisbawahi pentingnya edukasi sejarah dan nilai kebaya agar tidak kehilangan jati dirinya.
“Tantangan terbesar adalah legacy. Tidak banyak budayawan dan kulturalis yang terus menggaungkan soal kebaya pakem klasiknya, cerita di baliknya, dan asal-usulnya. Gen Z perlu histori, mereka perlu diedukasi dengan narasi dan aksi nyata,” ujar Jumarni.
Siklus tren yang sangat cepat juga menjadi tantangan tersendiri. Brand harus lincah merespons tren agar tidak ketinggalan. Selain itu, edukasi tentang sustainability perlu terus dilakukan karena tidak semua konsumen memahami konsep ramah lingkungan.
Namun, di balik tantangan tersebut, peluang juga terbuka lebar. Gen Z yang menuntut produk lebih personal, cepat, inklusif, dan ramah lingkungan membuka ruang bagi brand lokal untuk terus berinovasi.
Tren kebaya-jeans di kalangan Gen Z membuktikan bahwa warisan budaya bisa tetap relevan di era modern. Kombinasi antara anggun dan kasual ini tidak hanya menjawab kebutuhan fashion generasi muda, tetapi juga menjadi medium pelestarian budaya yang lebih menyenangkan dan praktis.
Dengan dukungan data survei, inovasi para desainer, dan peran aktif influencer di media sosial, kebaya kini telah bertransformasi dari sekadar busana adat menjadi fashion statement yang membanggakan.
Seperti yang dikatakan Thiifa dari Nona Srikaya, “Kami ingin menunjukkan bahwa kebaya bukan hanya milik masa lalu, tapi juga masa depan.”
Asty Hidayah dan Amelia Mahmud
