DEPOKPOS – Perilaku merokok masih menjadi masalah besar di dunia, termasuk di Indonesia (1).
Menurut laporan WHO, jumlah pengguna produk tembakau memang menurun secara global, tetapi masih ada lebih dari 1,2 miliar orang dewasa yang merokok (1).
Di tengah kondisi global tersebut, Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah perokok dewasa tertinggi di dunia, yaitu sebesar 38,7% dari populasi dewasa (2).
Di Indonesia, perbedaan jumlah perokok antara laki-laki dan perempuan sangat mencolok. Sekitar 73,2% laki-laki dewasa adalah perokok, sedangkan jumlah perokok pada perempuan angkanya hanya sekitar 3,3% (3).
Remaja menjadi kelompok yang paling rentan, terutama usia 15–19 tahun yang memiliki proporsi perokok tertinggi (4).
Paparan asap rokok meningkatkan kemungkinan terjadinya berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung karena pembuluh darah tersumbat, stroke, diabetes tipe 2, asma, infeksi telinga, infeksi pada saluran pernapasan bagian bawah, kanker payudara, serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) (5).
Bahaya paparan asap rokok tidak hanya dialami oleh perokok aktif, tetapi juga oleh non-perokok yang menghirup asapnya di lingkungan sekitar (6). Paparan ini terbukti dapat meningkatkan risiko kanker paru lebih dari 20% (6).
Meskipun dampak kesehatan dari paparan asap rokok sudah jelas, perilaku merokok tetap dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang memengaruhi seseorang untuk merokok tidak hanya berasal dari luar diri, tetapi juga dari dalam diri, salah satunya adalah tingkat pengetahuan (7).
Pengetahuan menjadi salah satu faktor penting yang berperan memengaruhi keputusan seseorang untuk merokok atau tidak (8). Orang yang memahami bahaya asap rokok biasanya lebih menghindari perilaku merokok (9).
Namun, tingkat pengetahuan masyarakat mengenai bahaya asap rokok masih belum merata. Di beberapa daerah dan kelompok tertentu, merokok masih dipandang sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan bagian dari budaya sosial (10). Akibatnya, paparan asap rokok terhadap non-perokok tetap tinggi.
Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mengetahui bahwa asap rokok berbahaya.
Meski begitu, masih ada sebagian kecil responden yang belum memahami risikonya. Sebanyak 13,8% responden menganggap asap rokok tidak berbahaya, dan 9,3% lainnya tidak mengetahui dampaknya sama sekali.
Ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang bahaya asap rokok belum sepenuhnya merata.
Hasil analisis juga memperlihatkan pola yang cukup jelas. Mereka yang memiliki pengetahuan benar tentang bahaya asap rokok lebih banyak ditemukan pada kelompok yang tidak merokok (71,3%).
Sebaliknya, orang-orang yang tidak yakin atau tidak tahu risikonya justru lebih banyak berada di kelompok perokok.
Pola ini sejalan dengan teori bahwa pengetahuan dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan terkait kesehatan (8).
Namun, ada satu hal penting yang menjadi catatan. Pengetahuan saja tidak selalu membuat orang berhenti merokok.
Dalam data yang sama, sebanyak 28,7% responden sudah memiliki pengetahuan tentang bahaya asap rokok, namun mereka tetap merokok. Fenomena ini juga ditemukan dalam penelitian lain yang menunjukkan bahwa kebiasaan merokok sering dipertahankan oleh faktor lingkungan, kenyamanan, stres, hingga budaya pergaulan (9).
Inilah yang membuat jurang antara “pengetahuan” dan “perilaku” masih menjadi tantangan besar dalam upaya mengurangi paparan asap rokok di Indonesia.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia sudah memiliki pengetahuan tentang bahaya asap rokok.
Meskipun demikian, masih banyak orang yang tetap merokok. Ini membuktikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong seseorang berhenti merokok atau menjaga orang lain dari paparan asap rokok.
Penulis: Aghny Salsabila, Najwa Putri Amalina, Stevy Putri Yonanda, Syakira Azizah Dhia. Mahasiswa FKM UI
Daftar Referensi
1. World Health Organization. WHO Report on the Global Tobacco Epidemic 2025. 2025.
2. World Population Review. Countries with The Highest Smoking Rate 2025 [Internet]. 2025 [cited 2025 Oct 14]. Available from: https://dataindonesia.id/kesehatan/detail/deretan-negara-dengan-tingkat-perokok-tertinggi-di-dunia-pada-2025
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI 2023). 2024.
4. World Health Organization. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia Report 2021. 2021.
5. Flor LS, Anderson JA, Ahmad N, Aravkin A, Carr S, Dai X, et al. Health Effects Associated with Exposure to Secondhand Smoke: a Burden of Proof study. Nat Med. 2024 Jan 9;30(1):149–67.
6. Possenti I, Romelli M, Carreras G, Biffi A, Bagnardi V, Specchia C, et al. Association Between Second-Hand Smoke Exposure and Lung Cancer Risk in Never-Smokers: a Systematic Review and Meta-Analysis. European Respiratory Review. 2024 Oct 13;33(174):240077.
7. A’al Puspita, Sinta Nuriyah Khilwatul Ilmiyah. Influencing Factors of Smoking Behavior Among Adolescents: A Literature Review. World Journal of Advanced Research and Reviews. 2023 Jun 30;18(3):101–4.
8. Arnold JC. An Integrated Model of Decision-Making in Health Contexts: The Role of Science Education in Health Education. Int J Sci Educ. 2018 Mar 24;40(5):519–37.
9. Wibowo M, Sofiana L, Ayu SM, Gustina E, Khoeriyah I. Adolescent Smoking Behaviour Determinants in The City of Yogyakarta, Indonesia. Int J Community Med Public Health. 2019 Nov 27;6(12):5064.
10. Wijaya H, Santoso D. Faktor penyebab perilaku merokok pada remaja di Indonesia. J Kesehatan Masyarakat. J Kesehatan Masyarakat. 2025;12(1):45–53.

