Scroll untuk baca artikel
Health

Bikin Kaget! Begini Pola Merokok Orang Dewasa Indonesia di GATS 2021

×

Bikin Kaget! Begini Pola Merokok Orang Dewasa Indonesia di GATS 2021

Sebarkan artikel ini
Bikin Kaget! Begini Pola Merokok Orang Dewasa Indonesia di GATS 2021

Fakta yang Selama Ini Kita Abaikan

Siapa sebenarnya yang paling sering merokok di Indonesia? Apakah anak muda, orang dewasa, laki-laki, atau perempuan? Pertanyaan ini mungkin jarang kita pikirkan, mengingat jumlah perokok yang tinggi sudah bukan hal baru lagi.

Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 memberikan jawaban yang sangat mengkhawatirkan dan harus menjadi perhatian seluruh masyarakat dan juga pemerintah.

Sedikit Tentang Datanya

Global Adult Tobacco Survey (GATS) adalah platform survei yang dirancang khusus untuk memonitor penggunaan tembakau di negara-negara dan didukung oleh World Health Organization (WHO). Survei GATS 2021 di Indonesia dilaksanakan melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan RI dan WHO yang melibatkan sebanyak 9.156 responden, berfokus pada individu berusia di atas 15 tahun atau didefinisikan sebagai “dewasa”.

Berdasarkan laporan GATS 2021, ada sekitar 70,2 juta orang dewasa di Indonesia yang saat ini menggunakan produk tembakau.

Angka ini setara dengan 34,5% dari seluruh populasi dewasa, menunjukkan bahwa penggunaan tembakau bukan lagi sekedar kebiasaan individu.

Hal yang lebih mencengangkan, alih-alih mengalami penurunan seiring upaya pengendalian tembakau, jumlah pengguna tembakau dewasa justru mengalami peningkatan absolut.

Dibandingkan dengan data GATS 2011, dalam kurun waktu satu dekade, jumlah perokok dewasa bertambah sebanyak 8,8 juta orang.

Dominasi Lama di Tengah Perubahan Baru

Pola merokok orang dewasa di Indonesia sangat didominasi oleh laki-laki, dengan prevalensi penggunaan tembakau mencapai 65,5%. Angka ini berarti hampir dua dari tiga laki-laki di Indonesia adalah pengguna tembakau.

Di sisi lain, angka prevalensi pada perempuan sangatlah rendah, hanya 3,3%. Tidak hanya rokok konvensional, angka penggunaan tembakau ini mencakup seluruh produk tembakau.

Salah satu temuan yang memicu kekhawatiran adalah pergeseran perilaku menuju produk tembakau yang baru. GATS 2021 mengungkap lonjakan dalam penggunaan rokok elektronik (vaping), yang meningkat 10 kali lipat dalam satu dekade, dari 0,3% pada 2011 menjadi 3,0% pada 2021.

Temuan perilaku lainnya yang mencolok adalah tingkat keterpaparan asap rokok pasif yang ekstrem di ruang publik (74,2% di restoran dan 44.8% di tempat kerja). Angka ini menjadi refleksi nyata bahwa perlindungan terhadap non-perokok belum menjadi prioritas, menunjukkan adanya kegagalan kebijakan dan penegakkan hukum di lapangan.

Saat Semua Tahu Bahayanya, Tapi Tak Semua Bisa Menghindarinya

Melihat bahwa kerugian tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, namun juga mereka yang tidak pernah berniat merokok sejak awal, yaitu perokok pasif, persoalan ini menjadi jauh lebih kompleks daripada sekedar pilihan pribadi.

Perokok pasif menghirup asap bukan karena keinginan, tanpa pilihan dan bahkan tanpa perlindungan. Bayangkan anak-anak yang sedang bermain di taman, orang-orang yang sedang bersepeda menikmati udara segar di jalanan, bahkan ibu hamil yang hanya ingin membeli ikan di pasar untuk kebutuhan harian, semuanya ikut menjadi korban dari tindakan tidak bertanggungjawab oknum perokok yang menganggap kebiasaannya tidak merugikan.

Yang membuat ironinya lagi adalah karena semakin terlihat bahwa masyarakat sebenarnya sudah sadar akan risiko merokok. Sebagian besar orang dewasa percaya bahwa merokok dapat menyebabkan kanker paru-paru (85,1%), serangan jantung (79,7%), PPOK (70,3%), stroke (49,5%), hingga kelahiran prematur (46,3%).

Bahkan, 80% orang dewasa meyakini asap rokok yang dihirup perokok pasif dapat memicu penyakit berbahaya, dan 67,8% lainnya percaya bahwa rokok elektronik pun bisa menyebabkan penyakit serius.

Pengetahuan ini juga didukung oleh paparan informasi tentang bahaya dan risiko rokok ada dimana-mana, seolah mustahil rasanya jika ada yang tidak mengetahuinya.

Namun meskipun ungkus rokok sudah penuh gambar mengerikan, iklan layanan masyarakat ada di mana-mana, dan papan reklame terang-terangan menulis “Merokok Membunuhmu” asap rokok tetap mengepul dan jumlah perokok terus bertambah. Artinya, masalah ini bukan lahir dari ketidaktahuan, dan ini bukan lagi soal rokok itu sendiri, tetapi pada pola sosial yang mendukung keberadaannya.

Kenapa Rokok Begitu Melekat pada Laki-Laki?

Bagi banyak laki-laki, rokok bukan sekadar benda, tapi simbol penerimaan sosial. Di warung kopi, pos ronda, atau ruang istirahat kantor, merokok seperti bagian dari standar kejantanan. Menolak rokok sering dianggap aneh, seolah memilih udara bersih adalah keputusan yang perlu dipertanyakan.

Di sisi lain, rokok juga menjadi pelarian dari tekanan hidup. Stres pekerjaan, ekonomi yang menyesakkan, dan waktu istirahat yang minim membuat sebatang rokok terasa seperti obat penenang instan, meski hanya ilusi.

Menariknya, pola ini berbeda pada perempuan, norma sosial yang ketat membatasi perilaku mereka, dengan dalih merokok adalah perilaku yang tidak mencerminkan citra feminim bagi seorang perempuan.

Jadi, masalah merokok tidak bisa dipandang hanya sebagai pilihan individu, melainkan bagian dari budaya yang menjadikannya identitas, pelarian emosional, dan simbol ketenangan, sebuah budaya yang sulit lepas oleh peringatan kesehatan.

Satu Batang Hari Ini, Harga Mahal di Masa Mendatang

Mungkin satu batang rokok terasa tidak berarti apa-apa hari ini, namun tidak ada yang tahu efek apa yang akan dirasakan di esok hari, mungkin bisa beda lagi. Bukan hanya dapat merenggut nyawa, merokok juga dapat menguras isi dompet, uang yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari malah ikut terbakar dengan menyalanya api rokok.

Waktunya Perubahan, Demi Masa Depan
Maka janganlah menunggu esok hari terkena dampak buruk. Mulailah perubahan itu hari ini, dan dari diri sendiri untuk berhenti merokok. Satu keputusan ini dapat menjadi langkah awal demi masa depan yang lebih baik, sehat, dan kuat. Karena pada akhirnya , rokok rokok bukan hanya soal apa yang kita hisap, tetapi apa yang kita wariskan. Lebih baik mulai sekarang, sebelum asap yang kita biarkan hari ini berubah menjadi warisan yang tak pernah kita inginkan di hari nanti.

Penulis: Mikraj Sepzki Nur Muslimah, Aisyah Salsabila, Betari Salwa Insani, Azwa Widyawati